
Secara perlahan Sekar dan Ricardo sudah mulai semakin akrab, Ricardo bisa merasakan kehangatan yang tulus dari sosok seorang Sekar. Sedangkan di tempat lain ada keadaan Citra semakin membaik, tetapi tekadnya semakin bulat untuk pergi meninggalkan Ervan
Semua orang sedang mempersiapkan diri untuk menyerang markas utama Ricardo, Semua orang-orang pilihan yang terbaik sudah di kumpulkan. Dan yang pasti Ervan meminta untuk tidak ada yang menyentuh Ricardo, karena dia sendiri yang akan melakukan pembalasan untuk Ricardo
Hari itu pun tiba hari di mana mereka akan melakukan penyerangan ke markas utama Ricardo, sebagian akan menyerang melalui jalur laut dan sebagian lagi akan memberikan serangan dadakan melalui udara. Sudah pasti semua di bawah komando Ervan dan Nino
Hari itu terasa tenang saat Sekar memutuskan untuk duduk di samping Ricardo dan memandang ke arah hamparan laut yang terbentang di hadapan mereka
"Gimana kabar kamu hari ini?"
"Sama aja ga ada yang berbeda"
"Ga mungkin"
Ricardo pun menatap ke arah Sekar sambil mengerutkan keningnya
"Soalnya sekarang ada aku sebagai seorang kakak yang duduk di sini nemenin kamu"
"Kakak ya, aku juga punya seorang kakak. Tapi aku yakin di dalam hatinya ga ada sedikit pun ruang buat aku"
"Mikirin apa?"
"Ga ada"
"Pasti kamu lagi mikirin kak Nino kan"
Ricardo hanya bisa terdiam karena entah mengapa dia tak pernah bisa berbohong di hadapan Sekar, orang yang baru saja dia temui untuk membalas Nino itu berhasil menemukan segala sesuatu yang ingin dia sembunyikan
"Jangan bahas dia"
__ADS_1
"Maaf, tapi aku cuma sedih lihat hubungan kalian berdua. Padahal kalian berdua hanya anak korban dari orang tua"
Ricardo langsung menatap tajam ke arah Sekar
"Apa kamu tau kalau hidup kak Nino ga semulus yang kamu bayangkan, bahkan dia pernah mencoba untuk bunuh diri saat dia masih kecil"
Saat itu Sekar hanya berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya, karena Sekar yakin Ricardo bukanlah orang yang jahat. Dia hanya merasa iri karena merasa kehidupan Nino bisa jauh lebih baik dari dirinya, sedangkan dia harus menerima segala kepahitan di dalam hidupnya
Ricardo memalingkan pandangannya kembali ke arah laut, dan hal tersebut membuat Sekar semakin yakin bahwa Ricardo hanya tidak tau apa yang sudah Nino lalui selama ini
"Kalau aja kamu kenal sama kak Nino aku yakin kamu merasa nyaman berada di dekat dia"
Sekar terus menceritakan tentang Nino bahkan semua kisah tentang mereka berdua pun ikut di ceritakan, Ricard hanya terus menatap jauh ke depan tetapi hati kecilnya mulai tersentuh saat mengetahui tentang kisah hidup Nino
"Apa mulai sekarang aku boleh anggap kamu sebagai adik aku?"
Ricardo pun langsung menatap ke arah Sekar
Ricardo pun tersenyum sinis
"Kamu sama saya belum tentu lebih tua kamu"
"Ga masalah, tapi kamu jauh lebih kekanak-kanakan dari pada aku"
"Apa artinya sekarang aku akan punya seorang kakak? kakak yang akan selalu melindungi aku yang akan selalu membuat aku nyaman seperti sekarang"
Mereka pun terus berbincang ini dan itu walaupun sudah pasti Sekar yang lebih banyak bicara, tetapi tetap saja Ricardo tetap menjawab saat Sekar bertanya sesuatu. Tanpa ada yang menyadari bahwa di ruang bawah tanah Alvin sudah berhasil melumpuhkan orang yang sedang mengantarkan dia makanan
"Gw ga perduli lagi walaupun gw harus kehilangan nyawa gw di sini, setidaknya gw akan membawa seseorang untuk menemani gw di neraka nanti"
__ADS_1
Dengan bermodalkan sebuah pistol yang berhasil di dapatkan oleh Alvin dia pun meninggalkan ruangan bawah tanah yang belakangan ini mengurung dirinya, Alvin mulai keluar dengan mengendap-endap berusaha tak terlihat oleh orang lain. Hingga Alvin berhasil menemukan Sekar dan Ricardo sedang memandang lautan yang biru
"Kalian bisa duduk santai di sini, sedangkan gw harus tersiksa di ruang bawah tanah. Kalian harus terima balasan dari gw sekarang juga"
"Hei!!" Berteriak sekuat tenaga sambil mengarahkan pistol ke arah Sekar dan Ricardo
Sekar dan Ricardo pun langsung berdiri ke arah Alvin, dan suara teriakan dari Alvin berhasil membuat para anak buah yang lain bersiap. Tetapi tidak ada yang berani mengambil tindakan karena jarak antara Alvin dan mereka berdua terlalu dekat, mereka takut senjata Alvin akan melukai salah satu dari mereka
"Kalian bisa duduk santai di sini sedangkan aku kalian kurung di sana!!"
"Tenang dulu kak, kita bicarakan semuanya baik-baik" dengan suara yang bergetar
Sekar sudah mulai berkaca-kaca sedangkan Ricardo tetap terlihat tenang, karena baginya berada di antara hidup dan mati sudah hal yang biasa. Alvin tertawa lepas mendengar ucapan dari Sekar
"Kamu bilang bicarakan baik-baik!! sekarang kalian berdua bicarakan baik-baik dan tentukan siapa yang akan menemani saya ke neraka?" tersenyum
Sekar pun menjatuhkan air matanya sedangkan Ricardo sudah mulai memasang wajah tidak suka akan sikap Alvin, saat Ricardo baru saja mengarahkan tangannya ke bagian belakang untuk mengambil senjata. Tiba-tiba saja dengan tubuh yang bergetar Sekar memindahkan posisi tubuhnya tepat di hadapan Ricardo
"Jadi kamu yang mau menemani saya?" tertawa lepas
Saat itu yang ada di dalam benak Ricardo hanya akan menghabisi Alvin dengan cepat tanpa perduli bila ada korban antara dia atau Sekar, tetapi tindakan Sekar membuat dirinya menghentikan aksinya
"Kamu ngapain?" dengan suara pelan
"Ga mungkin seorang kakak diam saja melihat adiknya dalam bahaya, aku mohon tolong gantiin aku jaga kak Nino bila sesuatu yang buruk terjadi sama aku. Karena aku yakin kak Nino akan kembali ke masa gelap dia seperti dulu lagi" dengan suara yang bergetar
"Kakak kamu bilang, apa cuma karena kata kakak kamu rela korbankan nyawa kamu dan anak kamu?"
"Sudah selesai mengucapkan kata-kata terakhirnya? selamat jalan dan sampai bertemu di neraka Sekar" tersenyum jahat
__ADS_1
Dor... Suara letusan pistol yang Alvin arahkan terdengar hampir ke semua bagian di tempat mewah tersebut, dan ada seseorang yang terjatuh ke lantai dengan mengalirkan darah segar dari luka tembak tersebut
Alvin pun tertawa dengan lepas melihat orang yang akan menemani dirinya sudah dalam keadaan tidak berdaya, lalu dia pun mulai mengarahkan senjata tersebut ke arah kepalanya, Alvin memang berniat untuk mengakhiri hidupnya setelah membawa seseorang untuk menemani dirinya. Tetapi hal tersebut tak dapat terjadi, karena dalam sekejap anak buah Ricardo sudah berhasil melumpuhkan Alvin