
Saat pagi menyapa Ervan pun terbangun dengan sendirinya, dan dia benar-benar yakin ada perubahan besar dalam sikap istrinya. Karena untuk pertama kalinya selama mereka menikah dia tertidur di ruang kerja, tanpa di minta Citra untuk melanjutkan tidurnya di dalam kamar mereka
"Jadi dia ga minta aku buat pindah ke kamar"
Entah mengapa saat itu Ervan merasa sedikit jengkel, dia pun segera kembali ke dalam kamar dan ternyata saat itu Citra sedang berhias di depan cermin dan sudah membersihkan diri
"Astaga padahal dia udah bangun, boro-boro dia minta aku pindah ke kamar bahkan dia bangunin aku untuk kerja"
Dengan perasaan yang jengkel Ervan memilih untuk mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil menatap tajam ke arah Citra, Citra yang menyadari hal tersebut pun langsung menoleh ke arah Ervan dengan ekspresi yang biasa saja
"Kenapa kak?"
"Apa ga seharusnya aku yang tanya itu ke kamu?" dingin
"Memang nya aku kenapa kak?"
"Apa kamu ga sadar kalo sikap kamu dari kemarin berubah?"
Citra paham betul arah omongan Ervan pada saat itu, tetapi dia memilih untuk berpura-pura tidak mengerti dan tetap memasang ekspresi biasa saja
"Aku ga ngerti maksud kamu kak"
"Kamu pergi tanpa kasih kabar ke aku dulu, kamu ga antar teh ke ruang kerja aku kayak biasanya. Kamu juga ga bangunin aku dari ruang kerja"
"Oh.. Kalo masalah teh dan bangunin kamu aku minta maaf ya kak, habis makan malam aku langsung ketiduran karena kecapean"
"Terus kenapa kemarin kamu pergi ga bilang dulu ke aku?"
"Aku cuma belajar mengikuti gaya kamu kak, semoga aja dengan cara itu rumah tangga kita bisa menjadi lebih baik lagi" tersenyum
"Dia lagi sindir aku atau memang dia mau bersikap begini selamanya?"
"Terserah kamu, lakukan apapun yang kamu suka"
Ervan mengucapkan kata-kata tersebut dengan nada suara yang biasa, tetapi jauh di dalam hatinya ingin rasanya dia berteriak untuk tidak setuju dengan keinginan istrinya tersebut
Ervan memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, bayangan tentang istrinya yang sedang bertemu dengan pria lain kembali mengusik hatinya
"Apa sebaiknya aku kasih laki-laki itu pelajaran? karena dia berani tunjukin batang hidungnya di depan Citra"
Ervan mulai mengeraskan rahangnya dan memukul dinding kamar mandi dengan sangat kuat hingga meninggalkan memar di tangannya
"Astaga aku kenapa jadi kepancing emosi sih? mungkin aja menurut dia laki-laki itu adalah laki-laki yang lebih baik dari aku. Aku ga mungkin ingkar sama janji aku sendiri"
__ADS_1
Ervan segera pergi ke ruang makan setelah berpakaian rapi, dia sama sekali belum menyadari dengan apa yang terjadi pada tangannya. Tetapi Citra yang melihat memar di tangan Ervan langsung merasa khawatir
"Tangan kak Ervan kenapa ya? kayaknya tadi pagi baik-baik aja. Aku harus gimana sekarang? tahan Citra tahan, kamu ga boleh jadi lemah karena melihat itu"
Dengan sekuat tenaga Citra berusaha menutupi rasa khawatir melihat keadaan suaminya, dia pun langsung teringat akan kata-kata Sekar untuk membuat suaminya berubah
"Tangan kamu kenapa kak?"
Ervan pun langsung melihat ke arah tangannya, dan dia pun baru menyadari buah karya yang dia hasilkan
"Aku juga ga tau, kenapa bisa begini?"
Ervan berbohong untuk menutupi rasa cemburu yang sudah mulai menguasai hatinya
"Lain kali hati-hati kak" melanjutkan memakan sarapan yang telah berada di piring
"Kenapa aku ngerasa kurang nyaman dengan sikap dia yang sekarang ya?"
"Nanti kamu ada acara apa?"
Citra hampir tersedak makanan yang berada di dalam mulutnya karena merasa terkejut
"Rasanya aku pengen banget langsung peluk dia sekarang juga, ini pertama kalinya dia tanya tentang kegiatan aku"
"Di rumah Nino atau di luar?"
"Di luar kak"
"Berdua?" menatap tajam
"Tolong Sekar rasanya aku udah ga kuat lagi lanjutin ini semua, kamu ga liat sih. Gimana menakutkan nya orang ini sekarang?"
"Bertiga sama teman aku yang kemarin kak"
"Perempuan atau laki-laki?"
Ervan berusaha menutupi bahwa dia tau siapa orang yang bertemu dengan istrinya kemarin, tetapi aura dingin yang dia keluarkan sudah bisa membuat nyali istrinya menciut. Tetapi Citra menguatkan hatinya untuk terus melanjutkan semuanya
"Laki-laki kak" menundukkan kepalanya
"Jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain, kamu sekarang sudah berstatus seorang istri bukan seorang gadis lagi"
"Sekar yang minta orang itu buat ketemu kak, Sekar bilang orang itu asik untuk di ajak ngobrol"
__ADS_1
Citra tak berani menatap ke arah Ervan sama sekali, dia hanya menjawab ucapan sambil menyantap sarapan nya. Entah mengapa saat itu Ervan langsung kehilangan selera makan, dia pun langsung bangkit dari duduknya dan memilih untuk pergi ke kantor
Ketika perjalanan ke kantor Ervan langsung menghubungi pengawal yang bertugas untuk melindungi Sekar
"Selamat pagi pak"
"Pagi, apa ibu Sekar ada rencana untuk keluar hari ini?"
"Iya pak"
"Apa sudah mendapatkan izin dari pak Nino?"
"Sudah pak, tadi malam pak Nino sudah memerintahkan kami untuk menjaga ibu Sekar hari ini"
"Apa sih yang ada di dalam pikirannya Nino? kok dia bisa semudah itu kasih izin Sekar keluar lagi?"
"Nanti ibu Sekar mau bertemu dengan istri saya, jaga mereka berdua dengan baik. Dan kasih kabar ke saya apapun yang mereka berdua kerjakan"
"Baik pak" Ervan pun langsung memutuskan sambungan teleponnya
Sudah pasti Ervan mengetahui semua kegiatan istrinya bersama Sekar di luar sana, karena sang pengawal selalu memberikan info tentang apa saja yang mereka berdua lakukan
Dan saat akan menjelang makan siang Sekar sudah memberitahukan kepada para pengawal, bila orang yang kemarin mendekat mereka tidak boleh menghalangi. Dan sudah pasti hal tersebut pun sampai ke telinga Ervan
Ervan yang sudah tidak bisa lagi menahan diri langsung pergi ke ruangan Nino, Ervan langsung mendudukkan dirinya tepat di hadapan Nino. Hal tersebut menunjukkan bahwa dia sekarang menemui Nino bukan sebagai seorang bawahan
"Kenapa Van?"
"Apa saya bisa minta tolong ke kamu?"
"Minta tolong apa Van?"
"Tolong ikut saya ke suatu tempat"
Nino yang baru pertama kali melihat Ervan seperti itu berusaha keras untuk menahan tawanya
"Mau ke mana?"
"Temenin saya makan siang"
"Ternyata seorang Ervan bisa kalah secepat ini, padahal aku udah khawatir karena Sekar harus keluar rumah dan ketemu sama laki-laki lain gara-gara sikap kamu itu. Jadi ga ada salahnya aku balas kamu dulu Van"
"Kerjaan saya lagi banyak Van, kayaknya saya makan siang di kantor aja" dengan entengnya
__ADS_1
Nino melanjutkan memeriksa laporan yang ada di hadapannya, sedangkan kan Ervan pun langsung merasa panik. Karena dia ingin sekali berada di sana, tetapi tak mungkin bila dia harus datang ke sana seorang diri