
Pagi itu aku terbangun karena suara berisik dari arah meja makan, setelah kuhampiri ternyata itu suara Pay dan Bams yang sedang berdebat.
"Udah gw bilang telur sama ayam itu duluan telur." Kata Pay.
"Jelas ayam lah, telur kan asalnya dari ayam." Kata Bams.
"Wah ini nih contoh orang nggak makan bangku sekolahan, sebelum jadi ayam kan jadi telur dulu, ya telur lah yang duluan." Kata Pay lagi.
"Wah...Wah setelah sekian lama nggak ketemu dua orang aneh ini berdebat tentang hal yang sangat penting ya, berisik tau." Kataku.
"Nah kebetulan lu bangun Dit, tadi si Bambang ngajak tebak-tebakan pas liat telur mata sapi di atas nasi goreng, masa kata dia ayam lebih dulu ada daripada telur, kalo menurut lu duluan mana Dit, ayam apa telur?" Tanya Pay.
"Maaf ya, saya nggak secerdas kalian berdua, otak saya nggak sampai berpikir sejauh itu." Jawabku sambil menyantap nasi goreng yang ada di atas meja.
"Apaan sih pagi-pagi udah pada berisik." Kata Rai yang bergabung di meja makan.
"Ini Neng, Abang sedang memperdebatkan masalah Negara kita sama si Bambang." Kata Pay berbohong.
"Wah berat banget topik pembicaraan kalian." Kata Kak Sinta yang datang bersama Riri dan Tiwi.
"Iya dong Kak, jelek-jelek gini kami kan ngerti politik, iya kan Bams." Kata Pay dan Bams mengangguk sedangkan aku menahan tawaku mendengar kebohongan mereka berdua.
"Bos Sinta cantik, rasanya kemarin kita belum sempat berkenalan." Kata Bams sambil membetulkan rambutnya yang telah penuh dengan minyak rambut.
"Reni itu sepupuku lho Bams, kamu lupa ya?" Kata Riri pada Bams.
"Eh maaf bos, aku kan hanya ingin berkenalan." Kata Bams tampak ketakutan.
"Oh iya Dit, kamu Kakak kasih libur ya selama Riri ada di sini, semalam Kakak sudah buat pengumuman kok bahwa beberapa hari ini nggak ada pertunjukan live musik." Kata Kak Sinta.
"Wah serius Kak? makasih ya." Kataku.
"Berarti aku juga libur dong Kak?" Tanya Pay.
"Kalau kamu tetep masuk Pay, kamu kan hari ini masuk pagi, kok belum siap-siap, mau berangkat bareng mobilku nggak?" Kata Kak Sinta.
"Yaaah aku kira aku libur, kalau begitu aku ganti seragam dulu Kak." Kata Pay menuju kamarnya.
"Ngomong-ngomong Pak Iwan kemana? Kok nggak ikut sarapan?" Kataku.
"Lagi bersihin mobil bos, katanya nanti akan sarapan sendiri setelah selesai." Kata Bams.
__ADS_1
Setelah sarapan Kak Sinta, Pay dan Rai pun berangkat bersama sedangkan aku berbincang dengan Riri di teras rumah.
"Ibu dan Bapak kapan pulang Dit?" Tanya Riri.
"Besok sore deh kayaknya Ri, kenapa memangnya?"
"Ah nggak apa-apa, aku cuma kangen aja sama Ibu." Katanya lagi.
"Oh iya Ri ntar malem jalan yuk."
"Jalan, kemana?" Tanya Riri.
"Puncak bintang, mau...?" Tanyaku lagi.
"Wah mau banget dong, itu kan tempat kenangan kita dulu." Kata Riri tampak senang.
"Ikut dong." Bams tiba-tiba saja keluar dari dalam rumah sambil menggendong Tiwi.
"Aneh aku, kenapa sih orang-orang di sini seneng banget denger pembicaraan orang." Kataku memelototi Bams dan membuatnya masuk kembali kedalam rumah.
Malam harinya seperti biasa kami makan bersama, setelah selesai aku dan Riri bersiap pergi ke Puncak Bintang.
"Mau kemana kalian udah rapi gitu?" Tanya Kak Sinta.
"Cieee tau deh, yang baru balikan." Ejek Kakakku itu.
Kami pergi dengan menggunakan mobil Riri, sesampainya di sana aku mengajak Riri ke tempat dahulu aku dan dia memohon pada bintang yang jatuh.
"Tempat yang penuh kenangan." Ucap Riri.
"Tumben malam ini nggak ada bintang jatuh, biasanya kalau kita kesini pasti ada." Kataku.
"Mau minta apa emangnya kalau ada bintang jatuh lagi?" Tanya Riri.
"Mau minta supaya aku dan kamu di persatukan." Jawabku.
"Lho, kan sudah, kok minta lagi?" Katanya tampak bingung.
"Di persatukan dalam ikatan pernikahan maksudku, mau?" Tanyaku.
"Mau nggak ya hehehe..."
__ADS_1
Aku kemudian bersimpuh di hadapan Riri, aku mengeluarkan cincin lamaran yang selama ini masih kusimpan untuknya.
"Will you marry me?" Tanyaku sambil membuka kotak cincin itu.
Riri terdiam, hingga tak lama air mata haru menetes membasahi pipinya.
"Adit romantis banget, aku mau....Sangat mau." Jawabnya.
Aku memakaikan cincin itu di jari manisnya, hingga akhirnya kami berpelukan di tempat yang sedang sepi pengunjung itu, tak lama kami mendekatkan wajah masing-masing, hampir saja kami berciuman di tempat itu jika saja tak terdengar suara berisik dari balik semak yang ada di belakang kami.
"Geseran bodoh, kaki gw keinjek."
"Berisik lu, awas aja kalau sampai ketahuan, gw sedot ubun-ubun lu."
Tentu saja aku dan Riri menghampiri suara gaduh itu, karena kami penasaran dengan apa yang ada di sana.
"Kalian..!!!" Kataku ketika melihat siapa yang ada di balik semak itu.
Tampak Rai, Kak Sinta, Tiwi, Bams, Pay dan Pak Dokter yang berada di sana, ternyata sedari tadi mereka sedang mengintip kami berdua.
"Ngapain kalian?" Tanya Riri.
"Hehe maaf Kak, kami cuma penasaran sama hubungan kalian."
"Susah deh punya keluarga kepo gini, ngomong-ngomong Pak Dokter kok ada di sini juga?" Tanyaku yang melihat Pak Dokter.
"Iya Dit, saya tadi memang sudah janjian dengan Kakakmu untuk bertemu di rumah, ternyata dia malah mengajakku kesini, maaf ya Dit aku nggak tau kalau di ajak kesini untuk mengikutimu." Jawab Pak Dokter yang merasa tak enak.
"Nggak apa-apa Dok, wah sepertinya Kak Sinta sebentar lagi dapet pacar nih." Aku meledek Kakakku itu hingga wajahnya memerah.
"Sudah..Sudah, jangan bahas tentang aku, gimana kalau sekarang kita bersantai di puncak itu." Kata Kak Sinta.
Akhirnya malam spesial yang memang sudah kurencanakan untuk melamar Riri dan menghabiskan malam hanya berdua dengannya seketika berubah menjadi tamasya keluarga.
Walau begitu aku senang, senang Riri menerima lamaranku, senang juga mempunyai keluarga yang kompak seperti mereka.
Tak lama Bams dan Pay menyalakan kembang api yang entah mereka dapatkan darimana, membuat langit malam di penuhi warna dan menjadikannya lebih indah, aku menggenggam erat tangan Riri yang duduk di sebelahku dan malam itupun berakhir.
Keesokan sorenya kami menunggu kepulangan Bapak dan Ibu setelah berbulan madu, aku ingin Ibu tahu bahwa aku telah melamar Riri malam hari tadi, aku juga ingin Ibu merestui hubungan kami.
Tak lama sebuah taxi memasuki pelataran, Pay, Bams dan Pak Iwan menuju taxi itu untuk mengeluarkan barang bawaan mereka.
__ADS_1
"Ibuuuuu..." Teriak Riri yang berlari ke arah Ibu dan memeluknya.