
Ervan sudah berada di ruangan khusus dirinya dan dia pun mulai menyadari bahwa tangannya mulai bengkak dan memar, dia pun memandangi tangannya dengan tatapan bersalah
"Saya mohon maaf kepada kalian berdua seharusnya tangan ini sudah tidak pantas berada di tempatnya lagi, bahkan dengan nyawa saya sekali pun ga akan sanggup membayar kesalahan saya ke kalian berdua. Karena saya gagal menjalankan tugas saya dan janji saya dulu ke Nino"
Ervan pun menyenderkan tubuhnya sambil memejamkan kedua bola matanya, dia pun mulai mengingat kembali kenangan di mana dia berjanji dengan sepenuh hati untuk melindungi Nino
FLASH BACK
Malam itu setelah kejadian Nino akan mengakhiri hidupnya dan berhasil di cegah oleh Ervan, mereka pun beristirahat di dalam kamar Nino pada malam itu. Dan setelah terlelap Nino pun mengigau di dalam tidurnya dan Ervan pun langsung terjaga dari tidurnya
"Mah.. Jangan pergi mah.. Jangan tinggalin Nino mah.. Kalo mama pergi Nino sama siapa mah?"
Ervan yang sudah terjaga sengaja tidak langsung membangunkan Nino, karena dia ingin mendengar terlebih dahulu semua curahan hati Nino
"Saya janji mulai detik ini saya akan jadi pelindung kamu, mulai detik ini ga akan ada bisa menyakiti kamu lagi sebelum melangkahi nyawa saya"
"Mah..." Nino langsung terduduk dengan napas yang masih memburu
Nino mencoba mengatur napasnya terlebih dahulu tanpa menyadari bahwa Ervan sudah memperhatikan dirinya sedari tadi
"Udah selesai?"
Nino pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna ke arah Ervan
"Kamu udah bangun dari tadi?"
"Iya" memasang wajah datar
"Kenapa kamu ga bangunin saya?" menunjukkan wajah kesal
Ervan meletakkan tangannya dengan lembut di ujung kepala Nino
"Saya mau tau dulu apa yang kamu mau? supaya saya yakin dengan pilihan saya"
"Apaan sih ga jelas banget?"
Saat itu bibir Nino mengatakan hal seperti itu tetapi jauh di dalam hatinya dia merasa tenang karena ada orang yang menemani dirinya
"Kamu ga perlu tau maksud saya"
Nino kecil menatap Ervan dengan perasaan bingung, sedangkan Ervan hanya memasang wajah datar
"Ga usah takut lagi itu cuma mimpi, sekarang kamu tidur lagi aja saya tungguin kamu sampe kamu tidur"
"Memang nya saya anak kecil apa?"
"Bagi saya selamanya kamu akan jadi selalu anak kecil"
__ADS_1
"Dasar orang aneh" Nino kecil merebahkan kembali tubuhnya, dan akhirnya dia bisa tertidur dengan lelap karena merasa aman ada seseorang yang menjaga dirinya
"Tidurlah dengan tenang dan jalani hidup kamu dengan baik, karena mulai sekarang saya akan jadi perisai dan senjata untuk kamu. Saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk melindungi kamu selamanya"
Setelah itu hari demi hari masa kecil Nino selalu di dampingi oleh Ervan, bahkan Nino seperti seorang adik kecil yang akan selalu mencari keberadaan kakaknya bila Ervan terlambat datang. Tanpa mereka sadari mereka menjadi saling bergantung satu sama lain
FLASH OFF
Dan tanpa terasa Nino dan Sekar sudah lima hari bulan madu mereka seakan merasakan hati mereka semakin menyatu, sedangkan di tempat yang berbeda pada hari itu Damar sudah membulatkan tekadnya untuk menyerah dan mengakhiri semua penderitaan nya
"Aku yakin sampe kapanpun dia ga akan pernah lepasin aku dan sekarang aku sudah ga kuat lagi, mungkin sudah saatnya aku untuk menyerah"
Seperti biasa Damar akan mendapatkan perawatan dengan cara terbaik agar dia bisa tetap bertahan hidup, dan dia pun saat itu dalam keadaan sadar saat ada pengawal yang sedang memeriksa keadaannya
"Saya mohon maafkan kesalahan saya, kenapa kalian melakukan ini ke saya?"
"Seharusnya kamu ga pernah punya pikiran kotor yang terakhir kamu itu, mungkin kamu ga akan merasakan seperti ini"
Selesai memberikan perawatan para pengawal keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Damar yang sudah mulai tak sanggup lagi, dan akhirnya dia pun memilih untuk menyerah lalu mengakhiri semua penderitaan yang dia rasakan
Damar mulai menggigit lidahnya sendiri dengan semua kekuatan yang dia punya hingga pendarahan hebat pun terjadi, dan di sisa kesadaran yang masih tersisa bayangan tentang apa yang telah dia lakukan terhadap Sekar terlintas dengan jelas di dalam benaknya
"Benar kata orang itu saya memang ga pantas di sebut sebagai seorang manusia, saya melakukan hal itu sambil tertawa di hadapan kamu. Saya minta maaf dengan tulus ke kamu"
"Pah, mah tolong maafin Damar ya, karena perbuatan Damar kalian ikut terseret ke dalam masalah ini. Damar benar-benar menyesal dengan semua yang udah Damar lakuin, Damar harap hidup kalian ke depan akan lebih baik lagi"
Para pengawal yang masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melihat keadaan Damar pun menjadi panik melihat hal tersebut, mereka berusaha melakukan pertolongan terhadap Damar tetapi hasilnya hanya sia-sia karena Damar sudah tak bernyawa. Para pengawal pun segera melaporkan hal tersebut kepada Ervan yang sedang asik di depan laptopnya
Tok..Tok..Tok..
"Masuk"
"Maaf pak saat kami berjaga di luar ruangan Damar menggigit lidahnya sendiri dan terjadi pendarahan hebat"
"Lalu?"
"Maaf pak kami ga berhasil menyelamatkan nyawa Damar" dengan perasaan takut dan menundukkan kepalanya
"Kenapa dia menyerah dengan mudah? bukankah nyali dia terlalu besar"
Ternyata awalnya Ervan hanya berniat memberikan pelajaran terhadap Damar dan menghabisi dengan cepat, tetapi niat Ervan pun berubah saat mengetahui rencana terakhirnya Damar
"Kuburkan mayat Damar dengan layak" dingin
"Baik pak" segera keluar dari ruangan tersebut
Ervan pun segera menghubungi Nino yang saat itu sedang makan siang di luar bersama Sekar
__ADS_1
Tut..Tut..Tut...
"Halo"
"Saya cuma mau melaporkan dia sudah menyerah pak, ga akan ada lagi yang punya pikiran untuk mengganggu ibu Sekar"
"Makasih ya Van"
"Sudah kewajiban saya pak"
"Terus gimana dengan.."
Ervan paham dengan arah tujuan omongan Nino saat itu
"Sudah saya perintahkan kuburkan dengan layak pak"
"Bagaimana pun juga dia manusia, ga pantas kalo saat terakhirnya kami masih merendahkan dia"
"Sekali lagi makasih Van"
"Sama-sama pak"
Nino pun memutuskan sambungan teleponnya, dan langsung menatap ke arah Sekar dengan tersenyum
"Siapa kak?"
"Ervan"
"Kenapa? apa ada masalah di kantor?"
"Ga kok sayang cuma kasih laporan aja," tersenyum
"Maaf ya sayang aku harus bohong sama kamu, tapi dengan sifat kamu yang begini aku yakin pasti kejadian Viona akan keulang lagi. Tapi orang ini sudah keterlaluan, bahkan dia mau melakukan hal itu lagi sama kamu di hadapan aku. Kalo itu benar terjadi aku ga akan sanggup lanjutin hidup aku ini"
"Gimana kalo habis ini kita keliling cari oleh-oleh kak?"
"Oleh-oleh?" mengerutkan keningnya
Sekar pun tersenyum sambil mengangguk kecil
"Kok sudah mau pulang? kamu bilang kamu suka di sini"
"Aku rasa bulan madu kita udah cukup kak, udah lima hari kita di sini. Aku juga kangen sama Ajeng dan Dimas"
"Padahal tadinya aku berencana kita akan ada di sini selama satu bulan"
"Mana ada orang bulan madu sampe satu bulan kak, kan kak Nino bilang bakal sering ajak aku ke sini. Jadi buat yang sekarang sampe sini aja" tersenyum
__ADS_1
Dan sudah pasti Nino tak akan menolak permintaan dari Sekar, setelah menyelesaikan makan siang mereka pun berkeliling tempat itu dan memilih banyak sekali barang untuk di jadikan oleh-oleh