
Hari itu Nino dan sempat singgah di rumah Sekar untuk makan malam, di sepanjang perjalanan Sekar hanya bisa tertunduk dan terdiam. Bagaimana pun juga sang penciduk duduk di bangku depan, Ervan dan Nino hanya bisa tersenyum tipis melihat Sekar yang seperti itu
Kehadiran Nino di rumah itu sangat di sambut terutama oleh Ajeng, gadis kecil itu sangat berharap bila Nino akan menjadi kekasih kakaknya agar bisa melindungi kakaknya
Sesaat sebelum pulang Nino mengatakan bahwa besok dia akan menjemput Sekar dan adik-adiknya untuk jalan-jalan, sudah pasti Ajeng lah orang yang paling antusias mendengar hal tersebut
Setelah mendirikan sholat subuh Sekar dan adik-adiknya sudah bersiap-siap walau pun Nino mengatakan akan menjemput mereka jam sembilan pagi
Sebelum jam sembilan pagi Nino sudah berada di sana dan sudah pasti Nino langsung mereka jalan karena mereka sudah rapi semua, selain Nino ada juga Ervan dan keluarga kecilnya menggunakan mobil yang lain. Dua mobil tersebut mengarah ke bandara
Sesampainya di bandara Sekar dan adik-adiknya di perkenalkan kepada anggota keluarga kecil Ervan, Ervan memiliki istri yang sangat cantik dan keibuan serta satu orang anak laki-laki dan satu lagi perempuan. Bukan hal yang sulit bagi anak-anak Ervan untuk akrab dengan adik-adiknya Sekar
Setelah mereka sampai di bandara mereka menaiki sebuah pesawat pribadi, walaupun keluarga kecil Ervan sudah melakukan hal tersebut lain hal dengan Sekar dan adik-adiknya untuk adalah kali pertama mereka naik pesawat apalagi pesawat pribadi
Ternyata Nino mengajak mereka semua berlibur ke sebuah pulau kecil yang sangat indah, pulau tersebut di kelilingi oleh laut. Hamparan pasir membentang di bibir pantai membuat tempat itu bagaikan surganya dunia
Setelah beristirahat sejenak mereka pun bermain di pantai yang sangat indah dan bersih tersebut, untuk pertama kalinya Sekar dan adik-adiknya berada di tempat indah tersebut. Dan satu hal yang pasti Sekar belum mengetahui apa tujuan Nino yang sebenarnya membawa dia ke tempat itu
Setelah makan malam semua berkumpul di taman dan melakukan acara bakar-bakar, semua yang berada di tempat itu sangat gembira bahkan anak-anak Ervan yang biasa terlihat agak sedikit pendiam semenjak bertemu dengan adik-adiknya Sekar menjadi lebih aktif dari pada biasanya
Di saat semua orang sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing tiba-tiba saja Nino berlutut di hadapan Sekar, sambil membuka sebuah kotak yang berisi sebuah cincin. Sontak saja hal tersebut membuat semua orang yang berada di tempat itu langsung memusatkan perhatiannya kepada mereka berdua
"Aku tau kita kenal belum lama, aku juga tau aku harus tunggu kamu sampai kamu menyelesaikan kuliah kamu. Tapi apa boleh menyatakan kalo kamu itu milik aku dari sekarang? setidaknya biar semua orang tau kalo kamu adalah calon istri dari Nino Erlangga" tersenyum dengan tulus, sedangkan sudah pasti wajah Sekar langsung merona
"Terima kak Sekar..!!" Suara teriakan dari Ajeng membuat yang lain ikut bersorak, wajah Sekar semakin memerah
__ADS_1
Rasanya ingin sekali Sekar langsung menerima cincin tersebut karena wanita manapun di dunia ini akan sangat bahagia bila kekasih hatinya melakukan hal tersebut, tetapi ada satu hal yang harus Sekar pastikan terlebih dahulu. Karena dia harus menemukan seorang pria yang bersedia untuk menjadi imam baginya bukan hanya sekedar seorang pendamping hidup
Sekar mendekatkan wajahnya ke telinga Nino dan mulai berbisik dengan suara yang agak bergetar menahan semua perasaan yang sedang bercampur aduk, ada perasaan bahagia yang tak dapat lagi di ungkapkan dan ada perasaan takut akan Nino yang tak mau dengan keinginan terbesarnya
"Apa bapak sudah siap untuk menjadi imam yang baik bagi saya?"
Nino mengerti apa maksud dari pertanyaan Sekar tersebut dia pun tersenyum dan menjawab dengan yakin
"Saya berjanji mulai sekarang saya akan belajar menjadi imam yang baik untuk kamu, saya juga berjanji akan menjaga kamu dan adik-adik kamu dengan baik. Jadi gimana jawaban kamu?"
Sekar tak dapat lagi menahan perasaan haru yang sedang dia rasakan matanya langsung berkaca-kaca, dengan malu-malu Sekar menganggukkan kepalanya dan semua orang yang berada di tempat itu bersorak gembira. Dan Nino pun menyematkan cincin tersebut di jari manis Sekar
Ervan yang melihat kebahagiaan yang terpancar dengan jelas dari wajah Nino memeluk tubuh istrinya yang berada di sampingnya, istrinya mengerti mengapa Ervan bisa sampai seperti itu. Wanita itu mengelus pundak Ervan dengan lembut
Semua sudah mulai masuk ke dalam vila mewah tersebut hanya tersisa Nino dan Sekar yang masih berada di luar, mereka memutuskan untuk berbicara empat mata dengan lebih serius atas permintaan Sekar
"Apa kamu takut?" Sekar mengangguk
"Apa aku terlalu cepat lakuin ini ke dia?"
"Apa kamu takut karena status aku?" menatap serius, Sekar menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Terus apa yang kamu takuti?"
"Aku tau kita sebagai seorang manusia ga ada yang sempurna di dunia ini, tapi aku ngerasa kamu sengaja menjauh dari Tuhan. Aku ga akan takut dengan yang namanya perbedaan status di dunia ini, aku cuma takut saat akhirnya ga bisa sejalan sama aku" menundukkan kepalanya
__ADS_1
"Kamu memang benar, aku memang sengaja menjauh dari Tuhan karena kecewa" Sekar menatap serius ke arah Nino
"Dari kecil mama selalu ajarin aku tentang agama, waktu mama sakit parah hingga menghembuskan nafas terakhirnya aku terus bersujud kepada Tuhan memohon dengan sepenuh hati. Tapi Tuhan ga dengerin permintaan aku, saat itu aku merasa Tuhan benar-benar ga perduli sama aku" lirih, Sekar langsung bangkit dari duduknya dan menarik kepala Nino ke dalam pelukannya
"Kamu harus tau Tuhan bukan ga sayang sama kita, tapi Tuhan selalu berikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Karena Maha Mengetahui"
Nino merasakan ketenangan hati saat mendengar ucapan Sekar
"Kamu tau Sekar aku ngerasa Tuhan sengaja kirimkan kamu untuk jadi penerang di dalam kehidupan aku"
"Aku janji aku ga akan pernah lepasin pelukan aku kecuali itu keinginan Dia"
"Duduk sini" menepuk tempat di sebelahnya dan Sekar pun mengikuti keinginan Nino
"Apa kamu beneran ga ada masalah dengan perbedaan status kita?"
"Ga ada yang namanya perbedaan status di mata Tuhan" tersenyum
"Apa kamu ga takut saat ketemu papa aku kemarin?"
"Aku lebih takut kalo kamu ga bisa menjadi imam aku saat sholat" tersenyum dengan tulus
"Terima kasih ya, aku janji aku akan selalu belajar menjadi lebih baik lagi. Aku ga mau mengecewakan kamu" Sekar hanya membalas dengan senyuman
Suasana malam di pulau tersebut tampak semakin indah dan damai, karena kedua insan itu mendapatkan kebahagiaan yang mereka inginkan di tempat itu
__ADS_1