
Pagi itu setelah sampai di kantor entah mengapa perasaanku sangat tak enak, tak seperti biasanya, rasanya dada ini sesak seperti ada yang mengganjal.
"Kenapa Dit? diem aje daritadi." Kata Pay.
"Nggak tau nih Pay, perasaan gw nggak enak." Jawabku.
"Emangnya lu mikirin apa?" Tanya Pay.
"Gw beberapa kali mimpi yang sama terus Pay, gw sering mimpiin Riri pergi ninggalin gw sambil melambaikan tangan." Kataku.
"Ah nggak usah terlalu di pikirin kawan, namanya juga mimpi, mimpi kan kembang pasir." Ucap Pay mencoba menenangkanku.
"Kembang tidur dodol." Kataku menertawai Pay.
"Hai bos, sendiri aja." Ucap Bams yang baru saja tiba.
"Kok sendiri? ini ada si Pay." Jawabku.
"Oh ada mas jamur toh, aku kira pas baru masuk tadi gantungan pintu." Kata Bams.
"Wah pagi-pagi ngajak berantem, untung aja gw lagi kenyang, kalo nggak gw makan lu pake nasi." Ucap Pay kesal.
"Waw mas jamur galak ya, makanya nikah biar emosinya terjaga." Kata Bams menggoda Pay.
"Sombong lu, mentang-mentang mau nikah, lagian gw heran, kok bisa-bisanya ya Neng Reni kepincut sama kanebo kering kaya lu." Balas Pay.
"Wadaw kanebo kering...Biar kanebo kering kan udah laku mas, mas jamur cepet nikah juga deh, nanti keburu neng Rai nya sadar lho...Ntar keburu pelet mas jamur luntur." Ucap Bams semakin menjadi.
"Udah belum berantemnya? Masih pagi nih." Kataku yang daritadi hanya menyaksikan perdebatan mereka. "Kamu kok masih masuk Bams? kapan kamu mau cuti." Tanyaku lagi.
"Masih sebulan bos nikahnya, nanti dua Minggu lagi aku baru mengajukan cuti panjang, lagian udah selesai semua kok persiapannya, tinggal nunggu undangan jadi." Kata Bams.
Kami beranjak ke ruangan masing-masing, baru saja aku duduk di kursiku, tak lama Kak Sinta datang dan meminta izin untuk menemui klien yang kemarin membuat janji dengannya.
"Dit, Kakak pergi dulu ya." Kata Kak Sinta.
"Tunggu Kak...Lumayan jauh lho bagian timur Jakarta itu, Kakak pergi di temani Pak Iwan aja ya." Kataku.
"Serius kamu? Nanti kamu bagaimana?"
"Aku kan di kantor Kak, nggak kemana-mana, paling juga Kakak sore sudah selesai kan, nanti jemput aku lagi." Kataku.
"Iya sih, ya sudah kalau gitu aku berangkat ya." Ujar Kak Sinta berlalu pergi.
Ketika sendiri lagi-lagi perasaan tak enak itu kembali, mudah-mudahan saja tak terjadi apa-apa nanti, dan mungkin ini hanya perasaanku karena mimpi semalam, kataku dalam hati.
Ketika jam makan siang seperti biasa aku akan makan bersama Pay dan Bams, tapi sebelumnya aku menelpon Riri dari ruanganku.
"Hai sayang." Ucap Riri di sebrang telpon sana.
"Kamu lagi apa sayang? Sudah makan siang?" Tanyaku.
"Belum sayang, aku lagi nunggu Reni, karena tadi katanya mau main ke sini, nanti aku makan bersamanya saja, aku jenuh sendirian di rumah, Tiwi sekolah, kalian kerja." Ucapnya.
"Ok kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa kamu kabarin aku ya."
"Iya sayangku, cintaku, pujaan hatiku..Aku cinta kamu... Bye." Ucap Riri.
"Bye sayang, aku juga cinta kamu." Balasku
Telpon itu pun berakhir, baru saja aku akan keluar dari ruangan untuk menuju kantin tiba-tiba tanpa sengaja lenganku menyenggol fotoku dan Riri yang memang kutaruh di atas meja, terlihat kaca dari frame foto itu pecah.
"Firasat apa ini? Mudah-mudahan ini hanya kebetulan dan tidak terjadi apa-apa pada keluargaku."
Aku menuju kantin kantor dan di sana telah ada Bams dan Pay yang telah menungguku.
"Mau makan apa bos? Biar aku pesankan." Ucap Bams.
"Nggak usah Bams, nanti biar aku pesan sendiri, aku belum terlalu laper kok." Jawabku.
"Tumben Dit, masih kepikiran mimpi itu?" Tanya Pay.
"Iya Pay, dan juga baru saja gw tanpa sengaja menjatuhkan foto gw sama Riri yang berada di meja hingga pecah." Jawabku.
"Udah nggak usah di pikirin Dit, itu semua pasti hanya kebetulan, sekarang lu makan aja dulu." Ucap Pay.
__ADS_1
Betul kata Pay, aku tak seharusnya memikirkan semua itu, justru aku harus berbahagia karena sebentar lagi buah cinta kami akan lahir ke dunia ini, setelah makan aku pun kembali ke ruanganku, baru saja satu jam aku kembali bekerja setelah jam makan siang tadi, tiba-tiba saja ponselku berbunyi, tadinya kukira itu Riri yang menelpon, tapi ternyata telpon itu berasal dari Reni.
"Iya Ren, kenapa?" Kataku.
"Adit, Riri... Riri." Kata Reni.
"Kenapa Riri Ren?" Tanyaku panik.
"Air ketuban Riri pecah, sepertinya dia sedang mengalami pembukaan dan akan melahirkan." Ucap Reni.
"Tu...Tunggu kalau begitu, aku akan pulang."
"Jangan pulang Dit, kamu langsung saja ke Rumah Sakit, aku takut nggak keburu, aku bawa Riri ke Rumah sakit ya." Kata Reni.
"Oke...Oke kalau begitu Ren, aku akan ke Rumah Sakit, tolong jaga Riri baik-baik Ren." Kataku.
Tanpa berpikir panjang aku bersiap menuju Rumah Sakit, sesampainya di parkiran aku baru ingat ternyata mobilku di bawa Pak Iwan untuk mengantar Kak Sinta menemui klien, tak kehabisan akal aku pun menuju ke bagian yang mengurusi keluar-masuk kendaraan kantor.
"Pak, aku mau pakai mobil kantor, sekarang juga." Kataku kepada orang yang mengurusi mobil kantor.
"Eh Pak Direktur, ada apa Pak buru-buru seperti itu." Jawab anak muda itu.
"Isteriku melahirkan, aku butuh mobil secepatnya." Kataku lagi.
"Maaf Pak Direktur, tapi mobil kantor sedang keluar semua." Jawabnya.
"Aaaaah saat seperti ini." Kataku kesal.
Tak lama ada satu mobil kembali ke tempat itu, tanpa banyak berkata aku meminta mobil itu untuk kubawa ke Rumah Sakit.
"Nah beruntungnya aku, aku mau pakai mobil itu sekarang." Kataku dengan sedikit memaksa.
"Ta...Tapi Pak, mobil itu baru saja tadi di bawa ke bengkel karena remnya blong, belum tahu sudah betul apa belum." Katanya.
"Sudah ke bengkel kan? Ya pasti sudah di betulkan lah, pokoknya cepat, aku buru-buru ingin menemui Isteriku di Rumah Sakit." Kataku yang panik karena ingin secepatnya menemani Riri.
"Kalau begitu saya temani Pak, saya takut ada apa-apa di jalan." Katanya lagi.
Akhirnya aku membawa mobil dengan di temani oleh anak muda itu, ku tancap secepat mungkin agar bisa cepat mendampingi Riri melahirkan anak pertama kami, aku tak mengajak Pay atau Bams karena terburu-buru, dalam perjalanan aku menyempatkan diri untuk menelpon Keluargaku di Bandung karena ingin mengabari mereka kabar bahagia ini.
"Ibu...Riri akan melahirkan Bu, sebentar lagi aku akan punya seorang Putra." Kataku senang.
"Sungguh...Kamu serius? Akhirnya cucu pertama Ibu, yang selama ini Ibu tunggu-tunggu." Ucap Ibu terdengar bahagia.
"Wah keponakanku sebentar lagi lahir A?" Terdengar suara Rai di sana.
"Iya De, kamu sebentar lagi jadi Tante-tante." Kataku menggodanya.
"Iiih A Adit, masa Tante-tante, nanti anak kamu panggil aku Aunty ya." Kata Rai senang.
"Iya De, atur aja, kalau gitu sudah dulu ya, A lagi nyetir nih buru-buru." Kataku.
Telpon itu pun berakhir, aku akan menyimpan ponselku pada dashboard mobil tapi alangkah sialnya ponselku malah terjatuh, refleks mataku mengarah pada bagian bawah mobil itu.
"Huuuft ada-ada aja handphone pake jatuh segala, nanti aja deh ambilnya setelah sampai di Rumah Sakit." Kataku sambil mengarahkan pandanganku ke depan kembali.
Alangkah terkejutnya aku ketika melihat jalanan macet tepat di hadapanku, aku mencoba mengerem mobil itu, betapa sialnya karena rem mobil itu ternyata blong, mungkin karena aku membawanya dalam kecepatan tinggi hingga rem mobil itu rusak kembali, jarak mobilku semakin dekat dengan kemacetan itu, aku berkali-kali menginjak rem tersebut tapi sama sekali tak berfungsi, hingga akhirnya ketika aku hampir menabrak mobil paling belakang dalam kemacetan itu, sesaat aku banting stir ke kiri jalan.
Sementara itu di rumah Riri, Reni dalam keadaan panik berencana membawa Riri ke Rumah Sakit tanpa menunggu Adit.
"Tahan Ri, ayo kita berangkat." Kataku sambil membopong Riri di bantu oleh Bibi.
"Aduh Ren...Riri mules." Jawab Riri.
"Iya non, tahan non." Kata Bibi.
"Bi, aku nitip Tiwi ya, sebentar lagi pasti dia pulang dengan mobil jemputanya." Kata Riri.
"Iya non, Bibi akan menunggu non Tiwi di rumah, semoga non dan bayinya sehat ya non." Ucap Bibi.
Aku membawa Riri secepatnya menuju Rumah Sakit, kutancap gas mobilku dengan cepat, karena takut Riri akan segera melahirkan.
"Ri...Tahan, jangan sampe ngelahirin di mobil." Kataku panik.
"Iya Ren... Cepat, sepertinya aku akan segera melahirkan." Jawab Riri.
__ADS_1
Sesampainya di Rumah Sakit Riri segera di tangani oleh Dokter yang ada di sana, dan di bawa ke ruangan untuk melahirkan, aku masih di luar ruangan itu, menunggu Adit datang untuk mendampingi Isterinya. Sudah dua jam aku menunggu tapi Adit belum datang juga, hingga kemudian Dokter keluar dari ruangan itu, sementara Riri di bawa ke kamar VIP setelah melahirkan.
"Gimana sepupu saya Dok?" Tanyaku.
"Baik...Anak dan Ibunya selamat." Jawab Dokter itu dan berlalu pergi.
Aku menyusul Riri ke kamarnya, dalam perjalanan aku berpapasan dengan seseorang yang di bawa dengan ranjang beroda, seluruh tubuhnya telah di tutupi dengan kain hijau Rumah sakit itu, "Sudah meninggal." Ucap Perawat yang membawanya. "Iya soalnya kecelakaannya sangat mengerikan, mobilnya sampai meledak." Kata Perawat yang lain.
Ketika sampai di kamar Riri, tampak di sana Riri terbaring lemas setelah menjalani proses melahirkan.
"Ri..." Kataku.
"Ren...Bayinya laki-laki." Kata Riri lemas.
"Syukurlah kalian berdua sehat." Kataku lagi.
"Ren...Adit mana?" Tanya Riri.
"Belum datang Ri, tadi aku menelponnya tapi ponselnya nggak aktif." Jawabku.
"Kemana ya Adit, apa dia sedang sibuk?" Ucap Riri.
"Entahlah, mungkin ada rapat mendadak." Jawabku.
Tak lama Suster membawa bayi Riri ke ruangan itu untuk di berikan ASI oleh Ibunya.
"Wah lucunya...Ganteng." Kataku.
"Iya dong, kan Papanya juga ganteng." Kata Riri tersenyum.
"Iya deh." Kataku membalas senyumannya.
Aku masih menunggu Adit datang, entah kemana dia, padahal ini adalah hari kelahiran anak pertama yang selama ini dia tunggu, sesekali kulihat keluar Rumah Sakit, takut jika dia tak tahu kamar tempat Riri di rawat, aku pun menelpon Bams, ia pun sama, tak mengangkat telpon dariku.
"Aduuuh, pada kemana sih orang-orang ini, saat penting gini nggak ada satu pun yang bisa di hubungi." Kataku bergumam.
Setengah jam kemudian ketika aku menunggu di depan Rumah Sakit itu tampak Bams dan Pay datang ke Rumah Sakit, aku menemui mereka dan menanyakan keberadaan Adit, mereka hanya diam dan tertunduk, Bams bertanya padaku di mana kamar Riri berada, suaranya bergetar, entah mengapa ia seperti itu.
Aku mengantarkan mereka menemui Riri yang masih bersama anaknya di kamar, Bams dan Pay menghampirinya.
"Eh Bams, Bang Pay, Adit mana? Ini lho anaknya nangis terus daritadi, sepertinya dia mencari Papanya." Kata Riri sambil mencoba mendiamkan anaknya yang sedang menangis dalam gendongan.
Mereka tertunduk, aku hanya menyaksikannya dari pintu kamar itu, tak lama kulihat mereka meneteskan air mata, mereka masih terdiam sambil sesekali terisak.
"Lho kalian kenapa?" Tanya Riri.
"Bos....Yang sabar ya." Kata Bams sambil menangis.
"Sabar? Sabar kenapa Bams? Adit mana?" Tanya Riri panik.
"Bos Adit...Bos Adit meninggal 2 jam yang lalu dalam kecelakaan pada saat menuju ke sini."
Riri terdiam sejenak, seakan tak percaya dengan perkataan Bams dan Pay, aku pun terkejut mendengarnya, merasa tak percaya perkataan mereka, tapi tak lama Kak Sinta datang dan memeluk Riri dan bayinya yang ada dalam dekapannya, dia berkata hal yang sama dengan apa yang di katakan Bams dan Pay, seketika itu tangis kami semua pecah di ruangan itu.
Ya hari itu Aditya Pratama telah berpulang, dia meninggal dalam kecelakaan maut beberapa jam yang lalu, meninggalkan Isteri dan seorang Putera yang sangat dicintainya. Keesokan harinya mendiang di kebumikan dengan diantar seluruh kerabat dan sahabat terdekatnya, Isteri dan Puteranya tak tampak hari itu, karena masih harus berada di Rumah Sakit.
Sementara itu di Rumah Sakit Riri dan bayinya di temani oleh Tiwi dan Bibi, dia terus saja menangis hari itu, mencoba mengikhlaskan kepergian suami yang sangat dicintanya.
"Papa sekarang sudah nggak ada, kamu harus menjadi anak yang kuat, anak yang hebat...Seperti Papamu." Ucap Riri.
Riri memutuskan untuk menjadi wanita yang tegar sejak hari itu, dia membesarkan anak itu seorang diri, tanpa pernah berpikir untuk menikah lagi, karena baginya cintanya hanya untuk satu orang...Yaitu Adit. Jika suatu hari dia merasa rindu pada mendiang suaminya maka dia akan memandangi langit malam...Seperti lirik lagu yang terakhir kali di nyanyikan oleh lelaki yang sangat di cintanya itu. Bahkan dia menuliskan kisah cinta mereka dalam sebuah novel, novel yang akhirnya menjadi best seller setelah terbit.
Beberapa tahun kemudian di sebuah rumah mewah tampak seorang wanita paruh baya yang telah selesai membaca novel, dia di temani oleh Puteranya yang sedang beranjak remaja duduk di sampingnya.
"Jadi begitulah Akhir kisahnya Nak." Ucap Wanita itu.
"Indah Mah...Perjalanan cinta yang sungguh Indah, walau pada akhirnya karaketer utama pria harus pergi meninggalkan Isteri dan anaknya yang baru saja di lahirkan." Kata pemuda itu.
Entah mengapa wanita paruh baya itu kemudian menangis setelah mendengar kata-kata Puteranya itu.
"Tapi Mah, kenapa nama karater utama pria sama seperti namaku, Aditya Pratama Putra, lagipula semua nama karakter di novel itu sama seperti nama semua keluarga kita." Tanya anak itu penasaran.
"Iya Anakku, Mamah memang sengaja menamaimu dengan namanya, agar kamu menjadi orang baik sepertinya." Kata Wanita itu tersenyum.
-TAMAT-
__ADS_1