
Hari itu sepulang kerja seperti biasanya aku, Bams dan Pay pulang bersama, dalam perjalanan aku selalu di buat tertawa oleh dua sahabatku itu dengan tingkahnya, bagaimana tidak hal sekecil apa pun bisa menjadi bahan perdebatan untuk mereka.
Sesampainya di dekat pintu gerbang komplek kami melihat ada seorang bapak yang di pukuli oleh beberapa anak muda.
Tentu kami tidak tinggal diam melihat itu, kami pun turun dari mobil untuk melerai perkelahian yang berat sebelah tersebut.
Sepertinya ada 10 orang pemuda yang memukuli seorang bapak hingga jatuh tak berdaya sambil menutupi wajahnya.
"Woy berenti kalian." Ucapku berteriak kepada mereka.
"Ah orang-orang cemen, beraninya keroyokan, lawannya bapak-bapak lagi, sini maju semua." Ucap Pay menantang mereka.
"Belagu lu jamur, lu nggak inget waktu di Panti lawan 4 orang aja lu keok." Kata Bams.
"Sembarangan lu, gw keok karena mereka curang, masa pukul kepala gw pake kayu dari belakang."
Entah mengapa setelah melihat kami para pemuda itu melarikan diri, kami pun menghampiri bapak yang sudah tidak bergerak setelah di keroyok para pemuda tersebut, seluruh tubuhnya penuh luka, tampak darah segar bercucuran dari beberapa bagian tubuhnya.
"Wah kayaknya bapaknya pingsan Dit" Ucap Pay.
"Bams kamu telpon ambulance." Ucapku.
"Oki doki bos." Jawab Bams.
Aku pun membalikan tubuh bapak itu hingga akhirnya wajahnya terlihat jelas, kami semua terkejut ternyata orang itu adalah Pak Slamet, Adik kandung dari Ibu Panti yang tempo hari membuat keributan dengan kami.
"Wah si Slamet, kalau tau dia gw sih ogah bantuin." Ucap Pay.
"Udah kita tinggal aja bos, orang seperti dia nggak pantas buat kita tolong." Kata Bams emosi.
Aku paham betul dengan sikap kedua sahabatku itu, tentu mereka merasa jengkel bila mengingat perbuatan Pak Slamet waktu itu.
"Siapapun orangnya dan apa pun kesalahannya kita wajib menolongnya jika dia sedang berada dalam kesulitan." Ucapku.
__ADS_1
Bams dan Pay terdiam mendengar ucapanku, tak lama ambulance datang dan membawa Pak Slamet yang masih tak sadarkan diri.
Kami mengikutinya dari belakang, sesampainya di Rumah Sakit aku meminta Bams untuk mengabarkan kejadian ini kepada Ibu Panti selaku Kakak dari Pak Slamet.
"Kalau bukan karena lu gw males Dit nolong dia, gara-gara dia juga kan gw sama si klimis sampe masuk rumah sakit." Ucap Pay yang masih emosi.
"Sudahlah Pay, lupakan semuanya bagaimanapun dia adalah Adik kandung dari Ibu Panti, lagipula sekarang dia sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal kan."
30 menit kemudian Ibu Panti datang dan langsung memasuki kamar tempat Pak Slamet mendapatkan perawatan, mungkin karena ikatan batin antara mereka Pak Slamet tiba-tiba tersadar dari pingsannya.
"Kak..." Ucap Pak Slamet ketika melihat Ibu Panti.
"Met, kenapa bisa seperti ini? siapa yang melakukan ini kepadamu." Kata Ibu Panti menangis melihat keadaan Adiknya.
"Maafin Slamet Kak, Slamet sudah jahat sama Kakak."
"Sudah Met, Kakak sudah maafin kamu." Ucap Ibu Panti sambil terisak.
"Nak Adit, Nak Bams, Nak Pay Bapak juga minta maaf pada kalian atas perbuatan Bapak." Ucap Pak Slamet kepada kami.
"Memang kenapa kamu sampai bisa seperti ini Met?" Tanya Ibu Panti.
Pak Slamet pun mulai bercerita, ternyata setelah kejadian malam itu Pak Slamet beserta Pengacaranya pulang ke kediamannya.
Malam itu mereka merayakan keberhasilannya menjual tanah Panti Asuhan tersebut, hingga akhirnya Pak Slamet di berikan minuman oleh si Pengacara hingga tak sadarkan diri.
Pak Slamet tersadar pada pagi harinya dan mendapati semua uang hasil penjualan tanah telah raib, uang itu di bawa kabur oleh Pengacara yang menurutnya bernama Doni.
Pak Slamet mencari Doni ke rumahnya tetapi ternyata dia sudah kabur entah kemana, setelah di tanya pada warga sekitar ternyata rumah itu pun adalah rumah kontrakan dan ternyata Doni bukanlah seorang pengacara.
Pak Slamet terus mencari keberadaan Doni tapi tak juga membuahkan hasil, hingga akhirnya Pak Slamet sendiri di cari oleh pemuda-pemuda yang malam itu di sewanya, mereka meminta bayaran untuk jasanya, malah meminta bayaran lebih karena malam itu banyak dari teman mereka terluka parah.
Karena tak mempunyai uang sepeser pun Pak Slamet lari dari mereka, para pemuda itu mengejar dan memukulinya hingga akhirnya bertemu kami bertiga.
__ADS_1
"Itu adalah karmamu karena menyakiti hati Ibu." Ucap Bams tampak kesal.
"Bams sudah, pakai sedikit hatimu, dia sudah meminta maaf pada kita bukan." Kataku membuat Bams terdiam.
Pak Slamet menangis, dia menangisi dosa yang telah dia perbuat kepada Kakaknya, hingga tak berapa lama Pak Slamet menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Ibu Panti.
Esok harinya jenazah Pak Slamet pun di kebumikan, kami semua mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya, tampak Ibu Panti menangisi kepergian Adiknya itu. Tak berapa lama hujan turun menyamarkan air matanya.
"Mis..Klimis, kayaknya kemarin lu dendam banget sama Pak Slamet, ternyata sekarang nangis juga lu." Bisik Pay.
"Gw nggak nangis mur, minyak rambut gw kehujanan turun ke mata...Pedih." Katanya tersedu.
"Boong banget lu Bambang, masa kena minyak rambut sampe keluar ingus juga." Sahut Pay.
Mendengar percakapan tersebut Riri yang sedari tadi ada di dekat mereka akhirnya mencubit kedua orang itu.
Setelah semua proses pemakaman selesai aku dan Riri berbincang di teras rumah.
"Jahat banget ya Dit orang itu, kalo menurut aku Pak Slamet nekat mencuri dan menjual tanah Panti pasti karena hasutan orang yang mengaku sebagai Pengacara itu." Ucap Riri yang nampak kesal.
"Adit juga berpikir seperti kamu Ri, karena setelah sampai di rumahnya, mendiang Pak Slamet di beri obat tidur yang sepertinya sudah di persiapkan sejak awal, menurutku orang itu memang penipu." Jawabku.
"Iiiih sebel, awas aja kalau sampai ketemu Riri di jalan, bakal Riri tabrak orang itu pake mobil." Katanya masih kesal.
"Hahaha kejam juga ya pacarku ini, tapi kok firasatku mengatakan kalau aku akan bertemu lagi ya sama penipu itu."
"Ok kalau firasat kamu bener dan kamu ketemu sama dia aku titip satu pukulan seperti ini ya." Ucap Riri sambil memperagakan memukul wajahku.
Aku memegang tangannya yang diarahkan ke wajahku hingga akhirnya kami bertatap mata, wajahku menghampirinya dan Riri menutup kedua matanya, bibir kami semakin dekat hingga hampir bersentuhan....Tapi.
"Ehem." Terdengar suara Pay yang keluar dari rumah.
"ya elah Pay, lu lagi lu lagi, seneng banget sih gangguin orang pacaran." Ucapku.
__ADS_1
"Maaf Dit, gw juga nggak tau kenapa momentnya pas mulu, sorry gw mau buang sampah." Jawab Pay sambil berlari masuk kembali.
Lagi-lagi kami hanya tertawa melihat tingkahnya, tak lama Riri Pamit pulang dan malam itu pun berakhir.