
Tanpa menunggu di persilahkan terlebih dahulu Ervan langsung mendudukkan dirinya tepat di hadapan Viona
"Saya ga minta kamu untuk duduk"
"Tapi saya mau duduk, dan ga ada orang di dunia ini yang bisa melarang saya melakukan apapun kecuali pak Nino" dengan tegas
"Apa sih maunya orang ini? cuma sekretaris pribadi aja bisa berbuat semaunya begini. Tadi om juga kasih aku peringatan tentang orang ini"
"Terserah kamu mau berbuat apa? kalo kamu mau duduk di sini biar saya yang pergi" Viona sudah mulai bangkit dari duduknya
"Saya harap kamu bisa duduk dengan tenang dan dengarkan semua yang mau saya sampaikan" dengan dingin tetapi penuh penekanan, membuat Viona sang gadis cantik tersebut seperti kehilangan seluruh tenaga yang dia miliki
Tekanan yang di berikan oleh Ervan membuat Viona mendudukkan dirinya kembali tanpa dia sadari
"Apa mau kamu?"
"Saya cuma mau kasih kamu sebuah saran, kalo kamu memang terlibat dengan kecelakaan yang menimpa perempuan yang di cintai pak Nino, sebaiknya kamu mulai lari dan bersembunyi dari sekarang. Karena saya akan membalas semua orang yang menyakiti Nino" melepaskan tatapan membunuhnya
"Tenang Viona kamu ga meninggalkan jejak apapun, orang ini cuma memancing kamu supaya bersuara"
"Saya ga ngerti sama yang kamu omongin"
Ervan melepaskan senyuman mengejek "Itu cuma sebuah saran gratis yang bisa saya berikan, karena saya hanya perlu menunggu supir itu terbangun. Saya akan lakukan cara apapun untuk tau kebenarannya"
"Kenapa bisa lupa bagian itu? Nino orang nomor satu di kota ini. Supir itu pasti buka mulut, saya harus cari cara secepatnya menyingkirkan supir bodoh itu"
"Kalau begitu saya permisi dulu" mulai bangkit dari duduknya
"Sayang sekali kalau wajah cantik yang kamu miliki harus hilang untuk selamanya" memberikan senyuman yang mengerikan
Ervan pergi meninggalkan Viona di sana, sedangkan di sana Viona hanya bisa terdiam dengan sekujur tubuh gemetaran akibat tekanan yang di berikan oleh Ervan
__ADS_1
"Ga aku ga boleh kalah sama perempuan itu, cuma aku yang bisa memiliki Nino. Ervan ga akan bisa melakukan apapun saat nanti Nino berada di genggaman aku, sekarang aku harus pikirin cara singkirin supir bodoh itu dulu baru perempuan ga tau diri yang merebut Nino dari aku"
Di dalam ruang rawat Sekar kini sudah ada adik-adiknya Sekar mereka menangis pilu melihat keadaan kakaknya, terutama si bungsu Ajeng. Nino sampai harus memeluk Ajeng pada saat itu
"Kamu jangan nangis lagi ya, kasian kak Sekar kalo nanti bangun liat kamu lagi sedih gini" mencoba untuk tersenyum
"Kak Sekar baik-baik aja kan kak?"
Nino melepaskan pelukannya dan mencoba menatap lebih jauh manik mata Ajeng, dia berusaha memberikan sebuah keyakinan kepada gadis kecil tersebut
"Ajeng tau kan kalo kak Sekar itu orang yang kuat" Ajeng mengangguk kecil
"Jadi kak Nino juga yakin kak Sekar pasti bangun, kak Sekar pasti ada di tengah kita lagi"
Setelah puas melihat keadaan Sekar, Nino meminta supir untuk mengantarkan mereka kembali ke kediamannya. Walaupun sudah pasti awalnya mereka menolak, mereka ingin tetap berada di dekat kakak mereka
Nino menggunakan seribu cara agar berhasil membujuk mereka kembali, bagaimana pun juga mereka hanyalah seorang anak kecil. Nino hanya takut mereka akan semakin terpukul bila melihat keadaan Sekar di depan mata mereka
"Bangun dong putri tidur, kamu mau sampe kapan begini? apa kamu ga tau aku ngerasa udah hampir gila sekarang? rasanya aku mau cari orang yang berani lakuin ini sama kamu bahkan bila harus menghancurkan seluruh kota ini"
Sedangkan di tempat yang berbeda Ervan sedang menyusun sebuah rencana karena dia sangat yakin dia sudah melemparkan umpan pada sasaran yang tepat, dia hanya akan menunggu sang ikan terpancing. Yang ada di dalam pikiran Ervan saat itu hanyalah dia harus membalas orang yang telah menyakiti Nino
Ternyata saat papanya Nino datang menemui Viona Ervan belum tiba, baru tak berapa lama dia pun tiba di sana dan mengambil bangku tepat di belakang papanya Nino. kata-kata yang di ucapkan oleh papanya Nino membuat kecurigaan dia kepada Viona semakin kuat
Ervan sudah lebih dulu mencari info tentang Viona, semenjak rencana perjodohan Nino dan Viona di ajukan oleh papanya Nino. Ervan hanya ingin berjaga dan tak mau memberikan celah walaupun dia harus tetap kecolongan
Pada saat mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa Sekar, hal pertama yang di lakukan oleh Ervan adalah mencari tau di mana keberadaan Viona saat itu. Sesuai dugaan Viona sudah beberapa hari berada di kota itu
Ervan tak mau gegabah dia pun harus punya cukup bukti sebelum memberikan laporan kepada Nino, karena dia hanya bisa melakukan yang terbaik tetapi semua keputusan akhir akan dia serahkan kepada Nino
Setelah menyelesaikan semua rencananya Ervan kembali ke ruang rawat Sekar dan melihat Nino masih dalam keadaan terpukul, Ervan mulai mendekati Nino dan menggenggam erat pundaknya
__ADS_1
"Kalo ga kuat aku ijinin kamu buat nangis sekali ini"
Air mata Nino seakan mengkhianati dirinya, air mata yang sedari tadi sudah dia tahan mengalir begitu saja. Ervan pun membiarkan Nino melepaskan semua rasa yang bersarang di dalam hatinya, setelah puas melepaskan semua beban di hatinya Nino pun bangkit dari duduknya dan menghadap ke jendela menatap ke arah luar
"Gimana Van?"
"Saya lagi kumpulin semua buktinya pak"
"Jangan ada satu orang pun yang bertindak, saya sendiri yang akan membalas perbuatan dia ke Sekar. Saya akan buat dia memohon akan kematiannya" terdengar penuh amarah
"Baik pak"
Secara perlahan Sekar mulai membuka matanya tanpa ada satu orang pun yang menyadari, posisi berdiri Nino dan Ervan sedang membelakangi dirinya. Dan sudah pasti Sekar mendengar semua ucapan mereka
"Maaf kalian siapa ya?" dengan suara yang lemah, membuat mereka tak menyadari ucapan Sekar pada saat itu
Secara serentak Nino dan Ervan mengalihkan pandangannya ke arah Sekar, ternyata Sekar sudah mulai tersadar dari tidur panjangnya. Mereka pun langsung mendekat ke arah Sekar
"Kamu udah bangun?" berkaca-kaca
"Terima kasih kamu udah ada di hadapan saya lagi, kamu ga tau setakut apa saya waktu melihat kamu cuma tertidur. Saya benar-benar takut kamu ga akan terbangun lagi kayak mama dulu"
"Maaf kamu siapa ya?" menatap bingung ke arah Nino
"Van tolong panggil dokter" lirih
"Baik pak" Tanpa menunda waktu Ervan langsung meninggalkan ruangan tersebut untuk memanggil dokter yang menangani Sekar
"Kamu pasti lagi bercanda kan?" meneteskan air matanya
Sekar benar-benar tak dapat mengingat siapa orang yang kini berada di hadapannya tetapi hatinya juga merasakan sakit saat melihat Nino menjatuhkan air matanya
__ADS_1