
Minggu pagi itu lagi-lagi Riri datang kerumah kali ini dia datang pada pukul 06:00 pagi.
"Ayo Dit kita berangkat katanya mau ngamen." Ujar Riri ketika melihatku yang sedang duduk di meja makan.
"Ya ampun anak ini ya kagum lho aku sama semangat kamu, tapi kira-kira juga ini masih jam 06:00 pagi,aku aja baru mau sarapan, belum mandi pula."
"Abisnya kan kamu kemarin nggak bilang lagi berangkat jam berapa, eh aku minta ya rotinya." Katanya sambil mengambil roti yang baru selesai kubuat.
"Rotiku, huh ya udah aku buat lagi deh."
"Hey sama calon istri itu nggak boleh pelit, sana buat lagi."
"Ri semalam dirumah ini ada pencuri lho."
"Serius kamu Dit, terus-terus gimana..Ketangkep pencurinya?" Ucap Riri dengan wajah serius.
"Ketangkep sih, tapi aku lepasin lagi."
"Lho kok dibebasin, emang kenapa."
Aku menceritakan semua yang terjadi pada malam tadi kepadanya.
"Kasihan juga ya Dit, ternyata diluar sana masih ada orang yang terpaksa melakukan kejahatan hanya untuk menyambung hidup."
"Iya Ri, dan kamu tau nggak yang buat aku lucu dari kejadian semalam, ternyata pencuri itu punya penyakit latah hahahaa."
"Adit nggak baik lho ngetwain kekurangan orang."
"Iya maaf, aku harap aku bisa ketemu lagi sama dia dan adiknya, karena sekilas aku melihat orang itu sangat mirip sama sahabatku."
"Sama siapa Dit? Almarhum bang Udin maksud kamu, aku juga mau ketemu dong sama orang itu aku mau bantu adiknya."
"Aku lupa semalam tidak menanyakan alamatnya atau minimal nomor ponselnya, tapi dia bilang suatu saat kami pasti bertemu lagi."
Setelah waktu sudah menunjukan pukul 08:00 pagi aku mengajak Riri untuk berangkat mengamen.
"Ri kayaknya kamu harus ganti baju deh, masa pengamen bajunya branded gitu, merk mahal lagi."
"Yah gimana dong aku kan nggak bawa baju lagi."
"Emang kalau kamu bawa baju lagi kamu punya baju yang cocok buat dipake ngamen? Nggak juga kan, ya udah pake kaos lama aku aja yang dulu biasa aku pakai keliling."
"Hehehe iya deh..Mana bajunya?"
Setelah itu kami berangkat menuju terminal yang tak jauh dari situ.
Sesampainya diterminal itu lalu kami mulai mengelilingi area tersebut, dimulai dari kantin-kantin hingga bus yang sedang berhenti untuk mencari penumpang.
__ADS_1
Setelah beberapa jam berkeliling kamipun berhenti sejenak untuk beristirahat dan menghitung pendapatan kami.
"Wah lumayan Ri dapet banyak." Kataku setelah selesai menghitung uang yang ada di bungkus permen bekas itu.
"Iya Dit, eh Riri haus nih beli minum dulu yuk."
Baru saja kami hendak beranjak dari situ untuk membeli minum, kulihat semua pedagang asongan, pengamen dan anak jalanan yang ada di area tersebut seperti lari ketakutan.
"Bang lari bang ada razia." Kata salah satu pengamen itu kepada kami.
"Razia, wah gawat kalau sampe ketangkep dalam keadaan begini, pasti papa Riri akan marah padaku,ayo Ri lari." Kataku bersiap untuk kabur dari sana.
Baru saja dua langkah aku berlari tetapi Riri malah santai dan masih terdiam ditempatnya berdiri.
Aku kembali padanya dan menarik tangannya.
"Ayo kita kabur." Kataku sambil berlari menarik tangannya.
"Kabur kenapa sih Dit? Tadi pada bilang ada razia..Razia apa memangnya?"
"Razia preman, pengamen, anak jalanan dan pedagang asongan Ri."
"Lho kenapa kita harus lari kita kan bukan preman."
"Kita kan lagi ngamen sayaaaaang."
Karena membawa Riri lariku menjadi agak lambat dan tak lama ada dua orang petugas yang mengejar kami.
"Hei berhenti kalian." Kata petugas itu meneriaki kami.
Kami terus berlari hingga melewati sebuah warung makan dan tiba-tiba disana ada seseorang yang memanggil namaku.
"Adiiiit."
Sontak saja langkahku terhenti karena namaku disebut, setelah menoleh ternyata itu adalah Paijo yang baru saja keluar dari warung makan tersebut.
"Dit ayo sembunyi di dalam." Katanya.
"Lho Pay lu ada disini."
"Udah jangan banyak tanya dulu cepetan masuk, Bu saya numpang ngumpet di belakang ya." Kata Pay kepada pemilik rumah makan itu.
Karena kehilangan jejak kami di sekitaran rumah makan tersebut, kedua petugas itupun mencari sampai kedalam rumah makan itu.
"Bu tadi ada dua pengamen masuk kesini?" Tanya petugas itu pada pemilik warung.
"Oh ndak ada pak." Kata ibu tersebut mencoba melindungi kami.
__ADS_1
Petugas itupun bersiap pergi keluar dari warung tapi Riri secara tidak sengaja menyenggol panci di dapur tempat kami bertiga bersembunyi hingga membuat panci itu terjatuh.
"Ayam..Ayam..Ayam." Kata Pay yang kaget mendengar suara panci yang jatuh itu.
Kedua petugas itu menghentikan langkahnya karena mendengar suara Pay dari arah dapur dan ingin memeriksanya.
Sebelum petugas itu masuk ke dapur Pay lalu keluar dari tempat kami bersembunyi dan mencegah petugas itu masuk ke dapur.
"Eh bapak ada apa pak?" Kata Pay pada petugas itu.
"Tadi suara kamu yang teriak, kamu ini siapa?" Tanya petugas kepada Pay.
"Saya bekerja disini pak dan tadi mau memotong ayam untuk menu makan warung ini tapi ayamnya kabur dan itu membuat saya jadi kaget."
"Oh jadi seperti itu saya kira kamu dua pengamen yang kabur tadi."
Lalu kedua petugas itupun pergi meninggalkan warung tersebut.
"Keluar Dit udah aman." Kata Pay kepada kami.
"Wah makasih lho Pay kalo nggak ada lu pasti kita berdua udah ketangkep, oh iya kenalin ini Riri pacar gw." Kataku sambil mengenalkan Riri pada Pay.
"Kebetulan aja Dit gw lagi beli makan buat ade gw, terus gw liat pengamen sama anak jalanan pada lari ketakutan,pas gw keluar eh lu yang lewat."
Kami bertiga keluar dari warung makan itu setelah berterimakasih pada sang pemilik warung.
"Dit lu kan tinggal dirumah gedongan kok lu ngamen sih?" Tanya Pay yang sedikit bingung.
Akupun menceritakan alasan kenapa kami bisa mengamen hari itu.
"Hahaha aneh emang lu berdua udah enak tinggal dirumah cakep malah ngamen buat mengenang masa lalu." Kata Pay lagi.
"Oh iya Pay sekarang lu mau kemana?"
"Mau pulang anter makanan buat ade gw."
"Kita boleh ikut nggak bang Pay?" Kata Riri kepada Pay.
"Boleh aja neng tapi maaf ya kalo kontrakannya sempit."
Kamipun beranjak dari situ dan menuju ke kontrakan Pay yang berada di belakang terminal itu sepanjang perjalanan hampir semua orang yang kami temui menyapa Pay.
"Wah tenar juga ya ternyata lu Pay dikampung ini."
"Anu Dit, gw kalo dapet hasil lebih dari kerjaan gw selalu gw sisihkan sama orang yang membutuhkan dikampung ini jadi otomatis orang sini pada kenal sama gw."
Sama...Orang ini memang persis Sama dengan sahabatku yang telah dahulu berpulang meninggalkanku ternyata perasaanku semalam tidak salah karena orang ini benar-benar mirip Udin.
__ADS_1