Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Adit return


__ADS_3

Waktu kembali mundur pada 3 bulan sebelum kepulangan Riri kembali ke Indonesia.


"Ayo kita berangkat." Kataku mengajak mereka menjenguk Iman yang hari ini sudah pulang ke rumah.


Kami pun menuju rumah Iman hari itu, sesampainya di sana tampak Iman dan Jessica menyambut kami karena memang sebelumnya Rai telah mengabari mereka bahwa kami sekeluarga akan kesana.


"Wuih pengantin baru, gimana Man sudah sembuh total?" Kataku ketika melihat Iman yang kepalanya masih terbalut perban.


"Sudah A, cuma ya ini perbannya masih belum boleh di lepas." Jawabnya.


"A makasih ya." Ucap Jessica.


"Makasih kenapa Jess." Tanyaku.


"Berkat kamu sekarang aku mendapatkan suami yang sayang banget sama aku." Kata Jessica.


"Jangan makasih sama aku Jess, tapi nih sama Rai, kalau dia tak menelpon Iman waktu itu mungkin kamu nggak akan nikah sama Iman."


"A Adit bisa aja, aku kan melakukan ini untukmu dan..." Rai tak melanjutkan kata-katanya.


"Dan siapa?" Tanyaku.


"Dan A Iman lah siapa lagi." Kata Rai.


Iman dan Jessica tampak bahagia dan sepertinya benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hati Jessica, karena seminggu ini dia telah merawat Suaminya itu di Rumah Sakit.


"Oh iya A, berkat kamu juga sekarang Mamah dan Papahku sudah baikan lho, malah sekarang mereka janjian untuk pergi nonton." Kata Jessica lagi.


"Serius kamu Jess, aku ikut seneng dengernya, berarti kejadian itu bisa menyatukan dua pasangan ya, kamu dan Iman juga Mamah dan Papahmu." Jawabku yang senang mendengar kabar itu.


"Ngomong-ngomong Mamah dan Papamu mana Man." Tanya Ibu.


"Mamah dan Papa ikut nonton sama orangtuanya Jessica Bi." Jawab Iman.


"Wah pasangan besan sudah akrab kelihatannya." Kata Ibu disambut Tawa kami.


Setelah itu kami pun pamit dan kembali pulang, siang itu aku dan Pay tak pergi mengamen kami berbincang di teras hingga tak lama Rai mendapat kabar tentang beasiswanya.


"A...Baru saja Wali kelasku mengabari bahwa program beasiswaku diterima dan Minggu depan aku sudah mulai masuk kuliah." Kata Rai.


"Serius kamu De, selamat ya." Kataku memeluk Adik kesayanganku itu.


Pay yang melihat kami berpelukan membetulkan rambutnya lalu menghampiri Rai, dia mengulurkan tangannya untuk memberi selamat pada kekasihnya itu, tapi baru saja dia akan memberikan selamat Rai berbalik memasuki rumah, sepertinya dia hendak menyampaikan kabar gembira itu pada Ibu.

__ADS_1


"Ah sial gagal...!!!" Kata Pay tampak kecewa.


"Gagal apaan Pay." Tanyaku.


"Dapet pelukan." Katanya sedih.


"Hahahaa ngarep banget kayaknya lu." Aku pun menggodanya.


Malam harinya saat telah larut aku tak bisa tertidur karena malam itu terasa sangat panas, aku lalu keluar rumah untuk mencari udara segar, aku berdiri di depan teras tanpa melihat di sana ada Rai dan Pay, aku lalu menoleh ke arah mereka berdua, tampak Rai dan Pay tengah menutup kedua matanya, mereka saling berhadapan dengan wajah yang berdekatan.


"Ehem." Kataku.


Akhirnya Rai yang telah menyadari kehadiranku membuka matanya dan berlari kedalam rumah karena malu, sementara Pay yang tak mendengar masih memejamkan matanya, aku pun lalu duduk di sebelahnya.


Pay masih belum menyadari bahwa Rai telah pergi dari tempat itu dan kini aku menggantikannya duduk di kursi teras, wajah Pay terus mendekat ke arahku, kebetulan sekali ada seekor kucing yang melintas di bawah kakiku, aku meraih kucing itu dan mendekatkannya pada wajah Pay hingga akhirnya Pay mencium kucing tersebut.


"Neng, kok amis-amis berbulu gitu ya rasanya." Kata Pay yang masih terpejam.


Aku menahan tawaku, Pay pun akhirnya membuka matanya dan melihat seekor kucing tepat berada di hadapannya, Pay berteriak hingga kucing itu kaget dan mencakar mukanya, sontak saja Pay berteriak lebih keras karena kesakitan, membuat Ibu keluar rumah dengan menggendong Tiwi karena terkejut.


"Kenapa Dit." Tanya Ibu.


"Nggak tau nih Bu, si Pay kesurupan kayaknya." Jawabku masih dengan memegang kucing itu.


"Adit kamu kok begitu, kan kasihan Nak Pay." Kata Ibu setelah melihat kucing yang ada di tanganku.


Malam itu pun berakhir, pada keesokan harinya aku dan Pay seperti biasa telah bersiap menuju lokasi tempat kami biasa mengamen, dalam perjalanan hingga sampai di lokasi Pay terus terdiam padaku, sepertinya dia masih marah dengan kejadian semalam.


"Di tekuk Mulu tuh muka, masih marah ya?" Tanyaku.


"Nggak sih B aja." Jawabnya.


"Iya deh sorry, gw juga nggak sangka tuh kucing bakal nyakar muka lu."


"Di cakar emang sakit, tapi ada yang lebih sakit dari itu." Kata Pay lagi.


"Apaan yang lebih sakit?"


"Gara-gara lu ciuman pertama gw gagal." Katanya.


"Hahaha jadi karena itu, iya gw minta maaf, kan impas jadinya, dulu lu juga sering gagalin gw ciuman sama Ri..." Kataku mengingat masa lalu.


Aku teringat kembali dengannya, dengan kenangannya, membuatku menjadi semakin rindu kepadanya, Riri sedang apa ya di sana, bagaimana hubungannya dengan Dokter itu? apakah mereka kini telah menjadi sepasang kekasih? Apakah Riri masih mengingatku?

__ADS_1


"Woy bengong, ayo kerja." Kata Pay yang menyadarkanku dari lamunan.


"Oh sorry, ayo."


Seperti biasa kami mengitari pusat pertokoan untuk mengamen, dan pada siang harinya kami berhenti untuk makan siang terlebih dahulu.


"Lu kenapa Dit, tadi pagi pas berangkat semangat banget, sekarang jadi layu gini." Ucap Bams.


"Gw lagi kepikiran..." Jawabku.


"Kepikiran apa? Riri ya?"


"Iya..."


"Udah jangan di pikirin, nanti juga si Bambang telpon buat ngasih kabar."


"Iya Pay, abis makan siang kita lanjut lagi ya."


"Siap Bos."


Kami melanjutkannya lagi setelah makan siang usai, dan selesai pada sore harinya.


"Udah yuk pulang." Kataku.


"Tanggung nih Dit, hari ini baru dapet sedikit."


"Mungkin rezeki hari ini cuma segitu Pay, kan masih ada besok."


Baru saja kami bersiap pulang tak lama ponsel Pay berdering dan itu adalah telpon dari Rai.


"Iya Neng Rai sayang, ada apa?" Tanya Pay.


"Bang Pay pulang sekarang!!!" Kata Rai.


"Kenapa? Kamu kangen ya?" Canda Pay.


"Tiwi Bang...Tiwi."


"Tiwi kenapa?" Kata Pay yang kini tampak serius.


"Tiwi tadi terjatuh dan sekarang tak sadarkan diri." Kata Rai panik.


Tanpa banyak bicara Pay menutup telpon itu dan memberitahukan kabar mengenai Tiwi padaku, kami berdua berlari menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum, sudah beberapa lama kami menunggu tapi angkutan umum itu belum juga lewat, Pay yang panik kemudian berlari meninggalkanku sendiri, sepertinya dia memilih untuk berlari sampai ke rumah karena khawatir dengan keadaan Adiknya, aku pun mengikutinya, akhirnya sore itu kami berdua berlari sampai ke rumahku.

__ADS_1


__ADS_2