
Tampak Bams bernyanyi dengan memegang sebotol bir di tangan kanannya. Tentu saja dia menjadi bahan tertawaan orang yang menyaksikan pertunjukan malam itu.
Kami yang melihatnya kemudian membawanya pulang menuju hotel dan mengurungkan niat kami menyusuri Malioboro.
"Bams apa-apaan sih kamu, kamu nggak lihat tadi jadi bahan tertawaan orang-orang di sana." Kataku memarahinya.
"Iya nih Bams, mana pake minum beginian segala lagi, kalau Ibu Panti lihat pasti beliau sedih." Ucap Riri sambil membuang bir yang ada di tangan Bams.
"Kalian nggak akan tau sakitnya hati gueeeeh, gimana rasanya di tikung sahabat sendiri." Katanya melantur.
"Apa sih maksudnya Bams." Tanya Riri.
"Kalau bukan temen udah gueh patahin tangan sama kakinya." Katanya semakin meracau tau jelas.
"Bams kok kamu bisa mabuk sih, padahal tadi bir nya masih penuh, paling baru berkurang sedikit." Ucapku.
"Aing maung, maung daharna biskuit." Katanya semakin aneh.
(saya macan, macan makannya biskuit) arti bahasa Sunda di atas.
Karena terlihat semakin kacau kami pun mengantarkannya sampai ke kamar, kami meminta Pak Iwan untuk menjaganya malam ini, karena khawatir dia akan melakukan hal-hal aneh yang lain.
Sesampainya di kamar aku lalu berbincang dengan Pay.
"Pay waktu itu gw bilang siapapun pacar Rai nggak usah minta izin sama gw kan." Ucapku.
"Iya Dit, gw inget." Jawabnya.
"Lu pacaran sama Rai?" Tanyaku.
"Enggg....Ummmm..." Katanya gugup.
"Jujur Pay!!!" Kataku dengan nada sedikit keras.
"Ayam...Ayam... Ayam, iya Dit gw pacaran sama Rai, aduh bikin kaget aja lu."
"Sejak kapan?"
"Waktu Neng Rai mau pulang pas liburan di rumah lu, malam itu waktu gw sama dia dan Tiwi ke minimarket gw nyatain perasaan gw sama dia, awalnya dia nggak jawab apa-apa."
"Terus." Ucapku penasaran.
"Setelah itu gw rajin menghubungi dia lewat telpon dan akhirnya kami jadi semakin deket, hingga 1 bulan lalu gw tembak dia lagi dan akhirnya di terima."
"Pay, gw dukung sepenuhnya lu sama Adik gw, karena lu pilihan hatinya, tapi di sisi lain lu jangan lupain Bams yang suka sama Rai juga, lu berdua itu sahabat gw, lu anggap Bams sahabat juga kan?"
"Iya Dit, walau sering berantem gw itu sebenernya sayang banget sama si klimis sebagai sahabat."
"Coba deh kalian ngobrol, bilang kalau lu sekarang udah pacaran sama Rai, buat Bams ngerti, karena sepertinya dia patah hati banget liat lu sama Adik gw."
"Iya Dit, makasih ya, lu emang sahabat terbaik gw."
"Tapi gw bener-bener nggak nyangka kalau selera Ade gw beginian hahahahaha."
"Beginian apa maksud lu."
"Manusia jamur."
"Wah lu emang samanya kayak si klimis."
Malam itu pun berakhir. Keesokan harinya ketika berkumpul di lobby hotel untuk berwisata mengitari kota Jogja tiba-tiba Pak Iwan turun dengan wajah yang terlihat panik.
"Nak Adit, dan semua, gawat, Bams sakit." Ucap Pak Iwan.
__ADS_1
"Sakit apa Pak?"
"Badannya panas, tubuhnya menggigil."
Kami semua bergegas menuju kamar Bams dan benar saja kata Pak Iwan bahwa Bams sakit.
Tanpa banyak bicara Pay menggendong Bams dan membawanya ke klinik terdekat bersamaku.
Setelah di periksa syukurlah tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan, karena Dokter bilang Bams hanya kelelahan dan banyak pikiran, dia hanya di sarankan untuk istirahat selama beberapa hari.
Hari itu kami mengurungkan niat untuk melanjutkan wisata kami di Jogja karena merasa tak enak kepada Bams, kami tak bisa jika harus bersenang-senang sedangkan dia merasakan sakit, kami pun menjaganya secara bergantian.
Keesokan harinya kami tak merencanakan wisata karena keadaan Bams yang masih sakit, hari itu kami berkumpul di kamar Bams melihat kondisinya.
"Gimana Bams keadaanmu?" Tanyaku.
"Sudah mendingan bos, maaf ya karena aku liburan kali ini jadi berantakan."
"Nggak usah minta maaf Bams, kami semua nggak menyesal sama sekali kok." Ucap Riri.
"Iya Bams, masa kami bersenang-senang di atas penderitaanmu, kami ini kan sahabat kamu." Kataku lagi.
"Makasih bos, saya jadi terhura." Katanya dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba Reni mendapat sebuah ide agar kami tetap bisa merasakan liburan.
"Ya sudah, gimana kalo hari ini Bams aku yang jaga, lagian aku udah sering kok ke Jogja." Kata Reni.
"Wah kalo gitu nanti kami merasa nggak enaknya bukan pada Bams saja, sama kamu juga Ren." Jawabku.
"Nggak apa-apa kok, serius, aku ini sudah hafal semua tempat wisata di sini, sudah sana berangkat, kapan lagi kalian dapat momen libur bersama." Ujar Reni.
"Iya bos nggak apa-apa, kalian pergi saja, nanti kalau kalian semua di sini malah aku yang nggak enak, terutama Bi Eha dan Pak Iwan, mereka kan mau bulan madu ke sini." Ucap Bams.
Akhirnya hari itu dan hari-hari berikutnya kami tetap berwisata tanpa Bams dan Reni, hingga akhirnya hari ini tanggal 31 Desember adalah hari terakhir kami di Jogja karena tanggal 1 Januari kami harus kembali ke Jakarta dan tampak Bams pun sudah kembali sehat.
"Hari ini kita nggak kemana-mana Bams, paling malam nanti kita cuma lihat pesta kembang api di Malioboro." Jawabku.
"Yaaah, padahal aku sudah rapi bos." Kata Bams tampak kecewa.
Malamnya kami merayakan malam pergantian tahun secara terpisah, aku dan Riri memilih untuk berjalan-jalan di Malioboro, sedang yang lain entah berada di mana.
Malam itu tampak Reni yang sedang duduk sendiri di Rooftop hotel, dan tak jauh dari sana ada Pay dan Rai yang sedang mengobrol berdua.
"Kamu cantik malam ini Neng." Ucap Pay.
"Ih bang Pay bisa aja, Rai jadi malu, kamu juga ganteng, cuma rambutnya aja yang kaya jamur." Ucap Rai.
"Biar kaya jamur gini tapi kamu suka kan?" Kata Pay lagi.
"Suka dong, kalau nggak ngapain aku terima Abang." Ucap Rai.
"Ka...Kalian pacaran?" Ternyata tanpa di sadari Pay dan Rai, Bams sudah berdiri di belakang mereka.
"Ba...Bams." Ucap Pay.
"Sejak kapan?" Tanya Bams lagi.
"Bams maaf, gw belum sempet kasih tau lu." Kata Pay.
"SEJAK KAPAN?" Kata Bams berteriak membuat Reni yang berada di dekat situ menoleh pada mereka bertiga.
"Satu bulan yang lalu." Jawab Rai.
__ADS_1
"Selama ini lu nganggep gw apa mur? Kenapa lu nggak bilang, agar gw nggak terus berharap." Ucap Bams.
Bams berlari menjauh dari mereka berdua sambil menutup kedua mata dengan tangannya, entah saat itu dia menangis atau tidak, hingga akhirnya dia terjatuh sebelum sempat meninggalkan atap gedung itu, dia kembali bangkit menahan sakitnya dan berlari turun dari sana, saat itu pasti hatinya lebih sakit daripada luka yang dia rasakan karena terjatuh tadi.
Pay berusaha mengejar Bams dan meninggalkan Rai di atap gedung itu, sebelum akhirnya Reni mencegahnya.
"Bang Pay biar aku aja yang kejar, Abang di sini aja sama Rai." Ucap Reni yang kemudian berlari mengejar Bams.
"Wah gimana nih Neng, Abang nggak enak banget sama si klimis, jelek-jelek gitu kan dia sahabat terbaik Abang selain Kakakmu."
"Sudah Bang percayakan aja semua sama Kak Reni, lagipula cepat atau lambat Bang Bams kan harus tau hubungan kita."
"Ta..Tapi Neng."
Rai memeluk Pay dan tak lama kembang api sebagai tanda pergantian tahun telah di lepaskan ke udara.
"Wah Indah ya Bang."
"Iya neng, malam tahun baru ini terasa lebih indah karena aku melewatkannya bersamamu." Mereka pun bergandengan tangan sambil melihat indahnya langit.
Sementara itu waktu mundur ke 5 menit sebelum kembang api di lepaskan, aku dan Riri sedang menyusuri jalan Malioboro sambil bergandengan tangan.
"Sayang sebentar lagi aku lulus lho." Ucap Riri.
"Lalu?"
"Tepati janji kamu ya."
"Janji? Janji apa ya?"
"Iiiih kamu masa lupa, kamu kan janji setelah aku lulus akan datang bersama Ibu untuk ngelamar aku."
"Emang aku janji?"
Riri melepaskan genggaman tangannya dan berjalan cepat meninggalkanku.
"Riri Puteri Sasmito, apa kamu tau apa yang aku minta saat ada bintang jatuh di menara Eiffel." Ucapku menghentikan langkahnya.
"Aku membuat permohonan agar aku bisa bersamamu selamanya...Sampai maut memisahkan kita."
Riri berbalik ke arahku, dia berlari dan lalu memelukku dengan sangat erat. Tak lama terdengar suara letusan di langit, terlihat kembang api menari dengan sangat indah malam itu.
"Aku berharap malam tahun baru selanjutnya aku bisa memelukmu sebagai Isteriku."
Riri tersenyum dan memelukku semakin erat dan kami pun menyaksikan keindahan langit pada malam ini.
Sementara di tempat lain 5 menit sebelum kembang api di lepaskan tampak Bams yang terdiam di satu jalanan sepi tak jauh dari hotel, dia menunduk meratapi nasib cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Bams." Tiba-tiba Reni sudah ada di belakangnya.
"Iya Ren, kenapa?" Katanya lemas.
"Jika kita cinta sama seseorang dan ternyata tak berbalas itu memang sakit, tapi percayalah, cinta pasti bisa menemukan jalannya sendiri." Kata Reni mencoba menguatkan Bams.
"Sebenarnya aku ikut bahagia bila sahabatku itu bahagia Ren, yang aku kecewa kenapa mereka nggak jujur dari awal, agar aku bisa merelakan rasa cinta ini, padahal niatku malam ini akan mengungkapkan perasaanku."
"Jika Rai bukanlah jodohmu, suatu saat pasti kamu akan menemukan seseorang yang bisa terima kamu apa adanya." Ucap Reni yang kemudian meninggalkan Bams untuk merenungi ucapannya.
"Ren." Kata Bams membuat Reni menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Makasih." Katanya lagi membuat Reni tersenyum dan berlalu pergi.