
Sepanjang malam Ricardo menunggu dengan setia di samping tubuh Sekar yang belum sadarkan diri dan menatap ke arah Sekar dengan perasaan bersalah
"Maaf aku ga bermaksud nyakitin kamu, aku cuma marah saat membayangkan nasib aku dan suami kamu"
Secara perlahan Sekar pun mulai membuka matanya, kedua bola matanya pun langsung membulat dengan sempurna melihat Ricardo yang duduk di sampingnya dan terus menatap ke arah dirinya
"Tolong jangan sakiti saya" lirih
"Saya minta maaf, saya ga bermaksud menyakiti kamu" menundukkan kepalanya
"Apa aku ga salah liat ya? dia keliatan menyesal. Ga tau kenapa tapi aku ngerasa dia bukan orang jahat, dia lebih terlihat seperti orang yang kesepian"
"Sebaiknya kamu istirahat dengan tenang, saya akan jamin ga ada yang akan berani menyakiti kamu selama di sini"
Ricardo pun mulai bangkit dan keluar dari dalam kamar Sekar, dia pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan mulai merebahkan tubuhnya
"Hampir aja aku gelap mata, prinsip yang selama ini aku pegang untuk tidak pernah menyakiti wanita hampir saja terjadi"
Sedangkan di tempat yang berbeda Ervan dan Nino sedang menunggu kabar dengan cemas dari orang-orang yang mereka sebar, Nino terlihat khawatir akan keadaan Sekar yang sedang mengandung anaknya. Tetapi Ervan terlihat memendam perasaan amarah yang sangat besar
"Apa ga sebaiknya kamu temani istri kamu di rumah sakit Van?"
"Ga.. Saya mau di sini" dengan tegas
"Dia pasti berharap kamu ada di sampingnya saat dia membuka mata Van"
Ervan menatap tajam ke arah Nino membuat nyali Nino sedikit bergetar karena ini adalah kali pertama Ervan berani menatap Nino seperti itu
"Saya ga punya keberanian untuk menemui dia sebelum saya berhasil membalas orang yang membuat dia menjadi seperti itu" dengan tegas
"Gila ini pertama kalinya Ervan melihat aku dengan tatapan seperti itu, aku aja bisa merasa takut gimana dengan orang yang selama ini berurusan sama dia ya?"
"Apa kamu berniat menghalangi saya membalas adik kamu itu?"
Ervan melepaskan senyuman yang menakutkan sambil memiringkan sedikit kepalanya
"Kamu ngomong apa sih Van? apa yang kamu rasain sama dengan saya. Saya cuma mau kamu ada di samping istri kamu saat keadaan dia seperti itu"
__ADS_1
Untuk sejenak Ervan hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang sama
"Saya belum pernah meminta apapun dari kamu selama ini, saya cuma minta saat nanti anak itu ada di depan saya jangan halangi apapun yang akan saya lakukan"
"Saya janji Van"
Sedangkan di tempat yang berbeda di salah satu ruang bawah tanah bangunan mewah milik Ricardo ada seseorang yang terus berteriak meminta untuk di lepaskan
"Lepasin saya!! Bagaimana pun juga saya adalah orang kalian sendiri!!"
"Berisik!"
Seseorang di ruangan tersebut berdiri di depan pintu karena mulai merasa kesal
"Tapi kenapa kalian lakuin ini ke saya? cuma karena sebuah kesalahan kecil"
"Kamu bilang kamu bagian dari kami, tapi kamu berani ambil keputusan bodoh seperti itu!!" menatap tajam
"Kita bukan orang baik!! apa salahnya saya meminta untuk tabrak wanita itu?"
"Ya kamu benar kami memang bukan orang baik, kami melakukan semua pekerjaan kotor yang orang perintahkan"
"Karena kamu memerintahkan menabrak wanita itu, bos mempunyai prinsip untuk tidak pernah menyakiti wanita"
"Sial, apa artinya selamanya gw akan ada di sini? ini namanya bukan gw balas sakit hati gw ke Nino, yang ada gw kejebak sama orang ini"
Orang tersebut tak lain adalah Alvin dengan perasaan cemas Alvin hanya bisa terduduk lemas
"Ga.. Aku ga boleh berakhir di sini!! aku harus balas semua kesombongan Sekar dan Nino!!"
Pintu ruangan di mana Alvin di sekap pun kembali di kunci oleh orang tersebut, Alvin bisa bergabung dengan mereka beberapa bulan terakhir karena Ricardo memerintahkan anak buahnya membawa Alvin menemui dirinya
Alvin di minta untuk terus mendekati pacarnya agar menggali informasi tentang Sekar dan Nino yang sulit di tembus oleh Ricardo karena perlindungan yang ketat dari Ervan
Pada saat kejadian Ricardo tidak ikut turun dan memberikan perintah kepada anak buahnya untuk mengikuti Alvin, dan Alvin pun membuat kesalahan besar di mata Ricardo
Hari demi hari pun terus berlalu di tempat yang berbeda ada Nino dan Ervan serta bantuan dari semua orang sedang terus mencari di mana posisi Ricardo saat ini, mereka seperti mencari sebuah jarum di atas tumpukan jerami. Karena semua orang yang bersangkutan dengan Ricardo lebih rela mengakhiri nyawa mereka ketimbang mengatakan di mana posisi Ricardo saat ini
__ADS_1
Sedangkan di rumah sakit Citra mulai membuka ke dua bola matanya secara perlahan, Citra yang telah sadar membuat semua orang yang selalu setia berada di sampingnya menjadi bahagia walaupun semua hanya sesaat
"Sayang kamu sudah bangun sayang" berlinangan air mata
"Mah" dengan suara yang pelan dan berusaha tersenyum
"Kak Ervan mana mah?"
"Mama hubungi dia ya, mama kasih tau kalau kamu sudah sadar"
"Ya mah, aku mau ketemu kak Ervan"
Citra terlihat hendak menggerakkan tubuhnya untuk membuat posisinya lebih nyaman, karena dia merasa seluruh tubuhnya seperti lemas. Dan akhirnya dia pun menyadari sesuatu
"Mah.."
"Kenapa sayang? apa ada yang sakit? mama panggil dokter ya sayang"
"Kaki aku kenapa seperti mati rasa ya mah?"
Dalam sekejap hati seorang ibu yang sedang berbahagia karena anaknya telah sadar menjadi hancur lebur, karena dia harus menyampaikan kepada buah hatinya bahwa kini anaknya sudah kehilangan salah satu kakinya. Salah satu kaki Citra harus segera di amputasi setelah mengalami kecelakaan, hal tersebut harus di lakukan karena itu adalah jalan terbaik yang bisa di ambil
"Mah jawab mah"
"Kamu harus sabar ya sayang"
Citra yang sadar betul bila ada sesuatu yang sudah terjadi mencoba membuang selimut yang menutupi kakinya, dia tak bisa lagi berkata apa-apa hanya ada air mata yang mengalir dengan deras dari kedua bola mata indahnya
"Mama tau ini pasti berat untuk kamu sayang tapi kamu harus kuat, karena kami semua ada untuk kamu sayang"
"Tolong aku mah" dengan suara yang bergetar
"Kamu mau apa sayang? mama janji mama akan lakukan apapun yang terbaik untuk kesembuhan kamu"
"Bawa aku pergi dari sini mah, dan jangan biarin kak Ervan lihat keadaan aku mah yang seperti ini mah"
"Tapi sayang"
__ADS_1
"Tolong bantu aku mah, aku yang sekarang sudah ga pantas lagi ada di samping kak Ervan mah. Aku mohon sama mama, bawa aku sejauh mungkin dari tempat ini mah"
Mamanya Citra hanya bisa menangis dengan hebatnya, di balik rasa bahagia karena anaknya sudah terbangun dari tidurnya terselip kesedihan yang teramat dalam