
Sekar telah menyelesaikan segala tugasnya di hari itu baik sebagai seorang umat ataupun seorang kakak, dia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap kosong ke langit-langit kamarnya
"Sebenernya pak Nino kenapa ya? aku jadi kepikiran. Dari semua sikap pak Nino hari ini sampe wajah sedih itu tadi sempat keliatan lagi, jujur kalo aku bisa aku mau jadi tempat dia berbagi beban"
Pikiran Sekar melayang ke mana-mana, hingga dia hanya bisa menduga apa sebenarnya yang telah menimpa orang yang tampak sangat sempurna dari luarnya tersebut. Tanpa dia sadari akhirnya dia pun terlelap ke alam mimpinya
Hari itu karena tak ada mata kuliah yang harus dia ikuti dia memutuskan untuk langsung pergi ke kantor setelah mengantarkan adik-adiknya, saat melihat Nino entah mengapa ada perasaan lega di dalam hatinya karena dia dapat melihat wajah tampan yang kini mulai menempati tempat yang spesial di dalam hatinya
Tetapi berbeda dengan Sekar hari itu Nino kembali menunjukkan sikap dingin yang selalu dia tunjukkan bahkan dia tak banyak berkata-kata, Nino hanya membuka mulutnya ketika dia membutuhkan sesuatu dari Sekar
Hari itu Sekar mengikuti Nino dan Ervan karena mereka ada pertemuan di luar kantor, Ervan sempat melirik ke arah mereka berdua yang di selimuti hawa dingin
"Apa Nino memilih untuk menyerah? saya ga bisa biarkan itu karena Nino pasti akan jatuh lagi ke jurang yang sama"
Sesampainya di rumah makan yang di telah di tentukan mereka pun masuk ke dalam tempat itu, dan begitu masuk ke sana mereka bertemu dengan Rendi yang juga baru saja tiba bersama teman-temannya
"Kak" Nino memandang malas ke arah Rendi
"Kamu ada di sini"
"Ya kak mau makan sama anak-anak kampus, kak Nino lagi ketemu orang ya?"
"Ya, kak Nino duluan ya"
"Apa aku boleh aja Sekar makan bareng kita aja kak?"
"Terserah Sekar aja" dingin, dan langsung meninggalkan Rendi begitu saja
"Sekar ayo gabung sama kita aja, pasti kamu bakal bosen kalo ikut mereka berdua" tersenyum meledek ke arah Ervan
"Maaf kak aku masih jam kerja, aku duluan ya kak" Sekar pun ikut meninggalkan Rendi dan menyusul Nino, Rendi berjalan mendekati Rendi
"Sebenernya apa tujuan kamu?" berbisik
"Aku mau deketin Sekar, apa ada masalah?" tersenyum
"Saya harap kamu tau apa yang sedang kamu lakukan, saya ga akan perduli walaupun kamu salah satu anggota keluarga Erlangga sekali pun. Tapi saya akan melakukan apapun untuk penghalang bagi pak Nino, saya permisi dulu" meninggalkan Rendi begitu saja
__ADS_1
Rendi memandangi pundak Ervan yang mulai menjauh dari dirinya sambil tersenyum "Lo cuma tau berdiri di samping dia tanpa bisa berbuat apapun, lo ga akan bisa membuat dia berubah kalo cuma setia berdiri di samping dia sambil melindungi"
Ada perasaan sedikit lega di dalam hati Nino saat melihat Sekar mengikuti langkahnya menuju ke salah satu ruang VIP di rumah makan tersebut, walaupun bibir dan gestur tubuhnya tak menunjukkan hal tersebut
Setelah segala urusan di tempat itu selesai mereka pun segera kembali ke kantor dan ternyata baru saja melangkahkan kakinya di lobi gedung tersebut, mereka bertiga sedikit terkejut karena ternyata Rendi ternyata sudah berada di sana
"Kak" menghampiri mereka
"Kenapa ke sini?"
"Ada yang mau aku omongin sama kak Nino, apa kak Nino ada waktu?"
"Ikut kak Nino ke ruangan kak Nino" Rendi menjawab dengan senyuman
"Kamu ga usah ke ruangan saya sebelum saya panggil" dingin, dan menatap tajam ke arah Sekar
"Baik pak"
"Ayo" tanpa menoleh Rendi mengikuti dirinya, sedangkan Sekar memutuskan untuk menunggu di ruang pantry
"Kenapa kamu cari kak Nino?" to the point begitu mereka sudah duduk di sofa
"Apa ini saatnya?" memejamkan matanya
"Gimana kak?"
"Kamu mau minta apa dari kak Nino?"
"Tapi kak Nino harus janji dulu sama aku, kak Nino bakal kasih apa yang aku minta"
"Ren jangan bertele-tele kamu tau kak Nino orang yang gimana" dengan tegas
"Ok.. Aku mau kak Nino kasih ijin aku deketin Sekar, dan kak Nino harus bantu supaya Sekar mau deket sama aku" tersenyum puas
"Harusnya kamu tanya ke dia jangan ke kak Nino..!!" Tanpa dia sadari Nino sedikit berteriak, dan Rendi pun tersenyum puas
"Maaf ya kak aku terpaksa lakuin ini, cuma dengan cara ini kak Nino akan berani untuk maju. Aku kangen kak Nino yang dulu, aku selama ini cuma pastiin aja Sekar perempuan yang baik atau ga untuk kak Nino"
__ADS_1
"Ya kak gimana juga Sekar orang kepercayaan kak Nino, jadi sebelum aku dekati dia aku harus dapat ijin dulu dari kak Nino"
"Kenapa kamu ga minta sesuatu yang lebih berguna buat kamu?" menatap tajam
"Kak Nino salah kalo Sekar bisa rubah kak Nino berarti dia sesuatu yang penting buat aku" ya aku mau minta apa lagi? aku kan ga kekurangan apapun" di iringi senyuman sombong
"Terserah kalian aja"
"Ayo kak aku ga bisa main lama-lama, aku harap kak Nino bisa cepat menyadari perasaan kak Nino dan berani untuk maju" makasih ya kak, kalo gitu aku pulang dulu ya kak"
"Hem.." Nino mengangguk
Baru saja Rendi keluar dari ruangan Nino Ervan ternyata sudah berdiri di sana dan sengaja menunggu Rendi
"Bisa kita ngobrol sebentar?"
"Ya elah nih baby sitter mau ngapain sih?" kenapa?"
"Saya janji ga akan lama" Rendi pun terpaksa mengikuti Ervan ke ruangannya
"Apa kamu abis tagih janji ke pak Nino?"
"Cocok lo jadi baby sitter kak Nino, bahkan lo bisa tau hal yang gw omongin cuma berdua sama dia" tersenyum meledek
"Apa itu ada urusannya sama Sekar?"
"Keren sampe apa yang gw minta lo bisa tau" bertepuk tangan
"Kenapa kamu lakuin itu?" penuh penekanan
"Untuk kak Nino" tersenyum, Ervan pun hanya bisa mengerutkan keningnya
"Gw tau kak Nino suka sama Sekar kan? tapi sampe kapan pun dia ga akan berani ungkapin perasaannya. Jadi gw harus lakuin ini supaya kak Nino berani" Ervan menatap Rendi seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar
"Ga usah liatin gw begitu, terserah lo mau percaya apa ga? tapi inget jangan ganggu rencana gw. Kalo udah ga ada yang mau di omongin gw mau balik" bangkit dari duduknya
"Oh ya gw memang lakuin ini untuk kak Nino, tapi kalo kak Nino masih takut ya terpaksa gw yang akan bahagiakan Sekar" langsung keluar dari ruangan Ervan, begitu Rendi menutup pintu terdengar suara barang yang di lempar dengan sangat kuat
__ADS_1
"Gila kali gw ya, padahal dari tadi gw takut banget ngobrol berdua sama orang ini. Kak Nino sih ga ada apa-apa nya kalo di bandingin sama orang ini"