Kisah Cinta Sang Gadis Desa

Kisah Cinta Sang Gadis Desa
Lebih Menakutkan


__ADS_3

Ervan tak mau mengetahui bagaimana caranya anak buahnya bisa membawa Viona berada di tempat itu, Viona masih berada di bawah pengaruh obat bius dengan tubuh yang juga terikat di sebuah bangku bersebelahan dengan sang dokter gadungan


Pria tersebut menatap Viona dengan tatapan benci, seolah dia menyalahkan Viona dengan semua kejadian yang ada. Karena Viona tak pernah membahas tentang orang yang berada di belakang para targetnya, Viona mengatakan bahwa mereka hanya orang biasa yang membuat dirinya sakit hati dan seorang yang telah gagal melakukan tugas dari dirinya


Karena tawaran imbalan yang sangat menggiurkan sang dokter gadungan akhirnya menyetujui pekerjaan itu, dan hal tersebut membuat dirinya menyesal bukan main. Kini mereka hanya berada berdua di tempat itu sedangkan Ervan pergi entah ke mana, hanya ada beberapa para penjaga yang memperhatikan mereka dari kejauhan


"Woi.. Bangun..!!"


Pria tersebut terus berteriak mencoba membuat Viona tersadar, dan akhirnya secara perlahan Viona mulai bisa mendapatkan kesadarannya. Viona mencoba bergerak tetapi badannya tertahan oleh ikatan tali yang sangat kuat, dia pun mulai melihat ke sekeliling dan dia terkejut saat melihat orang yang baru saja dia sewa dalam keadaan yang sama


"Perempuan sialan..!!"


"Apa maksud kamu? kenapa kamu bawa nama saya juga? saya udah kasih kamu uang yang banyak"


"Kenapa lo ga bilang kalo gw harus berurusan sama orang paling berbahaya di kota ini?"


"Apa maksud kamu Nino? itu harusnya jadi masalah kamu, saya sudah bayar kamu dan harusnya kamu jangan pernah sebut nama saya"


Pria tersebut tertawa dengan terbahak-bahak


"Kenapa kamu ketawa?"


"Lo kayaknya salah paham sama omongan gw, lo bilang Nino kan? Nino Erlangga cuma pengusaha terhebat di kota ini" menatap tajam


"Jadi maksud kamu siapa?"


"Ervan orang yang selalu berdiri di belakang Nino, kalo lo bilang dari awal gw yakin ga akan ada satu orang pun di kota ini yang mau terima kerjaan ini"


"Apa maksud dia orang yang bernama Ervan jauh lebih menakutkan dari pada Nino?"


Tubuh Viona bergetar dengan hebat, bagaimana mungkin ada orang yang bisa melakukan apapun demi uang mengatakan hal seperti itu. Dan dia pun sempat mengingat kembali pesan yang di berikan oleh papanya Nino, rasa takutnya semakin bertambah saat mengingat pertemuan singkatnya dengan Ervan

__ADS_1


Ervan tiba di rumah sakit saat menjelang pagi, sudah pasti dia ke sana untuk membawakan pakaian ganti untuk Nino. Sesampainya di sana dia melihat Nino yang sedang berbincang dengan Sekar, dan sudah pasti mereka terlihat lebih akrab dari pada waktu sebelumnya


"Kamu yakin mau coba bangun?"


"Ya kak kayaknya kaki aku ga ada masalah kok, cuma tangan aku yang agak bermasalah. Aku mau coba berdiri capek kak tidur terus"


"Aku panggil dokter dulu ya, gimana kalo kamu jadi kenapa-napa?" Sekar pun tertawa kecil mendengar ucapan dari Nino, karena dia merasa seperti di perlakukan seperti seorang anak kecil


Ervan tetap setia berapa di dalam ruangan itu sambil terus menatap ke arah Nino yang sudah bisa tersenyum kembali


"Terima kasih Sekar, saya ga tau harus pakai cara apa untuk berterima kasih ke kamu? tapi mulai sekarang kamu adalah orang terpenting di dalam hidup saya setelah Nino"


Sedangkan di tempat lain papanya Nino baru saja keluar dari dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, dan segera berpakaian dengan rapi sebelum dia keluar dari dalam kamar dia mencari ponselnya dan mulai menghidupkan ponselnya. Salah satu kebiasaan papanya Nino adalah mematikan ponselnya pada waktu beristirahat


Tiba-tiba banyak sekali notifikasi yang masuk ke dalam ponsel papanya Nino, di sana terlihat banyak sekali panggilan masuk dan pesan yang masuk dari salah satu sahabatnya. Yang Tak lain adalah papanya Viona


"Pasti semuanya udah ketauan anak ini terlalu ceroboh, padahal aku udah kasih dia peringatan untuk berhati-hati dengan Ervan"


"Halo"


"Kamu harus tolong aku" panik


"Ada masalah apa?"


"Semalam Viona di culik, Viona itu anak perempuan aku satu-satunya kamu harus tolong bantu aku cari dia"


"Aku bisa apa? Ervan ga akan pernah mau dengerin siapapun kecuali Nino. Aku juga ga yakin apa Nino bisa lepasin Viona, anak itu udah main api"


"Aku coba bantu cari dia, tapi jujur aku bilang dari sekarang aku ga bisa janjiin apapun ke kamu. Anak itu udah ganggu orang yang salah"


"Ya aku ngerti, terima kasih" papanya Nino memutuskan sambungan teleponnya

__ADS_1


"Sekarang apa yang harus aku lakuin? apa aku coba ke perempuan itu? aku harus cepat bertindak waktu Viona ga banyak"


Sedangkan di ruang rawat Sekar Nino yang sedang asik berbincang dengan Sekar untuk pertama kalinya mengabaikan Ervan yang sudah berada di sana cukup lama, setelah puas berbincang dengan Sekar Nino pun segera bangkit dan menatap ke arah Ervan. Dengan sedikit tanda dari Ervan Nino bisa mengetahui tujuan Ervan berada di tempat itu


"Aku harus pergi sebentar, kamu ga usah takut di depan udah ada orang yang jaga. Jadi orang ga bisa masuk ke sini sembarang"


"Mau ke mana kak?"


"Aku mau balas perbuatan orang yang berani bikin kamu kayak gini"


"Aku ada perlu sama Ervan di luar, aku pergi sebentar ya. Nanti aku langsung balik lagi"


"Aku memang ga tau apa urusan kamu di luar sana, tapi ga tau kenapa aku ngerasa kamu mau melakukan sesuatu yang buruk"


"Apa kak Nino bisa di sini aja temenin aku?"


"Maaf aku harus balas perbuatan mereka ke kamu dengan tangan aku sendiri"


"Aku janji nanti aku temenin kamu lagi, tapi sekarang aku ada urusan penting. Aku pergi dulu ya"


Nino langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruang rawat Sekar, dia tak mau hatinya menjadi goyah bila Sekar terus meminta hal tersebut


"Siapa?"


"Viona pak" Nino mengerutkan keningnya seakan mencoba mengingat nama tersebut


"Perempuan yang akan di jodohkan dengan pak Nino"


"Terus kalo dia perempuan dia boleh lakuin apa aja?" dengan dingin


"Saya ga mau pak Nino melakukan hal kotor, tapi sekali ini saya ga bisa berbuat apapun. Saya ga tau apa yang akan Nino lakukan, tapi jika saya yang menghukum kamu saya yakin hal yang akan saya berikan akan lebih menakutkan"

__ADS_1


Sekar sedang cemas di dalam ruang rawatnya, Sekar memang tak dapat mengingat apapun tentang Nino saat itu, tetapi dia berharap Nino tak akan melakukan sesuatu yang buruk. Dan tiba-tiba saja Sekar teringat kembali tentang kata-kata Nino saat dia baru saja tersadar, dia semakin yakin Nino akan melakukan sesuatu yang buruk


__ADS_2