
Mobil yang mengantarkan Sekar sudah memasuki gerbang rumah mewah tersebut Sekar tak henti-hentinya memandangi kemegahan rumah tersebut, Sekar dapat dengan mudah memasuki rumah tersebut karena Ervan sudah memberitahukan kepada penjaga gerbang
"Ya ampun ini rumah apa istana ya? ini sih kalo aku bawa orang-orang di kampung aku ke sini semua juga bisa kayaknya," tersenyum geli "tapi kata pak Ervan pak Nino tinggal sendirian di sini, apa pak Nino ga merasa kesepian ya?"
Begitu tiba di pintu utama Sekar sudah di tunggu oleh pria paruh baya yang menjadi kepala pelayan di tempat itu dan beberapa para pelayan, Sekar bak seorang putri yang di sambut kehadirannya. Dan itu semua bisa terjadi sudah pasti perintah dari Ervan
"Jangan bilang kalo orang-orang ini mau menyambut aku datang"
"Selamat pagi mbak Sekar," tersenyum ramah
"Selamat pagi pak" tersenyum canggung
"Apa-apaan sih? pasti bapak ini salah sangka di kira aku orang penting, padahal aku sama dia kan sama. Sama-sama orang yang kerja untuk pak Nino"
"Mari mbak saya antar ke kamar pak Nino"
"Terima kasih pak"
Sekar bisa merasakan ketulusan dari senyuman pria paruh baya tersebut, sedangkan pria paruh baya tersebut benar-benar bahagia menyambut kehadiran Sekar di rumah mewah tersebut. Karena Sekar adalah perempuan pertama yang datang ke rumah itu khusus untuk menjenguk Nino, tak lama kemudian mereka pun tiba di depan kamar Nino
"Silakan masuk mbak"
"Bapak ga ikut masuk ke dalam?" mengerutkan keningnya
"Pak Ervan cuma memberikan perintah untuk mengantarkan mbak Sekar ke kamar pak Nino dan tidak mengizinkan ikut masuk ke dalam, kami mana punya keberanian melawan perintah pak Ervan"
"Maaf mbak tapi kami masih banyak pekerjaan di belakang," dengan sopan sambil tersenyum
"Oh ya udah pak ga apa nanti saya masuk sendiri aja ke dalam, kalo nanti pak Nino lagi istirahat saya ga akan ganggu pak Nino"
"Kalo gitu kami permisi dulu ya mbak"
"Terima kasih ya pak"
"Sama-sama mbak," pria paruh baya tersebut dan pelayan yang lain pergi meninggalkan Sekar di depan pintu kamar Nino
Cukup lama juga Sekar hanya diam mematung di depan kamar Nino, dia agak ragu untuk masuk ke dalam mengingat kejadian saat di ruang istirahat Nino. Hingga tiba-tiba sebuah pesan yang di kirimkan oleh Ervan masuk ke dalam ponselnya
"Kalo kamu sudah sampe sana langsung aja masuk ke dalam kamar pak Nino, dan tolong jaga pak Nino sampe saya datang"
Hal tersebut Ervan lakukan karena mengingat sikap Sekar yang terlalu polos dia yakin Sekar akan ragu untuk masuk ke dalam kamar Nino, Sekar pun mencoba mengumpulkan keberaniannya dan mulai masuk ke dalam kamar Nino
__ADS_1
"Ya kamar pak Nino kalo di bandingkan sama rumah aku di kampung masih jauh lebih besar kamar pak Nino"
Sekar mulai berjalan ke arah Nino yang sedang terbaring di atas kasur, Sekar juga melihat ada beberapa obat-obatan yang berada di atas meja samping kasur
"Muka pak Nino pucat banget ya," tanpa sadar Sekar menjulurkan tangannya ke kening Nino, dia berusaha memeriksa suhu tubuh Nino
"Kayaknya panas pak Nino udah turun"
Hal yang tidak terduga pun akhirnya terjadi karena Nino tiba-tiba saja membuka ke dua bola matanya karena merasa ada yang memegang keningnya
"Ini pasti cuma mimpi, apa karena aku terlalu kangen sama dia? dia jadi bisa datang ke mimpi aku"
Nino memejamkan ke dua bola matanya sejenak dan mencoba membuka kembali ke dua bola matanya, dan dia masih melihat Sekar berada di tempat yang sama
"Ini kan mimpi aku, jadi suka-suka aku dong mau apa? kalo aku ga bisa lakukan saat di dunia nyata, aku bisa lakukan itu walaupun sebatas mimpi"
Sekar masih diam mematung di hadapan Nino rasa takutnya membuat dia tak dapat mengeluarkan suara apapun, tiba-tiba saja Nino menarik tangan Sekar hingga Sekar terjatuh ke tempat tidur dan berada tepat di dalam pelukan Nino
"Aduh pak Nino mau ngapain ya?"
Nino yang masih belum sadar jika itu bukan lah sebuah mimpi belaka memeluk tubuh Sekar dengan lembut, dan pelukan hangat dari Nino berhasil membuat wajah Sekar menjadi merona
Sekar merasakan ada perbedaan antara pelukan hangat Nino dan pelukan dari Alvin saat akan melecehkan dirinya, saat itu Sekar sama sekali tidak merasakan takut berada di dalam pelukan hangat Nino
"Mimpi apa ya pak?" dengan polosnya
"Tunggu kalo cuma mimpi kenapa suara Sekar bisa sejelas ini ya?"
Nino membuka ke dua bola matanya dengan sempurna dan melihat Sekar berada di dalam pelukannya, Nino langsung melepaskan pelukannya dan duduk dengan benar Sekar pun ikut mendudukkan dirinya. Nino mencoba mencubit pipinya sendiri untuk meyakinkan dirinya satu kali lagi bahwa Sekar yang kini berada di hadapannya sebuah mimpi atau kenyataan
"Kok sakit ya? jadi yang tadi aku tarik dan aku peluk benar-benar Sekar, gimana ini? gimana kalo dia jadi marah sama karena aku sembarangan peluk dia?"
"Apa bapak baik-baik aja?" khawatir dan langsung berdiri karena melihat wajah Nino yang tampak cemas
"Akh..!!"
"Kenapa pak? apa ada yang sakit?" semakin khawatir melihat Nino yang tiba-tiba berteriak
"Maaf tadi saya udah sembarangan peluk kamu"
"Sumpah pak Nino yang begini imut banget, tapi yang harusnya teriak kan aku. Kenapa jadi pak Nino yang teriak?"
__ADS_1
"Ga apa pak kan cuma mimpi," menahan tawanya
"Tunggu, kamu kenapa bisa ada di sini?"
"Tadi saya minta ijin ke pak Ervan buat jenguk bapak, katanya bapak lagi sakit"
"Kebangetan Ervan, harusnya minimal dia kasih kode dong. Jadi ga akan ada kejadian kayak tadi"
"Maaf pak kalo saya sudah lancang masuk ke kamar bapak, apalagi tadi saya berani pegang kening bapak"
"Loh kok jadi dia yang minta maaf, apa dia masih inget kejadian waktu itu? kamu ga tau Sekar bagaimana perasaan saya saat ini kamu ada di sini, tapi maaf bibir saya terlalu berat untuk bilang semua yang saya rasakan"
"Kamu ga salah kok, saya yang salah tadi peluk kamu sembarangan. Kamu tunggu sebentar ya saya ganti baju dulu"
"Iya pak"
Nino bergegas masuk ke ruang ganti sebenernya dia hanya mencoba menghindar sejenak dari Sekar untuk mengatur detak jantungnya yang berdetak sangat cepat, dan setelah dia berhasil mengendalikan detak jantungnya secepat kilat Nino mengganti pakaiannya lalu keluar dan menemui Sekar
"Kamu udah makan siang belum?"
"Tapi pak ini belum waktunya makan siang," dengan polosnya
"Ya udah ayo kita sarapan"
"Perasaan aku aja atau memang pak Nino kelihatan kayak lagi salah tingkah ya"
"Tapi saya udah sarapan pak, ini kan udah jam sepuluh," melihat jam tangannya
"Sumpah Nino kamu kayak orang bodoh kalo di hadapan perempuan ini"
"Terus kamu mau apa dong ke sini?"
"Mau jenguk bapak," tersenyum dengan tulus
"Kalo dia bilang mau jenguk, sekarang dia udah jenguk aku berarti dia bakal pulang dong. Tapi aku masih mau berduaan sama dia"
"Kalo temenin saya jalan-jalan di taman mau?"
Sekar langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu, melihat hal tersebut Nino langsung panik dan berlari kecil ke arah pintu dan memegang tangan Sekar
"Kamu mau ke mana?"
__ADS_1
"Mau temenin bapak ke taman," tersenyum dengan tulus