
"Iya A, aku kesini memang mau menanyakan sesuatu sama kamu." Kata Iman.
"Nanya apa Man, bikin penasaran aja kamu tuh." Jawabku.
"A suka sama Jessica?"
"Lho, kenapa tiba-tiba tanya seperti itu Man."
"Maaf sebelumnya A, soalnya aku sudah suka sama dia sejak lama, aku sudah beberapa kali mengutarakan perasaanku tapi selalu saja di tolaknya, dan siang tadi aku sangat terkejut karena dia mau diajak jalan sama A Adit."
"Aku nggak ajak dia jalan kok Man, tapi dia yang ajak aku."
"Serius A? Padahal selama ini aku selalu ajak dia jalan tapi ada saja alasannya untuk menolak ajakanku." Kata Iman tertunduk lesu.
"Hahahaha kasihan kamu Man."
"A Adit jahat banget ngetawain aku, sepertinya dia suka sama kamu A."
"Maaf Man keceplosan, jadi gimana sekarang kamu masih suka sama dia?"
"Masih A, tapi seandainya A Adit yang dia pilih aku ikhlas kok A, aku ikhlas kalau dia jadian sama Kakak sepupu aku."
"Ya udah....!!!" Kataku.
"Ya udah apa A, ngomongnya setengah-setengah gitu bikin Iman penasaran aja."
"Sengaja Man, biar dramatis kayak di sinetron-sinetron." Jawabku sambil tertawa.
"Terus maksud ya udah tadi apa A? Ya udah kalau Aa mau jadian sama Jessica maksudnya?"
"Bukan..Bukan, maksudku Ya udah aku bantu kamu buat deketin dia."
"Kamu serius A?"
"Yoi, lagian aku belum siap kok untuk pacaran lagi, aku lagi enak ngejomblo."
"Memang kamu nggak suka sama Jessica A, dia kan cantik." Tanya Iman.
"Mungkin kalau dia bukan gadis incaranmu Aa bakal suka, Jessica bukan hanya cantik tapi juga gadis yang baik, suka ya bukan cinta, karena memang aku juga belum siap membuka hati lagi untuk gadis lain."
__ADS_1
"Makasih A, kamu memang Kakak paling baik sedunia." Iman memelukku sebagai ucapan terimakasih.
"Jeruk makan jeruk ya?" Kata Pay yang tiba-tiba berdiri di sebelahku dan melihat kami sedang berpelukan.
"Lu beneran ninja ya Pay, seneng banget muncul tiba-tiba." Kataku.
Tak lama Rai keluar membawa sebuah kabar dari Jessica.
"Eh ada A Iman ya, tumben kesini nggak ngabarin aku dulu." Kata Rai.
"Nggak De, aku emang mau ketemu A Adit aja ada perlu." Jawab Iman.
"Pasti masalah Jessica ya." Kata Rai menebak.
"Siiiip, cocok emang kalian berdua, yang cowok persis ninja, ceweknya bisa baca pikiran orang, dasar pasangan aneh." Kataku menggoda Rai dan Pay.
"Eh ngomong-ngomong soal Jessica tadi dia telpon aku, katanya besok dia dan Mamahnya ngundang kita sekeluarga makan siang bareng di rumahnya." Ucap Rai.
"Nah kebetulan, kamu ikut ya Man." Kataku kepada Iman.
"Lho aku A, nggak usah A, aku kan nggak di undang, nanti Jessica malah marah-marah sama aku lagi." Jawab Iman.
Setelah itu Iman pun pamit untuk pulang sedang aku menuju kamarku meninggalkan Rai dan Pay yang berbincang di teras, di ruang tengah tampak Ibu dan Tiwi yang sedang menonton televisi, aku melewati mereka dan terus melangkah menuju kamar hingga akhirnya langkahku terhenti karena Tiwi memanggilku.
"Kak Adiiiiiit." Katanya berlari ke arahku lalu aku pun menggendongnya.
"Tiwi sayang, kamu belum tidur, masih asik ya nonton TV sama Nenek." Kataku.
"Iya Kak, Kak Adit Kak Lili kemana sih kok nggak ikut kita kesini, Tiwi kan kangen." Ucap Tiwi dengan wajah polosnya.
"Sayang, Kak Riri sekarang sedang pergi jauh, dia ada di luar negeri, mungkin dalam waktu dekat ini kita nggak akan bertemu dulu." Jawabku.
"Tapi Tiwi kan kangen Kak." Kata Tiwi yang kemudian menangis karena ingin bertemu Riri.
Aku sangat mengerti perasaan Tiwi, karena selama ini dia sangat dekat dengan Riri, Riri pun sangat sayang kepadanya ditambah lagi mereka sama-sama ditinggal oleh Ibu masing-masing sedari masih Bayi dan karena itulah Riri selalu memposisikan dirinya sebagai Ibu dari Tiwi karena tak mau Tiwi merasakan nasib yang sama dengannya.
Aku merasa dosaku bertambah lagi karena telah memisahkan ikatan Ibu dan anak yang selama ini mereka jalin, malam itu aku menemani Tiwi hingga ia tertidur di kamarnya lalu aku kembali menuju kamarku.
Lagi-lagi malam ini aku tak bisa memejamkan mataku, terlebih aku memikirkan Riri yang sedang berjalan dengan pria lain di menara Eiffel, seketika aku mengingat kenanganku dengannya di sana, bagaimana bila dia dicium oleh pria itu, seperti aku dahulu, hanya dengan memikirkannya saja membuat dadaku berdegup kencang dan hatiku terasa sakit.
__ADS_1
"Aaaaaarrrrgh gw nggak ikhlas." Kataku berteriak di dalam kamar.
"Nggak ikhlas kenapa lu." Tanya Pay yang ternyata sudah berdiri di depan tempat tidurku.
"Anjay kaget gw, masuk darimana lu tau-tau udah di kamar gw." Kataku terkejut.
"Dari pintu lah, lu kan tadi teriak sambil merem makanya nggak tau gw masuk." Jawabnya.
"Udah sono keluar gw mau tidur." Kataku mengusirnya.
Pay pun menuju keluar dari kamarku dan menghentikan langkahnya di depan pintu kamarku.
"Memendam perasaan itu nggak enak lho, apalagi sampai menutupi perasaan cinta dan berpura-pura benci." Kata Pay sambil mengangkat jempolnya lalu keluar dari kamarku.
"Apaan sih gondrong nggak pantes lu kalo ngomong dengan mimik muka serius gitu." Kataku sambil menutupi wajahku dengan selimut.
Akhirnya malam itu aku tak bisa tidur hingga dini hari, paginya aku terbangun karena ada seseorang yang menepuk-nepuk tubuhku.
"A...A bangun."
"Lho Man, tumben pagi-pagi sudah ada di sini." Kataku ketika melihat Iman membangunkanku.
"A Adit lupa ya hari ini kan kita akan makan siang di rumah Jessica, semuanya sudah nunggu kamu di luar lho A."
"Ini kan masih pagi Man."
"Pagi? A kamu lihat deh sekarang kan sudah jam 11 siang." Kata Iman sambil menunjukan jam yang ada di ponselnya.
"Wah gara-gara semalam nggak bisa tidur aku kesiangan Man, tunggu ya aku mandi dulu." Kataku bangun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
Setelah Rapi aku pun keluar rumah dan keluargaku sudah berkumpul di sana.
"Lho Bu, kok nggak ganti baju, emang Ibu nggak ikut?" Tanyaku pada Ibu.
"Nggak Nak, hari ini langganan Ibu mau ngambil jahitan, kalian saja ya, biar Ibu di rumah."
"Oh ya udah kalau begitu kami berangkat ya Bu."
Kami pun menuju rumah Jessica dengan menggunakan mobil Iman, sesampainya di sebuah rumah mewah Rai meminta berhenti karena dia bilang itu adalah rumah Jessica, benar saja setelah masuk kedalam tampak Jessica dan Mamahnya yang sudah menunggu kami semua.
__ADS_1