
Nino hanya bisa meratap di dalam hatinya dengan apa yang dia dengar dan dia lihat pada saat itu
"Ga mungkin bisa lah sayang, mata anak itu biru dan rambutnya kuning. Itu kan bayi orang luar negeri, aku ga bisa bayangin kalo sampe bayi kita nanti lahir kayak gitu"
Nino hanya bisa memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum di hadapan Sekar
"Lucu kan sayang?"
"Iya lucu kok" mencium ujung kepala Sekar
"Gimana caranya supaya anak kita bisa begini ya sayang? aku pengen anak kita nanti kayak gini" memandangi foto tersebut tanpa henti
Nino pun membuang napasnya dengan kasar
"Bayi kita nanti pasti lucu kok bahkan lebih lucu dari bayi itu, tapi ga mungkin sama dengan itu sayang"
"Kenapa?" Sekar mulai memajukan bibirnya
"Coba kamu perhatikan baik-baik, warna rambut dan mata anak itu beda kan sama kita. Ga mungkin dong anak kita bisa lahir begitu"
"Astaga iya sayang aku lupa, kita kan bukan orang bule ya" dengan polosnya
Nino pun dapat bernapas dengan lega, karena apa yang Sekar tonton sekali ini bisa di selesaikan dengan mudah tidak seperti sebelumnya. Nino pun langsung menarik tubuh Sekar ke dalam pelukannya
"Tidur ya udah malam" mencium ujung kepala Sekar dengan lembut
Sedangkan di tempat yang berbeda Rosa sedang menghubungi Alvin dari dalam kamarnya
"Kamu tau ga sayang? tadi kak Nino ancam kita semua"
"Apa yang lain diam aja?"
"Mau gimana lagi? ya walaupun tadinya ada sempat jawab juga. Tapi kan pasti mereka juga takut sama kak Nino, apalagi papanya kak Nino ikut marah"
"Tapi kamu ga kena masalah kan?"
"Enggak sih, soalnya kak Nino tadi ga sebut nama aku di sana"
"Syukur deh kalo kamu ga kena masalah"
"Tadi aku sempat kesal sama kak Rendi sayang"
"Kenapa kamu jadi kesal sama kakak kamu?"
"Ya soalnya kak Rendi marahin aku, dia tau kalo yang di maksud kak Nino itu aku. Terus pake bawa nama si anak supir itu segala buat ancam aku"
__ADS_1
"Anak supir siapa?"
"Itu asisten pribadinya kak Nino"
"Oh..."
"Tapi sekarang aku jadi beneran ga berani buat ganggu perempuan itu lagi sayang"
"Kenapa kamu jadi takut sama asisten pribadi doang? kamu kan masih ada hubungan darah sama Nino"
Di seberang sana Alvin mulai kesal mendengar ucapan dari Rosa
"Soalnya waktu kak Nino udah pergi papanya kak Nino cerita di depan kita semua sayang"
"Cerita apa?"
"Ternyata Ervan itu jauh lebih menakutkan dari pada kak Nino sayang"
"Masa ada anak buah lebih menakutkan dari pada bos nya?"
Alvin seakan tak percaya dengan ucapan Rosa saat itu, karena dia terbayang saat kejadian dulu dia sempat melecehkan Sekar. Hanya Nino yang membabi buta memukul dirinya, Ervan sama sekali tak berbuat apapun
Hal tersebut membuat Alvin meremehkan cerita yang dia dengar dari Rosa, sebuah kesalahan besar yang telah Alvin lakukan
"Bener kok sayang, aku aja sampe ketakutan dengar semua ceritanya"
"Ya sayang, bye..."
"Bye, mimpi indah ya sayang" Alvin memutuskan sambungan teleponnya
Rosa pun langsung tertidur dengan pulas, sedangkan Alvin di seberang sana sedang terbakar emosi mendengar Rosa yang sudah menyerah. Tetapi dia tetap berniat akan membalas semua perlakuan Nino kepada dirinya
"Kalian terlalu sombong jadi orang, sekarang gw lagi kumpulin semua info. Kalo saatnya udah tepat gw akan serang kalian"
Pagi yang indah pun menyapa semua orang di kediaman Nino sudah berada di meja makan untuk sarapan, selesai sarapan Ajeng dan Dimas pun pergi ke sekolah seperti biasanya
Pagi itu Sekar bersikap sangat manja terhadap Nino bahkan lebih manja dari pada biasanya, Nino merasakan Sekar akan melakukan sesuatu yang aneh lagi
Saat Nino akan berangkat ke kantor Sekar pun mengantarkan Nino sampai ke depan pintu, seperti yang biasa dia lakukan. Tetapi hari itu Sekar lebih perhatian lagi, bahkan sampai merapikan dasi Nino yang memang sudah terlihat rapi
"Apa kamu mau sesuatu?"
"Kok kamu tau sih sayang? ya ampun suami aku ini memang paling mengerti istrinya" dengan suara manja
"Aku cuma bisa berharap hal yang kamu inginkan bukan hal yang aneh sayang"
__ADS_1
Nino pun memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum
"Kamu mau apa sayang?"
"Nanti pulang kantor ajak kak Ervan ke sini ya" tersenyum
"Kak? sejak kapan kamu panggil dia kak?" mengerutkan keningnya
"Ya kak Ervan kan lebih tua dari aku, supaya kedengeran lebih sopan aja sayang"
"Dulu kamu paling takut sama dia kamu udah resmi jadian sama aku aja masih panggil dia pak, setelah kamu kecelakaan kamu cuma panggil dia nama. Kenapa sekarang jadi kak?"
"Oke nanti aku minta Ervan buat mampir ke sini"
Sekar pun menunjukkan senyuman terbaik yang dia punya
"Tapi kalo aku boleh tau kamu ada perlu apa sama dia?"
"Ada deh sayang, tapi bukan aku yang mau kok. Ini anak kita yang mau"
"Ya udah nanti aku bilang sama Ervan, tapi tolong jangan minta hal aneh dari dia ya"
"Hal aneh apa sih sayang? ya udah ga usah deh sayang"
Sekar pun mulai menunjukkan wajah sedih membuat Nino langsung tak bisa berkutik lagi
"Kamu sabar ya sayang, papa kamu ga mau kasih apa yang kamu mau" mengelus perutnya dengan ekspresi wajah yang sama
"Jangan sedih dong sayang, nanti aku pasti bawa Ervan ke sini"
"Kamu janji"
"Iya sayang"
"Makasih sayang" Sekar pun langsung mencium tangan suaminya
"Aku cuma bisa berharap kamu ga melakukan hal yang aneh sama dia, kalo dia sampe ga mau turutin kemauan kamu. Aku juga yang bakal repot"
"Aku berangkat kerja dulu ya" mencium ujung kepala Sekar dengan lembut
Nino pun pergi berangkat ke kantor dan di sepanjang perjalanan dia terus memikirkan bagaimana cara menyampaikan ke Ervan, dan yang membuat dia lebih takut adalah apa yang akan Sekar lakukan terhadap Ervan
Nino merasakan pentingnya waktu bersama keluarga, sehingga Nino memberikan perintah kepada Ervan untuk langsung pergi ke kantor. Tanpa harus mengantar dan menjemput dirinya seperti dulu lagi, Nino hanya berharap Ervan memiliki waktu yang lebih banyak bersama keluarga kecilnya
Sesampainya di kantor Nino di buat tak tenang dalam bekerja, Ervan sudah beberapa kalo datang ke ruangan Nino untuk berbagai keperluan. Tetapi Nino masih belum bisa mengucapkan keinginan dari Sekar
__ADS_1
Hingga waktu makan siang pun tiba, Nino masih belum juga menyampaikan hal tersebut kepada Ervan. Dan tiba-tiba saja sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya Nino, dan pesan tersebut di kirim oleh Sekar
"Sayang jangan lupa minta kak Ervan datang ke rumah ya nanti pulang kantor, anak kita mau minta sesuatu dari dia"