Kisah Cinta Sang Gadis Desa

Kisah Cinta Sang Gadis Desa
Meminta penjelasan


__ADS_3

Cukup lama Viona menangis hebat sedangkan tuan Ricard setia memeluk tubuh mungil anaknya tersebut, Jo yang duduk di hadapan mereka sangat bingung melihat keadaan adiknya. Jo sangat yakin pasti sesuatu yang sangat menakutkan yang sudah di alami oleh adiknya itu, karena Jo bisa melihat jiwa sombong yang selama ini di bangun oleh Viona seolah luntur begitu saja


Tuan Ricard mulai melepaskan pelukannya setelah merasa Viona sedikit tenang, dia pun menatap putrinya dengan hangat sambil menggenggam tangan Viona


"Sekarang kamu bilang sama papa, apa yang bikin kamu takut sampai seperti ini?"


Viona pun mulai mengingat kembali kenangan pahit yang mungkin tak akan bisa dia lupakan seumur hidupnya itu, dia pun mulai menceritakan semua yang telah dia alami


Di mulai dari cara Nino pria yang membuat dia jatuh cinta walaupun mereka belum pernah bertemu itu memperlakukan dirinya, memandang dirinya seperti dia adalah sesuatu yang sangat menjanjikan. Dia pun menceritakan di mana tangan para pria itu mulai menggerayangi tubuhnya, tetapi di antara semua kejadian tersebut hanya satu yang membuat dia paling takut adalah yang di lakukan oleh Ervan


Di saat para pria itu mulai menggerayangi tubuhnya Nino langsung memalingkan wajahnya seakan Nino tak sanggup melihat itu, semua dia lakukan hanya sebatas untuk membalas apa yang telah Viona lakukan. Tetapi berbeda dengan yang Ervan lakukan, di saat para pria itu memulai aksinya dia seolah tersenyum puas melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya. Seakan dia sedang berbicara kepada Viona bahwa itu barulah permulaan saja


Saat itu Viona melihat sosok Ervan yang seharusnya tampan dan gagah bagaikan iblis yang sedang menikmati sebuah pertunjukan hasil karyanya


Tubuh Viona menjadi bergetar dengan hebat saat selesai menceritakan itu semua, dan alasannya hanya satu yaitu tatapan mata Ervan yang tak mungkin bisa dia lupakan kembali terlintas di dalam benaknya


"Kurang ajar mereka berani berbuat sejauh itu sama anak saya"


"Kamu ga usah takut lagi, papa janji papa akan balas semua perbuatan mereka"


Sang tuan besar terbakar emosi berbeda dengan Jonathan yang seperti tampak ragu, karena dia melihat dengan jelas bukan sesuatu yang mudah yang bisa membuat keadaan adiknya yang sampai seperti itu


Setelah menemui Viona mereka pun segera menemui sang dokter gadungan, karena menurut cerita Viona sang dokter gadungan berada di tempat yang sama pada saat kejadian. Tuan Ricard mau meminta sang dokter gadungan menjadi saksi mata, dan kini mereka sudah duduk saling berhadapan


"Kalian siapa?"


"Kami keluarga Viona, saya kakaknya dan dia papanya Viona"


"Ada perlu apa sama gw?" melepaskan senyuman sinis


"Kami datang ke sini mau meminta bantuan dari kamu, kami mau meminta kamu menjadi saksi mata"


"Maaf gw ga bisa bantu kalian" dengan tegas


"Kami akan berikan uang berapa pun yang kamu minta sebagai tanda terima kasih dari kami"


"Uang kalian ga akan ada artinya"


"Tapi apa yang Nino lakukan sudah keterlaluan..!! Viona anak perempuan satu-satunya keluarga kami, dia ga berhak lakuin ke Vio..!!"

__ADS_1


"Pah sabar pah, kita di sini mau minta bantuan dari dia. Papa sabar dulu"


Jonathan mencoba menenangkan papanya yang sudah mulai terpancing emosi


"Gw kasih kalian saran ke kalian karena perempuan bodoh itu udah bayar gw, dan gw ga berhasil jalanin apa yang dia minta. Anggap aja ini gw bayar utang gw yang kemarin"


"Siapa yang kamu maksud perempuan bodoh?"


"Siapa lagi kalo bukan anak lo itu"


"Kamu pikir kamu siapa berani ngomong begitu?"


"Pah sabar dulu"


"Gw orang paling sial karena ketemu anak lo itu, dia ga bilang kalo gw harus ketemu sama manusia itu" menatap tajam


"Maksud kamu gimana? adik saya juga mungkin ga sangka kalo Nino orang yang seperti itu"


Pria tersebut tertawa terbahak-bahak membuat papanya dan Jonathan menatap dirinya dengan tatapan bingung


"Kalian berdua sama aja sama perempuan itu awalnya, kalian pikir yang berbahaya itu Nino? kalian salah orang yang paling di takutin di kota ini bukan Nino tapi Ervan" tersenyum


"Ervan lagi, apa kamu kira keluarga kami bisa di gertak oleh seorang sekretaris?" dengan nada yang meremehkan


Ternyata pikiran seorang Jonathan bisa lebih jernih dan jeli dari pada papanya


"Silahkan di coba pak, yang penting gw udah bayar utang gw yang kemarin" langsung bangkit dari duduknya


"Oh ya kalo kalian mau cari orang kayak gw di kota ini, kalian ga akan bisa temukan lagi. Kami akan lakukan apapun untuk yang namanya uang bahkan bila harus mempertaruhkan nyawa kami, tapi kami ga akan berani mengganggu orang itu" tersenyum dan pergi meninggalkan mereka begitu saja


"Apa maksudnya orang itu Jo? gimana seorang sekretaris bisa punya nama seperti itu?"


"Aku rasa ada bagian yang kita ga tau pah, aku rasa omongan dia tadi ga bercanda"


"Papa ga perduli walaupun papa harus berhadapan sama dia, sekarang juga kita temuin Nino. Papa mau minta penjelasan dari mulut dua langsung"


"Aku ngerasa jalan kita ga akan semudah itu pah"


Mereka meninggalkan tempat itu dan langsung menuju ke kantor Nino, karena papanya tetap bersikeras untuk pergi ke sana walaupun Jonathan sudah berusaha untuk menghalangi. Tak butuh waktu yang lama mereka sudah berada di sana dan langsung menuju ke meja resepsionis

__ADS_1


"Maaf kami mau bertemu dengan pak Nino"


"Apa sudah membuat janji pak?"


"Bilang aja sama dia Ricard mau ketemu"


Jonathan merasa ekspresi resepsionis itu sempat berubah sejenak walaupun senyuman langsung menghiasi wajahnya


"Tunggu sebentar ya pak" Ricard mengangguk kecil


Resepsionis itu langsung menghubungi seseorang di lantai atas gedung itu


"Selamat siang pak"


"Siang"


"Maaf pak ada pak Ricard mau bertemu dengan pak Nino"


"Akhirnya datang juga mereka" tersenyum tipis


"Suruh mereka langsung ke ruangan pak Nino"


Mereka kan langsung di beritahukan di lantai berapa ruangan Nino berada, dan sesampainya di sana mereka langsung di sambut oleh seorang sekretis wanita dan di arahkan ke ruangan Nino


"Kamu sekretarisnya Nino ya?"


"Bukan pak saya sekretarisnya pak Ervan, dan sekretaris pak Nino itu pak Ervan" tersenyum ramah


"Gimana bisa sekretaris punya sekretaris lagi?" tuan Ricard tampak sedikit mengejek tetapi sekretaris tersebut hanya membalas dengan senyuman


Yang sebenarnya terjadi adalah Ervan memiliki kedudukan sebagai orang kedua di kantor itu, tetapi karena Nino memiliki sifat kurang nyaman bila bersama orang lain apalagi bila itu seorang wanita, maka Ervan yang berperan sebagai sekretaris pribadi Nino


Jonathan sempat melirik ke arah ruangan Ervan yang berdekatan dengan ruangan Nino dari papan nama yang tercantum di pintu ruangan tersebut


"Ini ruangan Ervan, aku jadi sedikit penasaran. Orang seperti apa yang beragam Ervan itu?"


Tok...Tok...Tok..


"Masuk"

__ADS_1


Sekretaris wanita tersebut membukakan pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam ruangan Nino, mereka langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan mendekat ke arah meja kerja Nino. Di bangku kebesaran Nino duduk seorang pria yang sangat tampan dan berwibawa, siapa lagi bila bukan Ervan


__ADS_2