
FLASH BACK
Sekar sudah di berada di ruang praktek dengan memalsukan tanda tangan Nino di surat persetujuan melakukan aborsi, rasa takut menyelimuti hati Sekar pada saat itu hingga keringat mengucur deras di keningnya. Tetapi dia berpikir ini keputusan terbaik yang harus dia ambil
Dokter sudah mulai bersiap untuk melakukan tindakan, dan saat semuanya sudah siap tiba-tiba saja Sekar teringat akan semua ucapan Nino pada dirinya. Dan kini hati Sekar menjadi ragu untuk melakukan hal tersebut
"Enggak aku bisa lakuin ini, kak Nino benar bagaimana mungkin aku yang seorang ibu berniat menghilangkan nyawa anak aku sendiri? kak Nino juga pasti akan sedih kalo aku ambil tindakan ini"
Dokter sudah mulai menyuntikkan obat bius terhadap Sekar dan tiba-tiba saja Sekar menggigit dengan kuat tangannya hingga mengeluarkan darah segar agar dia bisa tersadar sedikit lama
"Ibu ngapain?" dokter mulai panik melihat kelakuan Sekar
"Berhenti dok..!!"
"Ada apa bu?"
"Enggak dok saya ga mau menggugurkan kandungan saya, surat persetujuan itu palsu. Papa nya anak ini pasti marah dan akan menuntut kalian semua kalo kalian berani menyentuh anak ini"
"Saya peringatkan kalian, jangan berani sentuh anak saya"
Secara perlahan Sekar mulai kehilangan kesadarannya
"Ada-ada aja, untung saya belum melakukan tindakan apapun"
Sang dokter keluar dari ruang praktek setelah mengobati tangan Sekar dan meminta beberapa penjaga memindahkan tubuh Sekar ke ruang kerjanya, dia pun beralih menangani pasien yang lain
Sekar sedang tak sadarkan diri di ruang kerja sang dokter dan dia pun baru saja selesai melakukan tugasnya, tetapi tiba-tiba saja Nino masuk ke dalam ruang praktek itu dan memberikan dokter tersebut hadiah yang cukup menyakitkan
Sekar yang belum sadarkan diri di bangun kan oleh salah seorang pengawal dan langsung di bawa keluar dari ruangan sang dokter, melihat klinik tersebut sudah di penuhi oleh para pengawal Nino Sekar pun langsung bergegas ke ruang praktek. Sekar pun melihat Nino sudah terduduk di atas lantai sambil berurai air mata
Sekar langsung melangkahkan kakinya ke arah Nino dan dengan cepat Ervan segera menangkap tangan Sekar
"Kamu harus dengerin perasaan dia yang sebenarnya" dengan suara pelan
Sekar pun akhirnya mendengar semua jeritan hati Nino dan tanpa Sekar sadari air matanya terjatuh begitu saja, dan ternyata Ervan saat itu sudah mengetahui bahwa Sekar tak jadi menggugurkan kandungnya dari laporan salah seorang pengawal
Tetapi Ervan tetap melakukan itu semua agar Sekar dapat mengetahui isi hati Nino yang sebenarnya
FLASH OFF
Tanpa perasaan bersalah sama sekali Nino sudah mau membawa Sekar pergi dari tempat itu, tiba-tiba saja Sekar menarik tangan Nino
"Kenapa sayang?"
__ADS_1
"Itu" menunjuk ke arah sang dokter yang masih terduduk di atas lantai dan terlihat ketakutan
"Van"
"Baik pak"
Nino pun langsung menggandeng tangan Sekar keluar dari tempat itu, sedangkan Ervan harus berada di sana membereskan semua masalah yang tersisa
Mereka kini sudah berada di dalam kamar dan duduk bersebelahan di atas sofa, mereka harus berbicara dengan serius agar tak ada lagi kesalah pahaman di antara mereka berdua
"Tangan kamu kenapa?"
"Aku terpaksa gigit tangan aku supaya bisa sadar kak, aku harus larang dokter itu sentuh anak aku"
"Anak kita"
Sekar hanya menganggukkan sedikit kepalanya
"Apa masih sakit? aku panggil dokter ya"
"Ga usah kak ga sakit kok, sekarang kita harus bahas yang lebih penting. Tentang kita ke depannya"
"Sebelumnya aku mau bilang terima kasih karena kamu sudah berjuang pertahankan anak kita, sekarang aku tanya kamu mau aku gimana?"
"Buat apa?"
"Biar kita tau dan ga melakukan kesalahan kak"
"Apa kamu ga bayangin perasaan anak itu nanti? kalo seandainya dia..."
"Aku ngerti kok kak tapi kita sama-sama tau kejadian itu, kalo seandainya anak ini perempuan saat nanti dia mau menikah kamu tetap ga bisa jadi wali anak ini"
"Kita bisa tutupi semuanya dari anak ini" menggengam kedua tangan Sekar penuh harap
"Apa kita juga harus berbohong di hadapan Tuhan?"
"Tapi Sekar anak itu kan ga salah apa-apa"
"Aku ngerti kok perasaan kakak, tapi kita ga bisa begitu kak"
Nino pun akhirnya memutuskan untuk mengalah karena apa yang Sekar inginkan benar adanya
"Ok aku setuju, tapi kalo seandainya benar kita harus cari waktu yang tepat untuk kasih tau anak ini"
__ADS_1
"Iya kak"
"Apa ada lagi?"
"Selama aku hamil kamu harus jadi suami yang siaga, kamu harus turutin semua kemauan aku. Gimana?"
"Tanpa kamu minta pun aku akan selalu berusaha lakuin itu semua" Nino mengelus rambut Sekar dengan lembut
Nino berubah menjadi suami siaga, bahkan Nino akan selalu menemani Sekar untuk periksa kandungan dan berbagai kegiatan untuk ibu hamil lainnya
Nino tak pernah perduli sedikit pun tentang siapa ayah biologis anak tersebut, Nino hanya tau bahwa anak itu akan menjadi anak pertama dari seorang Nino Erlangga
Semakin hari Sekar semakin manja terhadap Nino bahkan dia awal kehamilan Sekar tak bisa berada jauh dari Nino, setiap Nino bergerak sedikit Sekar akan langsung merasakan pusing dan mual. Kehamilan Sekar membuat dirinya sangat candu akan bau badan Nino
Di kesehariannya Nino akan meninggalkan pakaian yang semalam dia pakai untuk Sekar, dan cara tersebut berhasil membuat Sekar tak merasakan pusing dan mual saat Nino tidak ada di sampingnya
Dan pagi itu setelah Nino pergi ke kantor Sekar seharian penuh hanya berada di dalam kamarnya, saat sang kepala pelayan memanggil dirinya untuk makan siang dia pun tetap enggan untuk keluar dari kamar
Ajeng yang sudah kembali dari sekolah melihat keadaan Sekar karena di minta oleh para pelayan yang mulai cemas, Ajeng masuk ke dalam kamar Sekar sambil membawa makan siang yang di bawa oleh salah seorang pelayan
"Kak Sekar kenapa?"
Sekar hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya, sang pelayan pun keluar dari dalam kamar sedangkan Ajeng menemani dirinya. Mereka pun langsung memberikan kabar kepada Nino bahwa Sekar mengurung diri di dalam kamar sambil menangis
Nino yang saat itu sedang melakukan rapat penting langsung kembali ke kediamannya dengan perasaan cemas, dia pun melajukan mobilnya dengan sangat cepat karena merasa khawatir
"Di mana Sekar?"
"Masih di dalam kamar pak"
Dengan cepat Nino pun langsung menuju ke kamarnya, dan setibanya Nino di sana Ajeng pun memilih untuk kembali ke kamarnya
"Kamu kenapa?"
"Aku ga apa kok kak"
"Terus kenapa kamu nangis?"
"Filmnya sedih banget kak"
"Film apa?" mengerutkan keningnya
"Drama Korea"
__ADS_1
Serasa Nino ingin mengamuk saat mendengar penjelasan dari Sekar, tetapi apa daya dia tak bisa melakukan itu semua. Dia pun memilih untuk menemani istrinya yang sedang tergila-gila drama Korea