
Aku sangat senang hari ini, bagaimana tidak, karena hari ini adalah hari terakhir Tiwi berada di Rumah Sakit, dan hari ini juga Dokter sudah mengizinkannya untuk pulang.
Kami juga sudah melunasi semua biaya perawatan Tiwi selama ini, siang itu kami semua pamit kepada Pak Dokter dan berterimakasih padanya karena telah merawat Tiwi selama di Rumah Sakit.
Sesampainya di kontrakan tampak Rai yang tengah menunggu kami, selama Tiwi di rawat aku memang tak pernah pulang sekalipun ke kontrakan milik Paman itu, ternyata jika kami semua berkumpul kontrakan terasa sangat sesak, aku pun berjanji akan segera mengajak mereka pindah dari sana dan mengontrak rumah yang lebih besar.
Kurasa dengan pendapatanku dan Pay setiap hari di luar gaji lebih dari cukup jika kami akan mencari kontrakan rumah yang lebih besar, walau begitu aku tetap berterimakasih pada Pamanku karena telah mengijinkan kami tinggal sementara di kontrakannya.
Malam harinya selesai mengisi acara di cafe aku berbincang dengan Sinta sebelum pulang, Sinta bilang bahwa Papanya terus menanyakanku, aku pun berjanji esok pagi akan main ke rumahnya, karena kini aku sudah tak menunggui Tiwi lagi di Rumah Sakit.
Keesokan paginya aku telah sampai di rumah Sinta, Sinta dan Papanya menyambutku.
"Kamu sudah sarapan Dit, ayo kita makan bersama." Kata Bapak.
"Iya Dit, mari kita makan." Kata Sinta.
"Wah nggak usah Pak, aku sudah sarapan dengan keluargaku sebelum kesini tadi." Jawabku.
Setelah sarapan Sinta pamit untuk pergi ke cafe dan meninggalkan aku dengan Bapak di rumah.
"Kamu sekarang tinggal di mana Dit?" Tanya Bapak.
"Aku sementara ini tinggal di kontrakan milik Pamanku Pak."
"Lho, bukannya dulu kamu bilang kamu tinggal di rumah di kampung Margasari." Kata Bapak lagi.
Aku menceritakan pada Bapak apa yang terjadi hingga kami memutuskan untuk menjual rumah kami.
"Oh jadi begitu ceritanya, Bapak sangat bangga sama kamu Dit, kamu sudah tumbuh jadi pemuda yang baik." Kata Bapak.
"Iya Pak, kan Bapak juga yang mengajarkanku untuk selalu menolong sesama." Jawabku.
"Lalu sekarang kamu masih mencari rumah kontrakan yang lebih besar untuk keluargamu?" Tanya Bapak.
__ADS_1
"Iya Pak, karena aku kasihan pada Ibu dan yang lain jika harus berdesakan di sana, lagipula aku tak enak pada Paman jika harus menumpang terus."
"Kamu mau tinggal di rumah Bapak yang lain? rumah itu sebenarnya Bapak persiapkan untuk Sinta jika dia menikah nanti, tapi sampai saat ini kelihatannya dia masih asyik dengan dunianya sendiri." Kata Bapak.
"Wah nggak usah Pak, terimakasih, Adit nggak enak hati sama Bapak."
"Adit kamu jangan menolak ya, Bapak memaksa lho." Kata Bapak tertawa.
"Bagaimana jika rumah itu aku sewa Pak, kalau dengan cara itu Adit baru mau terima." Kataku.
"Baiklah jika itu maumu, tapi kamu tak usah memaksakan biaya sewanya, semampu kamu saja." Kata Bapak lagi.
Siang itu aku dan Bapak pergi ke rumah yang dimaksud dengan berjalan kaki, ternyata letaknya tak terlalu jauh dari rumah yang Bapak dan Sinta tempati saat ini hanya beda beberapa rumah, syukurlah sejak bertemu denganku kini keadaan Bapak sudah membaik, aku sangat bahagia karenanya.
"Nah ini rumahnya, memang sedikit kotor hanya tinggal kamu bersihkan sedikit." Ucap Bapak.
"Wah besar sekali Pak, berapa aku harus menyewa rumah sebesar ini."
"Kan sudah Bapak bilang, kamu bayar saja semampumu, kalau tidak ada pun tak apa, kamu tak usah memikirkan uang sewanya." Lanjut Bapak.
Setelah melihat-lihat rumah itu aku pun pamit kepada Bapak untuk mengabarkan hal ini pada keluargaku, sesampainya di kontrakan aku menceritakannya pada Ibu, Ibu terlihat senang karena Ibu pun pasti merasa tak enak hati jika terus menumpang pada Paman.
Setelahnya aku dan Ibu menuju rumah Paman untuk mengabari bahwa esok hari kami akan pindah dan mengucapkan terimakasih untuk bantuannya selama ini.
"Ya sudah kalau itu keputusan kalian, Paman ikut senang mendengarnya." Kata Paman.
"Paman terimakasih ya untuk Paman dan keluarga karena telah menolong keluarga kami saat susah." Kataku.
"Nggak usah terimakasih segala Dit, itulah gunanya keluarga, lagipula dulu saat Ayahmu masih ada dia selalu bantu Paman saat sedang kesulitan, kini tugas Paman membantu kalian sepeninggal Ayahmu." Kata Paman lagi.
"Ngomong-ngomong Iman kemana Paman."
"Lho memangnya kamu nggak tahu, Iman dan Jessica kan kini kuliah di tempat yang sama dengan Rai." Kata Paman.
__ADS_1
"Oh syukurlah kalau mereka masih semangat mengejar pendidikan Paman, aku ikut senang karenanya."
Akhirnya kami pun pamit pada Paman dan Bibiku, malam harinya aku kembali bekerja di cafe milik Sinta.
"Kak Adiiit....Kok nggak bilang sih kalau Tiwi sudah keluar Rumah Sakit, aku kan ingin bertemu anak lucu itu." Kata kelima gadis itu seraya menghampiriku.
"Iya nih Kakak, masa lupa sama kami, oh iya Kakak sekarang tinggal di mana?" Tanya salah satu dari mereka.
"Iya maaf, Kakak bukannya tak mau bilang, tapi Kakak kan memang tak bisa menghubungi kalian karena tak ada ponsel." Jawabku.
"Kalau begitu boleh kami main kerumah Kakak, kami mau bertemu Tiwi." Kata mereka lagi.
"Kebetulan besok Kakak pindah rumah, kalian bisa bantu Kakak kalau begitu."
"Serius Kak, aku seneng dengernya." Kata mereka yang kemudian kembali ke tempat duduknya untuk menyaksikan penampilanku.
"Ciee idola para gadis, cemburu nih aku lihatnya." Kata Sinta menghampiri kami.
"Apa sih Sin pake cemburu segala." Kataku.
"Bercanda Dit, oh iya tadi Papa mengabari katanya kamu besok pindah ke dekat rumah kami ya? Aku sangat senang mendengarnya." Kata Sinta.
"Iya Sin, itu kan karena kebaikan Papamu." Kataku.
Keesokan paginya tampak kelima gadis itu telah sampai di kontrakan untuk membantu kami pindah rumah, mereka bisa kesana karena hari ini kuliah mereka memang sedang libur.
Pindahan pagi itu tak terasa berat sama sekali karena banyak orang yang membantu termasuk Paman dan keluarganya.
"A para gadis itu siapa?" Tanya Rai.
"Kami adalah fans Kak Adit, wah jadi kamu Adiknya Kak Adit ya, cantik sekali." Kata salah seorang gadis itu.
"Hebat banget kamu A, pantas sih kamu bisa punya fans, lagipula mereka cantik-cantik." Sambung Jessica.
__ADS_1
"Terimakasih, kami memang cantik." Kata para gadis itu tertawa.
Kelima gadis itu memang cukup cantik, tapi mereka terkadang aneh, aku hanya menganggap mereka sebagai adikku selama ini, walau terlihat aneh tapi hati mereka semua sebenarnya baik, aku sangat beruntung ada mereka yang menganggapku sebagai idolanya, padahal aku sudah sering bilang jangan mengidolakanku dan kita berteman saja, tapi mereka tak pernah mau dengar, sungguh gadis-gadis yang aneh.