
Sekar tampak gelisah di dalam mobil Nino beberapa kali dia melihat ke arah jam tangannya, sedangkan Nino hanya melirik sekilas tanpa bertanya apapun
"Aduh aku harus ke kampus, nanti jam dua ada kelas. Kalo aku bilang ke pak Nino turunin aku di sini aja marah ga ya?"
Melihat Sekar yang semakin gelisah akhirnya Nino pun tak tega dan memegang ujung kepala Sekar dengan lembut, Sekar langsung menoleh ke arah Nino
"Aku tau mau ke kampus kan" tersenyum
"Iya pak, apa saya turun di sini aja ya pak?"
Nino langsung merubah ekspresi wajahnya seperti tidak suka akan sesuatu, dan kembali memfokuskan dirinya menghadap jalanan
"Kenapa pak Nino kayak kesel ya? apa aku ada buat salah? atau karena aku minta turun di sini. Masa pacaran belum satu hari udah ada tragedi sih"
Sekar mengambil inisiatif untuk menggenggam tangan kiri Nino, Nino hanya melirik sekilas dan membiarkan tangannya
"Bapak marah ya karena aku minta turun di sini, aku cuma takut bapak banyak kerjaan di kantor aja ga ada maksud apapun kok" dengan polosnya
"Jadi dia pikir aku kesel karena dia minta turun di sini"
"Pak jangan marah lagi, kita pacaran belum satu hari masa udah mau ribut" meletakkan tangan Nino di pipinya
Nino membuang nafasnya dengan kasar bagaimana pun juga dia tidak menyalahkan kekasih hatinya yang terlalu polos itu
"Aku marah bukan karena kamu minta turun"
"Terus aku buat salah apa sama bapak?"
"Itu"
Sekar mengerutkan keningnya seolah dia sedang berpikir keras mencari di mana letak kesalahannya, tapi hasilnya pun sia-sia dia tak dapat menemukan alasan Nino marah
"Apa pak?"
"Ya itu"
"Kalo memang aku ada buat salah bapak kasih tau ke aku, jangan malah begini aku jadi bingung pak"
Nino menepikan mobilnya di di bahu jalan lalu menatap serius ke arah Sekar
"Apa kamu beneran ga tau kenapa aku marah?" Sekar menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Kamu bilang sekarang kita udah pacaran kan" Sekar menjawab dengan anggukan kepalanya
"Terus kenapa tadi di depan makam mama kamu bisa panggil nama aku? tapi sekarang kamu panggil pak lagi"
"Yah soalnya kan kedengaran ga sopan kalo aku cuma panggil nama, nanti gimana kalo ada yang denger? apalagi kalo orang kantor yang denger aku cuma panggil nama aja ke bapak"
"Apa pendapat orang lebih penting dari pada aku?"
__ADS_1
"Iya betul aku juga ga sadar kalo dari tadi pak Nino selalu bilang aku ga saya lagi, aduh Sekar ga peka banget sih kamu"
"Gimana kalo aku tetap panggil bapak kalo kita di kantor atau di depan orang lain?"
"Kalo cuma kita berdua aja gimana?"
"Kakak" tersenyum
"Tapi aku mau kamu panggil aku begitu di mana aja, biar semua tau kamu orang yang spesial buat aku"
"Tapi kan nanti orang-orang pasti pikir aku bukan perempuan baik-baik, pasti mereka kira aku ada melakukan sesuatu yang buruk makanya bisa ada di samping bapak" Nino langsung menatap tajam
"Kakak maksudnya, maaf belum terbiasa mulutnya" cengengesan
"Iya juga aku ga mau nanti Sekar jadi bahan omongan orang-orang dan bikin dia ga nyaman kalo ada di kantor"
"Ok aku setuju kalo kamu panggil aku bapak di kantor atau depan orang lain, tapi ada syaratnya" tersenyum
"Kok perasaan aku jadi ga enak nih, jangan bilang syarat yang di minta aneh-aneh"
"Apa kak syaratnya?"
"Aku mau setiap weekend kamu ada di sisi aku dua puluh empat jam"
Sekar sampai membuka mulutnya karena terkejut dengan permintaan Nino yang aneh tersebut
"Dua puluh empat jam, apa maksudnya aku harus temenin tidur juga?"
"Itu soalnya kan kakak bilang dua puluh empat jam, jadi aku kira aku harus temenin itu juga" ragu-ragu
Nino tersenyum dan memegang ujung kepala Sekar dengan sangat lembut, lalu dia mencium kening Sekar dengan lembut
"Selama kita pacaran batas kita cuma sampe di sini, aku sih ga keberatan kalo saat ini juga kamu mau nikah sama aku"
"What? nikah"
"Kenapa kamu ga mau nikah sama aku?" mengerutkan keningnya
"Bukan ga mau, perempuan mana pun pasti mau nikah sama orang yang dia suka tapi kan aku sekarang masih.."
"Aku akan nikahi kamu saat kamu lulus kuliah nanti"
Entah sudah ke berapa kali wajah Sekar merona pada hari itu karena perbuatan Nino
"Terus maksud kakak tadi apa?"
"Aku mau setiap weekend kita habiskan waktu kita bareng, aku mau kita semakin dekat dan mengerti tentang satu sama lain. Tapi itu juga dengan catatan adik kamu ada di situ, gimana?"
"Maaf ya kak tadi aku salah sangka"
__ADS_1
"Tapi inget panggilan bapak ga berlaku kalo cuma ada adek-adek kamu aja"
"Siap" tersenyum sambil mengacungkan ke dua jari jempolnya
"Jadi ini sifat kamu yang sebenarnya ya, pasti selama ini kamu menahan diri ga berbuat yang aneh-aneh di depan aku" tersenyum
"Ya udah aku anter kamu ke kampus"
Nino melanjutkan kembali perjalanan mereka, selama perjalanan Sekar semakin berani mengeluarkan celoteh dan candaan ringan kepada Nino. Hal tersebut membuat Nino semakin merasakan hidup
"Saya turun dulu ya kak"
"Tunggu dulu" Sekar tak jadi membuka pintu mobil Nino dan langsung menghadap ke arah Nino
Nino memberikan tangan kanannya kepada Sekar, Sekar pun mengerti apa yang di inginkan Nino dia mengambil tangan kanan Nino dan menciumnya, Nino langsung memberikan sebuah hadiah kecupan manis di kening Sekar
"Belajar yang bener ya, jangan terlalu dekat dengan lelaki mana pun termasuk Rendi"
"Iya kak"
Tiba-tiba saja suara kaca mobil Nino di bagian Sekar duduk di ketuk, Nino membuka kaca mobilnya dengan malas
"Panjang umur anak ini"
"Kak"
"Hem"
"Lagi antar pacarnya ke kampus ya?" tersenyum meledek
"Loh kok kak Rendi bisa tau?" Sekar tampak kebingungan menjawab
"Kalo udah tau ya jangan ganggu"
"Ya ga bisa dong soalnya pacar kak Nino udah terima aku sebagai kakaknya, ya jadi sebagai kakak yang baik aku harus jaga dia selama di kampus" Nino hanya diam karena malas meladeni Rendi yang terus mengejek dirinya
"Udah masuk sana nanti kamu telat"
"Iya pak"
"Yah udah pacaran kok masih panggil bapak aja, oh ya maaf aku lupa kak Nino kan pasti jauh lebih tua dari Sekar" tertawa lepas
"Ren" melepaskan tatapan membunuhnya
"Sorry kak cuma bercanda aja kok, abis kalian kaku banget pacarannya" kembali tertawa
"Udah ya pak saya turun dulu" Sekar hanya tak ingin melihat Nino di ejek oleh Rendi
"Akh peduli amat toh kak Rendi juga udah tau, aku ga mungkin biarin kak Rendi ejek pak Nino terus"
__ADS_1
"Iya"
Tiba-tiba saja Sekar mencondongkan tubuhnya ke arah Nino dan mencium kening Nino dengan lembut, membuat Nino dan Rendi sama-sama terkejut Sekar berani melakukan hal tersebut