
Nino yang mendapatkan kabar buruk tersebut langsung panik dan terus menghubungi Ervan, tetapi Ervan tak pernah membawa ponselnya saat sedang melakukan aksinya
Nino segera menurunkan seluruh orangnya untuk mencari keberadaan istrinya, dan di tempat yang berbeda seluruh keluarga besar Citra sedang tegang menunggu di luar ruang operasi
Ervan yang sudah berhasil mengantongi sebuah nama langsung keluar dari ruangan tersebut dan mencari ponselnya, dia berniat melaporkan hal tersebut kepada Nino. Tetapi hatinya langsung merasa tak nyaman melihat ada banyak sekali panggilan telpon dari Nino dan keluarga besar istrinya
"Selamat malam pak"
"Kamu dari mana aja Van!!?"
"Saya baru berhasil mendapatkan sebuah nama pak"
"Sekar di culik Van!! saya bisa gila sekarang Van!!"
"Saya akan segera kembali secepatnya pak"
"Istri kamu Van" volume suara yang mulai merendah
"Ada apa dengan istri saya pak?"
"Istri kamu sampai saat ini belum sadarkan diri Van"
"Kurang ajar!! saya sudah berusaha untuk menjadi orang yang lebih tapi kalian memaksa saya untuk kembali lagi!!"
"Sekarang juga saya akan kembali pak" dengan tegas
"Kamu harus tenang Van"
Sedangkan di tempat yang berbeda Sekar sedang tergeletak di atas tempat tidur dengan tangan dan kaki yang sudah terikat, sedangkan di dalam salah satu ruangan yang berbeda sang pria misterius baru saja kembali
Prang... Sebuah gelas melayang ke arah dinding dengan sangat keras
"Apa hak kamu memerintahkan hal itu!!?"
Tubuh orang yang ada di hadapannya pun bergetar dengan sangat hebat
"Saya sudah bilang dari awal untuk diam dan ikuti saja permainan saya!!"
"Maaf saya saat itu panik, karena perempuan itu menghalangi mobil kami"
"Dan kamu akhirnya menyakiti seorang wanita hanya untuk melanjutkan rencana kamu" menatap tajam
"Kamu tau kami selalu melakukan hal buruk yang orang perintahkan, tapi kami ga pernah sekali pun menyakiti seorang wanita. Untuk kesalahan kamu ini, kamu harus bertanggung jawab sendiri"
__ADS_1
Ervan di seberang sana langsung kembali ke kota asalnya secepat mungkin, saat itu dia teringat kembali akan mimpi buruk yang sempat hadir di dalam tidurnya
"Kamu sudah janji sama aku, cuma Tuhan yang akan memisahkan kita. Dan aku mohon kamu harus kuat, demi aku dan anak-anak kita sayang"
Ervan langsung memerintahkan orang kepercayaan nya menyelidiki siapa pengkhianat di antara para pengawal, karena dia yakin bahwa jadwal Sekar tidak pernah di rencanakan untuk menghindari hal yang tidak di inginkan. Tetapi mengapa hal tersebut masih bisa terjadi
Setibanya di kota Ervan langsung meluncur ke arah rumah sakit, di sana sudah ada keluarga besar Citra dan juga Nino. Nino yang melihat Ervan dari kejauhan dengan wajah yang mengerikan langsung menghampiri Ervan
"Van kamu harus tenang, ini rumah sakit" memegang tangan Ervan
"Saya sudah berusaha untuk tenang, jadi jangan halangi saya ketemu istri saya" menatap tajam
Nino berusaha untuk mengerti keadaan Ervan dan dia pun melepaskan tangannya, Ervan melangkahkan kakinya ke arah ruang rawat istrinya. Dia bahkan mengabaikan semua orang yang berada di sana dan mulai masuk ke ruang rawat Citra
Begitu Ervan membuka pintu kamar untuk pertama kalinya seorang Ervan merasakan ketakutan, dia langsung terduduk lemas di atas lantai tak sanggup untuk mendekat ke arah tempat tidur Citra. Seluruh keluarga besar Citra hanya bisa meneteskan air mata melihat itu, Nino pun membantu Ervan untuk berdiri
"Kamu harus kuat Van, ingat kita masih punya tugas membalas ini semua" berbisik
Ervan pun bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah tempat tidur Citra, dia melihat istrinya yang terlihat seperti sedang tertidur dengan lelap. Air matanya pun terjatuh dengan sendirinya
Ervan mulai mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping tempat tidur Citra, dengan mata yang sudah berurai air mata dia hanya bisa terdiam dan terus memandangi wajah Citra yang tampak pucat
"Aku akan balas semua rasa sakit yang kamu rasakan berpuluh kali lipat kepada mereka semua"
"Aku ga ijinkan kamu pergi dari aku begitu aja, jadi kamu harus cepat kembali ke sisi aku"
Ervan langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar
"Kamu mau kemana Ervan?"
"Saya akan balas orang yang telah membuat istri saya seperti ini"
"Apa kamu sudah tau siapa yang melakukan hal ini ke anak saya?" memegang bahu Ervan
"Saya pasti akan temukan orang itu di mana pun dia berada"
Ervan langsung meninggalkan ruangan tersebut dan Nino mengikuti Ervan dari belakang, sesampainya di dalam mobil Nino yang mengambil alih untuk mengemudikan mobil tersebut
"Apa kamu udah tau siapa dalang di balik ini semua?"
Ervan terlihat mengeraskan rahangnya
"Apa kamu ga dengar apa yang saya omongin?" penuh penekanan
__ADS_1
"Ricardo Erlangga"
Nino menghentikan mobil tersebut dengan tiba-tiba dan langsung menatap serius ke arah Ervan
"Siapa itu?"
"Adik kamu sendiri"
"Van ini bukan saatnya bercanda" penuh penekanan
"Apa saya masih punya waktu untuk bercanda di saat seperti ini?" menatap tajam
Nino kembali melajukan mobilnya ke kediaman papanya, di sana papanya pun sedang cemas karena sudah menerima kabar buruk tentang sang menantu
Sedangkan di tempat yang berbeda Sekar baru mulai tersadar, dengan tangan dan kakinya yang masih terikat
"Kamu udah bangun?"
"Siapa kamu?" dengan suara yang bergetar
Orang tersebut mendekat ke arah Sekar dan Sekar pun terlihat semakin ketakutan lalu mulai menggeser tubuhnya menjauh
"Ga usah takut, saya ga akan menyakiti kamu. Saya cuma butuh kamu untuk membalas seseorang"
"Siapa maksud kamu?"
Orang itu yang tak lain adalah adik Nino yang berbeda ibu hanya terdiam dan membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Sekar, dia pun berjalan ke arah meja lalu membawa sebuah nampan yang berisikan makanan
"Sebaiknya makan, kalo pun kamu ga punya selera untuk makan lakukan itu demi anak kamu"
"Kenapa aku ngerasa orang ini bukan orang jahat?"
Orang tersebut sudah mulai melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar tersebut
"Tunggu..."
Ricardo pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Sekar
"Apa kamu bisa bebasin aku dari sini?"
"Maaf kamu harus ada di sini, supaya mereka bisa merasakan arti kehilangan seseorang yang berharga bagi hidup mereka"
Pria tersebut pergi meninggalkan kamar itu, Sekar pun mulai meneteskan air matanya merindukan suaminya yang selalu memanjakan dirinya. Sekar mulai mengambil makanan yang ada di hadapannya, karena dia berpikiran untuk tetap bertahan demi anak yang ada di dalam kandungnya
__ADS_1