
Hari demi hari pun terus berlalu hubungan Sekar dan Rendi semakin baik, sedangkan Nino benar-benar menjadi sosok yang pendiam bila di hadapan Sekar. Sekar benar-benar tidak mengerti apa yang telah terjadi sehingga dia memutuskan untuk mengikuti segala keinginan Nino, dia hanya selalu berada di samping Nino tanpa banyak bicara. Semenjak itu pun Nino sudah tidak pernah lagi singgah di rumah Sekar
Siang itu Nino dan Sekar sedang berada di ruangan Nino masih dengan keadaan yang sama dengan saling diam, Nino menyibukkan diri dengan segudang pekerjaan sedangkan Sekar menyibukkan diri dengan segala tugas dari kampusnya
Tut.. Tut.. Tut.. Nino hanya melirik sekilas "angkat aja"
"Ya pak" sambil mengangguk
"Assalamu'alaikum"
"Wa alaikum salam, kamu lagi di mana Sekar?"
"Lagi kerja kak, ada apa ya?"
"Besok temen aku ada rayain acara ulang tahun, kamu tolong temenin aku ya"
"Maaf kak kayaknya aku ga bisa, aku ada kuliah pagi abis itu langsung ke kantor"
"Acaranya jam tujuh malam kok"
"Gimana ya?" aku ga biasa keluar malam kak" Sekar hanya berusaha untuk menolak secara halus, karena dia sempat melihat Nino yangh melirik ke arahnya
"Oh.. Aku tau masalahnya ada di mana, nanti aku telpon lagi ya" Sekar belum sempat menjawab apapun Rendi sudah memutuskan sambungan teleponnya
Tak selang berapa lama suara ponsel Nino pun berdering, Nino memandang dengan malas karena ponselnya karena itu adalah panggilan telpon dari Rendi. Dengan berat hati Nino pun mengangkat panggilan itu
"Hem..."
"Kak aku mau minta ijin ajak Sekar jalan ya"
"Apa sih maunya anak ini? apa dia mau pamer sama aku?" terus kenapa ngomong sama kak Nino?" dingin
"Sekar tadi udah nolak"
__ADS_1
"Ya udah kalo ga mau jangan di paksa"
"Ga bisa gitu dong, kak Nino harus bantu aku kasih perintah ke dia supaya mau ikut aku ke acara nanti malam"
"Ren.." Menaikkan nada suaranya
"Kak Nino kan udah janji"
"Sial harusnya dulu aku jangan pernah janjikan itu ke dia" langsung memutuskan sambungan teleponnya, Sekar hanya bisa menatap Nino dari kejauhan dengan perasaan bingung melihat ekspresi Nino
FLASH BACK
Setelah kepergian mamanya untuk selamanya seperti ada sebuah penyesalan yang mendalam bagi kakek Nino dari keluarga Erlangga, sang kakek yang mengetahui bahwa Nino menolak untuk ikut papanya memilih untuk sering mengunjungi Nino di kediamannya
Dan setiap sang kakek datang dia pun melihat Nino yang sedang berusaha keras untuk belajar dan belajar, bahkan tampak dengan jelas bahwa Nino benar-benar seperti ingin lari dari beban hidupnya dengan cara itu. Lalu sang kakek mengambil inisiatif untuk mengusir rasa canggung di awal hubungan mereka dengan cara selalu membawa Rendi ke sana
Rendi yang masih sangat kecil dan tak mengetahui apapun masalah yang telah terjadi di tengah keluarga Erlangga melihat sosok Nino sebagai seorang idola, sang kakek hanya memberitahu ke Rendi Nino baru saja di tinggal oleh mamanya untuk selamanya dan memilih untuk menjalani hidup sendiri. Rendi akhirnya menjadikan Nino sebagai sosok idola yang sedang terjatuh
Dan kejadian yang sangat tak terduga pun terjadi saat Nino hampir saja terjatuh dari tangga Rendi kecil yang masih polos mendorong Nino sekuat tenaga dan dia pun menggantikan posisi Nino terjun bebas di tangga, Nino hanya bisa terdiam dan pucat pasi pada saat itu
Dengan sigap Rendi di bawa ke rumah sakit hingga dia harus menjalani sebuah operasi karena ada pendarahan di bagian otaknya, dan Rendi pun mengalami patah tulang pada bagian kaki dan beberapa tulang rusuknya
Saat orang tua Rendi tiba di rumah sakit Nino menjadi sasaran empuk bagi mereka, dan hampir semua keluarga besar Erlangga ikut memberikan tatapan mata dan kata-kata yang menyakitkan kepada dirinya. Dan yang membuat Nino semakin membenci papanya terjadi di situ karena sang papa hanya diam melihat anaknya di perlakukan seperti itu
Begitu sang kakek tiba setelah menjemput istrinya berbarengan dengan beberapa orang yang masih melakukan intimidasi terhadap Nino, pada saat itu sang kakek membela Nino dengan sepenuh hati. Nino hanya bisa terdiam seribu bahasa melihat itu semua, karena jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat berharap papanya yang akan berdiri melindungi dirinya
Sang kakek langsung mengantarkan Nino kembali ke kediamannya sambil berpesan bila Rendi akan baik-baik saja dia tak perlu terlalu memikirkan perkataan orang-orang tadi, tetapi itu tak terjadi lama setelah Rendi sadar Rendi langsung ingin bertemu dengan Nino. Nino pun di jemput kembali oleh papanya
Begitu Nino memasuki ruang rawat Rendi hampir semua orang kembali memberikan tatapan mata seperti sebelumnya, Nino tak mau ambil pusing dia langsung berjalan mendekati Rendi. Dari kejauhan Nino sudah dapat melihat bahwa Rendi tersenyum menyambut kehadirannya, belum sempat Nino membuka mulutnya Rendi sudah terlebih dahulu bersuara
"Kak Nino ga apa kan?" memaksa untuk tersenyum
"Kenapa dia tanya aku? yang terbaring sekarang kan dia" kak Nino ga apa kok, kamu sendiri gimana sakit ya?"
__ADS_1
"Ga kok kak aku kan kuat yang penting kak Nino ga kenapa-napa" tersenyum
"Syukur deh kalo kamu ga kenapa-napa"
"Enak banget kamu bilang ga kenapa-napa..!! Apa kamu ga liat keadaan anak saya sekarang jadi begitu?!! Kamu tau tulang kakinya patah dan beberapa tulang rusuknya juga patah pasti kamu sengaja kan bikin anak saya begini!!"
"Harusnya anak sialan seperti kamu yang terbaring di situ..!! Kenapa harus anak saya yang mengalami itu?!! Untuk sementara dia ga bisa berjalan apalagi bermain bola, bermain bola adalah hal yang paling dia suka..!!" Seorang wanita yang tak lain adalah mamanya Rendi terus berteriak kepada Nino sedangkan Nino hanya bisa terdiam seribu bahasa
"Anak sialan seperti kamu seharusnya pergi aja menyusul mama kamu"
Degh.. Ada perasaan sakit yang amat dia rasakan pada saat itu "Apa aku bertahan di sini adalah pilihan yang salah? aku mungkin memang cuma anak pembawa sial makanya semua masalah bisa datang ke keluarga kami. Karena Tuhan ga sayang sama aku" menundukkan kepalanya
Baru saja papanya Nino berdiri untuk membantu anaknya, tetapi suara tegas dari sang tetua keluarga Erlangga yang tak lain adalah sang kakek langsung membuat semua orang tak berkutik
"Udah cukup Adelia" berjalan mendekati Nino, meletakkan tangannya di pundak Nino yang masih saja setia menundukkan kepalanya
"Anak ini namanya Nino Erlangga, dan dia adalah cucu laki-laki pertama saya. Siapapun yang berani mengatakan hal yang aneh-aneh lagi berarti kalian berurusan dengan saya" dengan tegas
"Tapi pah Rendi kan jadi..." Langsung menutup mulutnya karena tatapan tajam dari sang kakek
"Saya akan menjamin kesembuhan Rendi, saya akan datangkan tim dokter terbaik. Jadi masalah ini cukup sampai di sini"
"Ayo Nino kita pulang" Nino hanya bisa menjawab dengan anggukan kepalanya, sebelum Nino pergi Nino kembali menghampiri Rendi
"Kak Nino minta maaf ya, kak Nino janji kamu boleh minta apapun dari kak Nino sebagai permintaan maaf dari kak Nino"
"Kak Nino janji ya" Nino menjawab dengan anggukan kepalanya
"Tapi kak Nino minta dari kamu mulai sekarang jangan pernah datang lagi ke rumah kak Nino, dan jangan dekat-dekat lagi sama kak Nino"
Itu lah yang membuat Nino mempunyai sebuah janji kepada Rendi
FLASH OFF
__ADS_1