Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya

Kisah Cinta Pria Miskin & Gadis Kaya
Tersiksa Rindu


__ADS_3

Pagi itu aku pamit kepada Pay, Tiwi juga Tegar untuk pergi mengamen karena memang gitarku kubawa ke Rumah Sakit.


Aku mengamen di deretan toko tak jauh dari Rumah Sakit itu, hingga siang harinya aku berhenti tepat di depan sebuah cafe, tampak seorang wanita yang sedang membereskan meja tamu di depan cafe itu membelakangiku.


"Permisi Mbak." Kataku yang hendak mengamen di sana, tapi wanita itu masih saja sibuk membereskan meja.


Aku mulai menyanyikan sebuah lagu dari band Dygta, tersiksa rindu judul lagu itu, sungguh sebuah lagu yang sangat menggambarkan suasana hatiku, karena memang aku sangat rindu padanya saat ini.


...Sedetik pun aku tak pernah lupakanmu...


...Karena aku terlalu sayang kamu...


...Lihatlah hatiku terluka dan s'makin rapuh...


...Karena kamu kini jauh dariku...


...Apakah kau disana merindukanku...


...Tuhan tolong diriku aku tersiksa rindu...


...Biarku bertemu walau dalam mimpi...


...Karena ku 'tak sanggup lagi...


...Aku tersiksa rindu...


...Lihatlah hatiku luka dan s'makin rapuh...


...Karena kamu kini jauh dariku...


...Apakah kau disana merindukanku...


...Tuhan tolong diriku aku tersiksa rindu...


...Biarku bertemu walau dalam mimpi...


...Karena ku 'tak sanggup lagi...


...Aku tersiksa rindu...


...Hoo-oo...


...Apakah kau disana merindukanku...


...Tuhan tolong diriku...


...Aku tersiksa rindu...


...Biarku bertemu walau dalam mimpi...


...Karena ku tak sanggup lagi...


...Aku tersiksa rindu...


...Aku merindukanmu...

__ADS_1


...(Dygta - Tersiksa rindu)...


Setelah selesai akhirnya wanita itu menoleh padaku.


"Adit." Katanya.


"Lho Sinta, kamu di sini." Jawabku.


Ya wanita itu adalah Sinta, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di tempat itu, aku sangat senang melihatnya, Sinta tampak bertambah cantik, lalu dia mempersilahkanku duduk, kami pun berbincang bersama siang itu.


"Kamu ngapain di sini Dit?" Tanya Sinta.


"Ya seperti yang kamu lihat, aku sekarang ngamen." Jawabku.


"Lho ngamen? Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?"


Aku menceritakan semua yang aku alami dengan Riri kepada Sinta.


"Wah aku nggak sangka ya Pak Suryo seperti itu, padahal selama aku mengenalnya dia adalah orang yang sangat baik." Kata Sinta.


"Oh iya Sin, dulu kamu pernah bilang mau buka cafe, jadi ini cafe kamu?"


"Iya Dit, ini cafeku, kecil-kecilan aja sih, ngomong-ngomong kamu mau minum apa?"


"Gak usah Sin, aku mau lanjut ngamen aja." Jawabku.


"Aaah Adit nggak asik, kita kan baru ketemu, nggak usah malu-malu Dit santai aja."


"Ya udah kalau begitu, Teh manis hangat aja."


"Apa kamu bilang?" Kata Sinta kepada pegawainya itu.


"Iya Bu, baru saja saya mendapatkan kabar." Jawabnya.


Sinta terdiam dan tampak lemas, melihat itu tentu saja aku menanyakan apa yang terjadi.


"Ada apa Sin?" Tanyaku.


"Itu Dit, penyanyi cafe yang setiap malam tampil di sini tiba-tiba saja mengundurkan diri, padahal dia adalah salah satu faktor yang membuat cafe ini ramai setiap malam, apalagi para gadis yang setiap malam datang kesini hanya untuk melihat penampilannya." Jawab Sinta.


"Penyanyi? memang disini setiap malam ada pertunjukan musik?" Tanyaku.


Sinta mengangguk sambil memandang wajahku, tak lama dia melihatku dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Aku punya Ide, gimana kalau malam ini kamu menggantikannya Dit." Kata Sinta bersemangat.


"Aku?"


"Iya, penampilan luar kamu boleh juga, apalagi setelah aku dengar nyanyianmu tadi kayaknya kamu cocok untuk jadi seorang penampil."


"Wah gimana ya Sin, aku nggak pernah nyanyi di depan orang banyak di panggung gitu, kayaknya aku nggak bisa deh."


"Ayolah Dit, Tolong aku, masa kamu tega sama temen lamamu ini." Kata Sinta memohon.


Aku berpikir sejenak, lagi-lagi rasa tak enak hatiku muncul hingga akhirnya aku menyetujuinya.

__ADS_1


"Baiklah Sin kalau begitu, aku bantu kamu." Jawabku.


"Terimakasih Adit, ya sudah sekarang kamu pulang nanti jam 7 malam kamu kesini lagi ya."


Aku pun menuju Rumah Sakit karena memang rencananya aku akan tinggal di sana selama Tiwi masih di rawat, sesampainya di sana tampak Pay dan Rai sedang berbincang, sedang Tiwi di temani oleh Tegar.


"Serius banget ngobrolnya, Ibu mana De, nggak ikut?" Tanyaku pada Rai.


"Ibu sudah pulang duluan A." Jawab Rai.


"Dit, ini uang dari gw dan Rai untuk tambahan kekurangan biaya perawatan Tiwi." Ucap Pay sambil menyerahkan sejumlah uang.


"Lho uang darimana ini Pay." Tanyaku.


"Gw dan Rai jual handphone kita berdua, lalu ditambah tabungan yang selama ini gw kumpulkan." Ucap Pay.


"Kalian jual handphone?"


"Iya A, nggak apa-apa kok, aku ikhlas, kasian kalau kamu berjuang sendiri mencari kekurangan biaya Tiwi." Jawab Rai.


Semua orang sudah berjuang untuk Tiwi, dengan caranya masing-masing, Tiwi beruntung mempunyai keluarga yang sangat sayang kepadanya, tak seperti Tegar yang di tinggal ketika mengetahui dirinya sakit parah, aku pun menghampiri kedua anak itu.


"Hei anak-anak kecil asik banget ngobrolnya, kalian sudah minum obat belum." Tanyaku.


"Sudah Kak." Jawab mereka.


Tak lama Pak Dokter datang untuk mencari Tegar.


"Tegar, kamu ini, sebelum minum obat kamu nggak boleh keluyuran." Kata Dokter itu memarahinya.


"Wah Tegar bohong sama Kakak, katanya tadi sudah minum obat." Kataku.


Tegar tertawa lalu pergi meninggalkan kami bersama dengan Dokter yang sangat menyayanginya itu, tak lama Iman datang menemuiku.


"Eh Man, sama siapa?" Tanyaku.


"Sendiri A." Jawabnya.


"Lho Jessica mana?"


"Dia di rumah sama Papa dan Mama, eh iya A aku kesini cuma mau kasih ini ke kamu." Kata Iman sambil memberikan amplop cokelat kepadaku.


"Apa ini Man?" Aku membuka amplop itu yang ternyata berisikan setumpuk uang.


"Uang apa ini?" Tanyaku lagi.


"Itu uang hasil penjualan motorku A, setengahnya kuberikan untuk membantu biaya perawatan Tiwi, yang setengah lagi akan kubelikan motor matic, karena kasihan Jessica kalau naik motor sport dengan perutnya yang semakin membesar." Jawab Iman.


"Wah Man nggak usah, aku nggak enak nerimanya, bagaimana nanti kata Paman dan Bibi."


"Mereka tahu kok A, Jessica juga, karena aku sudah izin terlebih dahulu kepada mereka, itu semua untuk membalas semua kebaikanmu selama ini sama aku A." Kata Iman yang kemudian pamit untuk pulang.


Hari ini sudah terkumpul sebesar Rp 27.000.000 termasuk uang dari Rai dan Pay, yang berarti tinggal sedikit lagi biaya perawatan Tiwi akan bisa kami lunasi.


Malam itu aku bersiap untuk pergi ke cafe Sinta, ketika akan pergi dari sana aku melihat Tegar sedang berbincang dengan Pak Dokter di depan ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2