Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Jakarta


__ADS_3

Pagi harinya aku pun membereskan barang bawaanku karena hari ini kami akan kembali ke Jakarta.


Lagi-lagi tak kudapati Udin ada di kamar, tetapi kali ini aku sudah hafal pasti dia berada di depan rumah bersama Rai.


"Sarapan Siap." Terdengar suara Ibuku dari arah meja makan dan kami pun segera menuju meja makan.


"Nggak kerasa ya lima hari cepet banget." Ucapku.


"Iya nih Dit Riri kan masih betah di sini, sayangnya besok Riri udah mulai masuk kuliah lagi jadi terpaksa deh harus pulang."


"Kapan-kapan kan bisa kesini lagi, apalagi kalau sampai jadi sama Adit kan bisa sering kesini nengokin Ibu sama Rai." Sahut Ibuku menggoda Riri.


"Eh iya Bu, makasih ya Bu sudah nerima Riri dengan baik di sini."


"Iya sayang." Jawab Ibuku.


"Woy Din lu kenapa masih pagi muka udah kusut gitu?" Tanyaku kepada Udin.


"Aku ra popo." Jawab Udin tertunduk lemas.


Siang itu kami berpamitan pada Ibu dan Rai untuk kembali ke Jakarta, selama perjalanan Udin terlihat sangat lesu dan tidak bergairah.


"Woooy Din kenapa itu muka dari pagi di tekuk Mulu..Kesambet lu?" Tanyaku pada Udin.


"Gak apa-apa gw udah ikhlas." Katanya melantur.


"Ikhlas apanya Din, woy Udin, waaah malah bengong lagi nih orang."


"Gw di tolak Rai." Ucap Udin Lemas.


"Buahahahahahhaa jadi gara-gara itu, syukur deh kalo Rai nolak lu, kan gak jadi sodaraan kita akhirnya."


"Jahat banget sih Adit, kan kasihan Bang Udin lagi sedih..Memangnya Rai bilang apa bang?" Riri ikut kedalam obrolan kami.


"Katanya Rai mau fokus sekolah dulu terus mau lanjutin kuliah jadi belum mau pacaran."


"Lagian lu Din, kenal aja baru beberapa hari maen tembak aja Ade gw, ya jelas lah di tolak. Gw aja yang udah agak lama kenal sama Riri belum berani tuh nembak, takut di tolak hehe."


"Apalagi sih Adit, lagi ngomongin Bang Udin sama Rai juga malah nyambung ke Kita." Ucap Riri malu-malu.


"Tapi gw belom nyerah kok, gw bakal tunggu sampe Rai lulus kuliah." Sambung Udin optimis.


Setelah berkata seperti itu Udin tertidur pulas, dan kutahu dia pasti akan terbangun sesampainya kami di Jakarta.


"Dit besok siang ketemuan di kantin ya, di tempat Nasi uduknya Bi Eha."


"Siap bos."


Pada malam harinya kami sudah tiba di Jakarta. Setelah sampai di rumah Riri, aku dan Udin pamit dengan menggunakan sepeda motor Udin yang memang di titipkan di sana. Setibanya di kontrakan aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur hingga tertidur pulas karena kelelahan.


Siang harinya karena sudah berjanji untuk menemui Riri di kampus akupun menuju kesana pada saat mendekati jam istirahat. Sesampainya di sana kulihat Riri dan ketiga temannya sedang berbincang lalu kemudian salah satu dari mereka memberikan sebuah tas yang terlihat masih baru untuk Riri. Setelah melihat kedatanganku ketiganya pergi meninggalkan kami.


"Lagi Ultah kamu Ri? Wah aku ngasih kado apa ya." Kataku kepada Riri.


"Ngga kok Dit, aku dari dulu emang mau banget tas ini karena dapetin nya susah lalu temenku ngasih ini ke aku tapi nanti juga aku balikin kok...Udah gak minat."


"Wuiiih temen-temen kamu baik ya, itu kan tas mahal puluhan juta kalo gak salah, beruntung kamu punya temen sebaik mereka."

__ADS_1


Riri terdiam, entah apa yang dia pikirkan hingga akhirnya Bi Eha dan Pak Iwan menghampiri kami.


"Lho Pak Iwan kok ada disini? biasanya sesudah nganter Riri langsung pulang." Ucapku.


"Iya Nak Adit sekarang Bapak bantu-bantu disini sampai Non Riri bubaran kuliah, maklum lah bantu-bantu calon Istri."


"Calon istri Pak?" Tanyaku dan Riri serentak.


"Iya Non, Nak Adit calon istri Bapak yang waktu itu bapak ceritakan ya Bi Eha ini."


Setahuku Bi Eha memanglah seorang janda yang ditinggal Cerai oleh suaminya, itu terjadi jauh sebelum anak kandungnya meninggal karena kecelakaan.


"Lha kok bisa Pak?" Aku bertanya pada Pak Iwan.


"Iya Nak Adit, sewaktu Nak Adit sakit kan Bapak sering antar-jemput Bi Eha untuk bergantian menjaga kamu, dari sanalah perkenalan kami di mulai dan berlanjut sampai sekarang."


"Waduh, berarti sakit aku membawa berkah ya pak hehehe."


"Ya udah nih Adit sama Riri makan dulu udah Bibi buatin Nasi uduk spesial....Gratis..tis..tis..tis."


Aku dan Riri dengan senang hati mendengar kabar baik tersebut. Bagaimana tidak, karena kedekatan kami bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain.


"Wah udah bel tuh Dit, aku masuk dulu ya kamu tunggu di sini aja, ntar sore anter Riri ya."


"Kemana Ri?"


"Ada deh, pokoknya tunggu Riri, awas kalo Riri pulang kamu nggak ada."


"Siap bos."


Hari itu aku menunggu Riri disana dengan ditemani Bi Eha dan Pak Iwan yang sedang membereskan tempat jualannya, hingga akhirnya Riri selesai Kuliah pada sore harinya.


"Kita mau kemana sih?"


"Udah ikut aja gak usah banyak tanya, Pak Iwan kunci mobil mana? Bapak nanti langsung pulang kerumah aja ya naik taxi online, aku mau langsung pergi sama Adit soalnya"


"Baik Non." Jawab Pak Iwan.


Kami pun pergi dari tempat itu.


"Ri aku serius nanya kita mau kemana?"


"Mall."


"Kamu mau belanja?"


"Ngga, udah Adit please jangan banyak tanya deh, kamu nyetir aja yang bener."


"Siap bos."


Kami berdua tiba di pusat perbelanjaan terbesar di Selatan Jakarta.


"Sudah sampai nih Bos..Kita mau kemana?"


"Salon."


"Kamu mau nyalon?"

__ADS_1


"Iya tapi nggak mau sendiri."


"Terus? Kamu aneh deh hari ini."


Setibanya kami di depan salon mendadak perasaanku menjadi tidak enak.


"Mbak tolong dong vermak ya cowok ini jadiin tambah ganteng."


"Lho kok aku? Nggak ah udah kaya cewek aja pake nyalon segala." Ternyata inilah hal yang membuat perasaanku tidak enak.


"Adit sayang nggak sama Riri?"


"Sayang."


"Ya udah kalo sayang Adit ikutin aja apa kata Riri hari ini."


"Iya deh iya."


Akhirnya dengan sangat terpaksa aku menuruti kemauan Riri.


"udah selesai nih Ri." Kataku setelah selesai melakukan perawatan.


"Tuh kan apa Riri bilang, Adit jadi tambah ganteng."


"Selanjutnya kita kemana?"


"Butik."


Setelah sampai di butik Riri memilihkan setelan jas berwarna hitam untuk langsung kupakai hari itu juga, sementara dia memilih gaun untuk dirinya. Aku tahu harga di toko itu sangat mahal, tapi entah untuk apa hari ini Riri melakukannya.


Malam harinya ketika di dalam mobil aku bertanya padanya.


"Udah semua nih, sekarang kita mau kemana?"


"Pesta."


"Pesta? Pesta apa Ri?"


"Ulang tahun temen kampusku."


"Waelah Ri kepesta ulang tahun aja Ribet banget kaya orang mau nikahan."


"Ya udah ayo berangkat nanti kita telat."


"Siap bos."


Kami berangkat menuju hotel tempat acara ulang tahun itu berlangsung, dan ternyata bukan tanpa alasan Riri mendandaniku sampai seperti ini, sepertinya tidak sembarang orang yang di undang ke acara ini, karena sepertinya hanya anak-anak orang kaya saja yang ada di pesta ini.


"Dit... Adit...Hei kok malah bengong."


"Malu nggak ada yang kenal."


"Kan ada aku, santai Dit santai."


"Btw kamu cantik banget Ri."


"Adit juga, kalo Rapi begini tambah ganteng."

__ADS_1


"Adit tunggu di sini ya, Riri mau ke toilet dulu."


Setelah Riri ke toilet tanpa sengaja aku bertemu dengan ketiga teman Riri yang ada di kantin tadi siang.


__ADS_2