
Seperti biasa Nino mengantarkan Sekar kembali ke kediamannya dan sesaat sebelum Sekar turun dari dalam mobil Nino langsung membuka suara membuat Sekar mengurungkan niatnya
"Kamu besok pulang dari kampus ga usah ke kantor, langsung pulang aja istirahat" berbicara dingin tanpa menoleh ke arah Sekar
"Kenapa pak?"
"Besok saya kasih kamu tugas temenin Rendi ke acara pesta ulang tahun temannya"
"Tapi pak saya.." Nino langsung menoleh ke arah Sekar
"Ga usah takut dia anak baik ga kayak mantan kamu itu"
"Bukan itu saya jadi pikiran saya pak, apa berarti besok saya ga bisa ketemu bapak?" menundukkan kepalanya
"Ini perintah kerja dari saya untuk kamu besok"
"Baik pak, kalo gitu saya pulang dulu pak"
"Hem.." Sekar segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya
Ada sedikit perasaan kecewa yang di rasakan oleh Sekar karena untuk pertama kalinya dia sangat berharap Nino bisa mengetahui apa yang dia ucapkan di dalam hatinya
"Kita pulang Van"
"Baik pak, tapi apa bapak yakin?"
"Saya harus kasih Sekar dan Rendi kesempatan, kamu ga tau Van rasanya sakit tapi kebahagiaan Sekar jauh lebih penting dari pada perasaan saya. Sekar bilang dia suka sama Rendi Van" membuang napasnya dengan kasar
__ADS_1
Hari itu Sekar hanya pergi mengantarkan adik-adiknya ke sekolah dan kembali ke kediamannya, dia menghabiskan waktu dengan ini dan itu tetapi hatinya masih terasa tidak nyaman karena untuk pertama kalinya dia merasakan ada sesuatu yang kurang di dalam hidupnya
Sekar meminta Rendi menjemputnya agak malam karena dia harus bersiap-siap setelah menjalankan sholat terlebih dahulu, akhirnya Rendi pun menjemput Sekar jam delapan malam
Sedang Nino seharian hanya bisa terus marah-marah tak jelas dan sudah pasti Ervan yang akan menjadi sasaran empuk bagi dirinya, Ervan hanya bisa tertawa di dalam hati melihat tingkah laku Nino. Jauh di dalam lubuk hati Ervan entah mengapa dia merasa cara yang di gunakan Rendi bermanfaat bagi Nino
Nino jari itu memutuskan untuk pulang lebih awal karena semua pekerjaan yang dia lakukan hari itu berantakan, dia tak memiliki konsentrasi untuk mengerjakan apapun. Sesampainya di kediamannya Nino berusaha melakukan segala macam cara untuk memikirkan Sekar dan ternyata itu semua tidak berhasil, dari mulai menonton film hingga tidur pun tidak bisa dia lakukan dengan benar
Nino yang sudah mulai frustasi pun akhirnya mencoba berolahraga untuk melarikan diri dari pikiran yang menghantuinya, Nino berhasil melupakan sejenak semua tentang Sekar yang kini sedang berduaan dengan Rendi. Tetapi itu semua tidak berjalan lama karena tiba-tiba saja
Ting.. Notifikasi ponsel Nino berbunyi, Nino segera meraih ponselnya dan melihat pesan yang masuk
Nino membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna melihat gambar yang di kirimkan oleh Rendi, gambar tersebut adalah buket bunga mawar yang sangat cantik dan bertuliskan sebuah pesan
"Cantik ga kak bunganya? aku mau kasih bunga ini ke Sekar kata orang-orang perempuan suka laki-laki yang romantis, semoga aja malam ini Sekar mau terima aku jadi pacarnya. Doain aku ya kak"
Dalam sekejap emosi Nino tak lagi dapat di bendung, Nino pun langsung membanting ponselnya dengan sangat kuat ke sembarang arah hingga ponselnya tak lagi berbentuk
"Anda baik-baik saja pak?"
"Kami belum pulang?"
"Gimana saya bisa tenang pulang ke rumah kalo keadaan kamu begini? " Ervan hanya terdiam dan berjalan ke arah ponsel yang tergeletak di lantai dan melihat pesan terakhir yang di kirimkan Rendi
"Kamu pulang aja Van, saya ga apa" mulai bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah kamarnya
"Apa sebaiknya saya kasih peringatan ke Rendi? karena sekarang dia udah keterlaluan mainin perannya. Ga saya harus sedikit lagi bersabar demi kebaikan Nino" Ervan akhirnya memutuskan untuk menghubungi keluarga kecilnya di rumah dan berpamitan untuk tidak pulang ke rumah malam itu
__ADS_1
Tak lama kemudian Ervan pun sudah mengantarkan ponsel yang baru untuk Nino, lalu berpamitan untuk beristirahat di rumah tersebut. Sedangkan di tempat yang berbeda Rendi baru saja tiba di rumah Sekar, Rendi sempat heran melihat rumah yang Sekar tempati
"Gw makin yakin kak Nino ada perasaan sama Sekar, kalo menurut Sekar rumah ini juga di sediakan sama kak Nino bahkan adiknya sekolah di tempat itu, belum lagi ada mobil dan supir yang di sediakan. Payah kak Nino masa untuk mengambil keputusan aja harus lama"
Rendi segera menghubungi Sekar dan memberitahukan bahwa dirinya sudah ada di depan rumah Sekar, tak butuh waktu lama pun Sekar keluar dari rumah mewah tersebut. Dengan menggunakan gaun yang sangat elegan dan riasan wajah yang tipis semakin menunjukkan kecantikan dirinya
"Sumpah perempuan ini cantik banget jujur ini sih tipe gw juga, karena kak Nino ga berani maju ya terpaksa gw yang maju"
"Maaf ya kak kelamaan" tersenyum
"Ga kok baru sampe juga, ini buat kamu" memberikan buket bunga kepada Sekar
"Buat aku kak?" dengan polosnya
"Ya buat perempuan tercantik yang pernah aku liat"
"Hem.. Udah malem kak jangan gombal lagi, tapi buat apa kak Rendi kasih aku bunga?"
"Anggap aja ucapan terima kasih kamu udah mau temenin aku ke acara malem ini"
"Aku terima ya kak bunganya, terima kasih" tersenyum dengan tulus
Rendi pun segera menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya ke arah yang sudah di tentukan, ternyata temannya merayakan ulang tahunnya di sebuah karoke, awalnya Sekar sempat ragu untuk turun tapi Rendi berjanji akan menjaga dirinya selama di sana dan Sekar pun akhirnya masuk ke dalam tempat itu
Begitu Rendi tiba di sana apalagi bersama seorang wanita semua temannya pun menjadi bersorak, karena ternyata ini pertama kalinya Rendi datang ke sebuah acara dengan seorang wanita. Hal tersebut entah sengaja atau pun tidak dia lakukan karena mengikuti sosok orang yang masih menjadi idolanya hingga saat ini
Semua bergembira di tempat itu ada yang bernyanyi dengan riang dan beberapa dari mereka pun ada yang meminum minuman keras, tetapi Rendi saat itu tak menyentuh minuman tersebut untuk menghargai Sekar
__ADS_1
Sekar pun merasa tak nyaman melihat pemandangan tersebut tetapi dia tetap berusaha menahan diri, saat teman-temannya sudah mulai ada yang terpengaruh dengan alkohol dan mulai menunjukkan tanda-tanda mabuk Sekar semakin merasa tak nyaman dan kini wajahnya sudah mulai tampak ketakutan. Dan akhirnya Rendi pun memutuskan untuk berpamitan pulang kepada teman-temannya yang lain
Rendi segera mengantarkan Sekar kembali ke kediamannya dan selama perjalanan Sekar hanya terdiam membisu, Rendi beberapa kali mencoba mencairkan suasana dan Sekar hanya menjawab dengan seadanya