
Saat waktunya sholat subuh di dirikan sudah pasti Sekar dan adik-adiknya sudah bersiap untuk melaksanakan sholat berjamaah, tetapi ada satu pemandangan yang tak di sangka. Nino sudah lebih dulu tiba di sana dengan pakaian yang sesuai untuk orang yang akan mendirikan sholat
"Kak Nino mau sholat bareng kita ya?" Ajeng melepaskan senyuman terbaik yang dia punya
"Iya dong, kak Nino mau mulai belajar jadi imam yang baik buat kakak kamu" sontak saja wajah Sekar langsung merona mendengar hal tersebut
"Kak Nino jadi imam ya"
"Tapi kak"
Sekar sedikit ragu untuk menyampaikan pendapatnya, Sekar tak ingin Nino akan merasa malu di hadapan adik-adiknya bila dia melakukan kesalahan
"Ga apa aku bisa kok" tersenyum
Setelah kejadian Nino yang mabuk Nino mulai memperdalam lagi ilmu agama yang telah lama dia tinggalkan, baginya itu bukan hal yang terlalu sulit karena saat kecil dia sudah mempelajari itu semua. Tetapi Nino melakukan semua itu tanpa di ketahui oleh Sekar, hal itu dia lakukan untuk memberikan sebuah kejutan kepada Sekar
Mereka mulai melakukan sholat subuh secara berjamaah, walaupun di awal Sekar sedikit cemas tetapi saat mendengar Nino mulai melantunkan ayat demi ayat Sekar benar-benar merasa hatinya nyaman mendengarnya. Suara Nino membuat orang yang mendengarnya menjadi nyaman
Mereka semua berkumpul di meja makan dengan keluarga kecil Ervan, dan setelah itu mereka kembali bermain di tepi pantai untuk yang terakhir karena saat menjelang sore hari mereka harus mulai melakukan perjalanan kembali ke kota besar itu
"Aku tadi benar-benar ga nyangka"
"Lulus ga jadi imam sholat kamu?" Sekar tersenyum sambil mengangguk
"Tapi aku belum puas" memasang wajah serius
"Kenapa?"
"Soalnya aku belum bisa jadi imam sholat kamu terus, kuliah kamu masih lama banget" tersenyum menggoda, dan Sekar pun kembali tersipu
Dari kejauhan Ajeng dan yang lainnya memanggil Sekar untuk ikut bermain air, Sekar pun menarik tangan Nino untuk bergabung. Sekar bermain air dengan yang lainnya, sedangkan Nino memperhatikan mereka dari jarak yang aman
"Aku harap kisah cinta mama ga kan terulang sama kita"
Ketika matahari sudah mulai meninggi mereka pun kembali ke vila, karena sebentar lagi sudah masuk waktu makan siang dan sholat dzuhur. Mereka pun mulai mengemasi barang-barang bawaan meraka masing-masing
__ADS_1
Nino mengantarkan Sekar dan adik-adiknya terlebih dahulu baru dia kembali ke kediamannya, sedangkan di tempat yang berada seorang pria paruh baya sedang melihat beberapa informasi yang baru saja dia terima
Prang.. Suara pecahan gelas memenuhi ruangan tersebut, pria paruh baya itu melemparkan gelas yang berada di hadapannya ke sembarang arah, lalu dia melemparkan beberapa foto ke atas meja. Foto-foto tersebut adalah foto saat Nino dan yang lainnya berlibur, dan sudah pasti orang itu adalah papanya Nino
"Kenapa sih anak ini keras kepala banget? apa bagusnya perempuan itu? yang namanya cinta akan kalah di makan waktu. Papa udah rasakan itu Nino"
"Walaupun saat ini perusahaan kamu berada di atas perusahaan yang papa pegang, tapi papa akan tetap wariskan perusahaan papa ini ke kamu. Karena kamu anak tertua dan anak laki-laki papa satu-satunya"
"Saya mau besok kalian bawa perempuan itu ketemu saya"
"Baik pak"
Entah itu suatu isyarat atau hanya sebatas mimpi belaka, Nino melihat Sekar di kejauhan dan menatap ke arah dirinya dengan mata yang sendu. Sekar mengulurkan tangannya kepada Nino seolah dia meminta pertolongan dan semakin lama posisi Sekar semakin menjauh
Nino yang melihat itu menjadi panik dia pun langsung berlari sekuat tenaga sambil terus berteriak memanggil nama Sekar sekuat yang dia bisa, hingga suara teriakan dia membangunkan dia dari mimpi buruk itu
"Kenapa perasaan aku jadi ga tenang gini sih? ini perasaan ga nyaman yang sama kayak dulu aku rasain waktu mama mau pergi tinggalin aku selamanya"
"Sekar.." Nino langsung mencari keberadaan ponselnya dan langsung menghubungi Sekar
"Aku mohon angkat teleponnya Sekar jangan buat aku takut"
"Halo" masih dengan mata yang tertutup
"Terima kasih ya Allah ternyata dia baik-baik aja"
"Maaf ini siapa ya?"
"Sekar.."
"Maaf kak aku angkat teleponnya ga liat dulu"
"Kamu baik-baik aja kan?"
"Kenapa kak Nino tanya begitu ya?"
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Sekar melihat ke arah jam dinding dan waktu menunjukkan jam satu malam
"Aku ga apa kok aku cuma mimpi buruk, maaf ya aku ganggu tidur kamu"
"Cuma mimpi kak, pasrahin semuanya sama Yang Maha Menentukan"
"Aku tau itu Sekar, tapi aku ga tau apa aku akan sanggup bila sesuatu terjadi sama kamu? semoga mimpi ini hanya sebatas mimpi buruk bukan sebagai sebuah tanda"
"Kalo hati kamu ga tenang coba sholat malam aja kak"
"Iya, Sekar apa boleh aku minta sesuatu dari kamu?"
"Apa kak?"
"Janji apa kak?"
"Aku mau kamu janji ke aku, jangan pernah tinggalin aku apapun yang terjadi"
"Aku janji ga akan pernah tinggalin kamu wahai Nino Erlangga selama Tuhan mengizinkan, hanya Tuhan yang bisa memisahkan kita"
"Makasih, kalo gitu kamu lanjut istirahat ya"
"Iya kak"
"Sekar aku sayang sama kamu"
"Aku juga sayang sama kamu kak"
Nino tak bisa melanjutkan kembali tidurnya dia pun memutuskan mengikuti saran Sekar dan mendirikan sholat malam, dalam sujudnya Nino meneteskan air matanya memohon perlindungan untuk orang yang dia sayang
Selesai sholat Nino masih merasakan ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, hingga saat dia menjalankan sholat subuh Nino masih tetap terjaga dengan perasaan yang sama. Selesai sholat subuh Nino mengirimkan pesan kepada Sekar agar menunggu dirinya di rumah, karena dia sendiri yang akan mengantarkan Sekar pergi ke kampus
Tetapi entah mengapa tiba-tiba saja rasa kantuk menyerang Nino, Nino tak lagi bisa menahan rasa kantuknya hingga tanpa dia sadari dia pun tertidur dengan sangat pulas di atas sofa. Sekar baru membaca pesan Nino setelah sholat subuh, akhirnya hanya adik-adiknya yang pergi ke sekolah di antar oleh supir sedangkan Sekar tetap menunggu Nino
Waktu terus berjalan dengan sangat cepat, Sekar semakin cemas karena waktunya sudah tidak banyak lagi sedangkan Nino mengabaikan panggilan telepon dari dirinya. Akhirnya Sekar memutuskan untuk langsung memesan taksi online
__ADS_1
Sekar sempat mengirimkan pesan bahwa dia sudah pergi ke kampus karena Nino tak bisa di hubungi, Nino bangun dari tidurnya karena merasa ada seseorang yang sedang mencium keningnya dengan sangat lembut seperti yang sering Sekar dan mamanya lakukan
"Astaga aku ketiduran" Nino melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Nino langsung mencoba menghubungi Sekar dan ponsel Sekar dalam keadaan tidak aktif. Entah mengapa perasaan Nino langsung menjadi tidak tenang