
Di rumah sakit Nino masih saja tak mau meninggalkan Sekar, dia benar-benar menyerahkan segala urusan pekerjaan kepada Ervan. Baginya yang terpenting saat ini hanyalah Sekar
Sekar sudah berusaha untuk membujuk Nino pergi ke kantornya karena mulai merasa tak enak hati, karena dia tau bahwa dia telah mengganggu pekerjaan Nino. Terlihat dengan jelas saat Nino sudah mulai membuka laptopnya, Nino akan terlihat sangat sibuk dengan semua pekerjaan yang menunggu dirinya
Tapi apa mau di kata bagaimana pun cara Sekar membujuk Nino tetap saja tidak berhasil, Nino mengatakan dia tak akan meninggalkan Sekar lagi. Dia tak mau kejadian yang menimpa Sekar akan terulang lagi, walaupun sudah pasti itu tak akan mungkin terjadi, bahkan untuk seekor nyamuk bisa masuk ke dalam ruang rawat Sekar akan sulit rasanya
Hari-hari Nino hanya di habiskan dengan menjaga Sekar dan bekerja dari sana, dan belakangan ini Nino lah yang selalu mengingatkan Sekar untuk sholat berjamaah
"Kak aku kan udah mulai sehat, apa aku masih belum boleh pulang sama dokter?"
"Kenapa? apa kamu bosan di sini?"
Sekar menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Dokter bilang beberapa hari lagi kamu udah boleh pulang kok, selanjutnya berjalan dan datang saat ada jadwal terapi kamu aja"
"Apa ga bisa di percepat kak?"
"Gimana kalo kita jalan ke taman rumah sakit ini aja?"
"Mau kak" antusias
Sekar sudah mau berdiri dan tiba-tiba saja Nino langsung memberikan tatapan tidak suka kepada dirinya, dia pun mendudukkan kembali tubuhnya
"Kamu boleh keluar tapi pake kursi roda"
"Tapi kaki aku kan ga sakit kak"
"Ya udah kalo gitu kita di sini aja"
"Kok aku ngerasa di perlakukan kayak anak kecil sih"
"Ok aku mau pake kursi roda kak"
Nino pun tersenyum puas, entah mengapa Nino kini menjadi lebih overprotektif terhadap Sekar. Segala tentang Sekar kini harus melalui persetujuan dari dirinya, terkadang Sekar pun merasa sedikit jengkel tetapi ada perasaan bahagia yang tak bisa Sekar pungkiri
Mereka pun duduk di taman belakang rumah sakit tersebut, dan sudah pasti tetap dalam pengawalan yang ketat. Karena ada banyak para pengawal berjaga di dekat mereka, Sekar pun merasa sedikit risih dengan keadaan tersebut dan akhirnya Nino memerintahkan para pengawal tersebut sedikit menjauh dari mereka
"Wah rasanya nyaman banget bisa keluar dari kamar" tersenyum bahagia
"Maaf ya" Sekar langsung menoleh ke arah Nino yang duduk di sebelahnya
"Buat apa kak?" dengan polosnya
__ADS_1
"Karena aku ga jaga kamu dengan baik"
"Kenapa harus pikirin yang udah kejadian sih kak? kan yang penting sekarang aku ada di sini" tersenyum
"Apa aku boleh langgar omongan aku yang dulu?"
"Omongan yang mana kak? aku kan ga inget"
"Aku akan nikahin kamu setelah kamu lulus kuliah"
"Terus maksudnya langgar gimana ya kak?" dengan polosnya
"Aku mau kamu jadi istri aku secepatnya"
"Tapi kak Nino bilang aku masih kuliah, gimana kuliah aku nanti?"
"Aki ga akan larang kamu lakukan apapun yang kamu mau, tapi tolong biarin seluruh dunia tau kalo aku cuma milik kamu. Jadi ga akan ada lagi kejadian kayak gini"
Sekar mungkin memang tak bisa mengingat apapun tentang masa lalu mereka, tetapi kata-kata Nino sudah berhasil membuat wajah dia merona dan merasakan detak jantung yang sangat cepat seperti dahulu
"Apa ga apa kayak gini kak? aku kan belum ingat apapun"
"Kan kamu yang bilang kalo kita ga ingat cerita masa lalu kita, kita bisa bikin cerita baru kita. Apa kamu masih belum yakin sama aku?"
"Dari pada ga yakin lebih tepat kalo aku berpikir apa aku pantas buat kak Nino?"
Sekar yang sekarang tak mengingat apa saja yang telah dia lalui bersama Nino, dia hanya tau bahwa dia seorang gadis desa biasa dan Nino seorang yang sangat hebat. Walaupun sikap Nino kepadanya membuat dia yakin akan perasaan mereka berdua, tetapi ada sebuah perasaan yang mengganjal di dalam hatinya tentang perbedaan status mereka
Nino langsung memegang kedua pipi Sekar dengan lembut, dan menatap jauh ke dalam matanya
"Kamu harus inget ini baik-baik kamu itu orang terpenting di dalam hidup aku, kamu juga orang yang berhasil bikin aku bisa keluar dari kegelapan. Jadi jangan pernah sekali pun kamu berpikir kalo kamu ga pantas buat aku"
"Aku ga tau kebaikan apa yang udah aku lakuin di masa lalu? aku bisa dapat orang sebaik kamu kak"
"Sekarang aku tanya kamu sekali lagi apa kamu bersedia jadi istri aku?"
"Aku mau kak, tapi aku punya dua syarat"
"Apa syarat yang kamu minta?" mengerutkan keningnya
"Yang pertama aku mau dapat restu dari orang tua kak Nino"
Nino tampak terdiam sejenak lalu membuang nafasnya dengan kasar
__ADS_1
"Ok.. Terus apa syarat yang ke dua?"
"Aku mau di lamaran dengan cara yang romantis ga mau begini, masa melamar perempuan ga ada cincin dan di halaman rumah sakit sih kak" tersenyum
Nino tersenyum lega karena dia akan berusaha untuk memenuhi kedua syarat tersebut, walaupun Nino sedikit ragu untuk syarat yang pertama. Nino langsung memeluk tubuh Sekar dengan lembut dan mencium ujung kepala Sekar
"Makasih ya, aku janji aku akan berusaha penuhi syarat dari kamu"
Di sana Sekar dan Nino sedang di lambung perasaan bahagia, tetapi berbeda di tempat lain yaitu di dalam ruangan Nino Jonathan dan papanya sudah duduk di hadapan Ervan. Dan mereka tau dengan pasti bahwa orang yang ada di hadapannya kini bukanlah Nino
"Siapa kamu"
"Ervan"
"Oh jadi ini bajingan yang udah membuat putri kesayangan kami jadi seperti itu"
"Saya mau bertemu Nino bukan kamu" dengan tegas, Ervan pun melepaskan senyuman dingin
"Apa kalian ga tau kalo ucapan saya setara dengan ucapan Nino? jadi kalian bisa ngomong ke saya apa tujuan kalian cari pak Nino?"
"Kamu itu cuma seorang sekretaris jadi ga usah terlalu sombong, saya akan laporkan perbuatan kamu ke papanya Nino..!!" Ricard menaikkan volume suaranya
"Silahkan, tapi saya yakin dia akan minta anda untuk menjauh dari saya" dengan nada suara yang dingin dan tatapan yang membuat nyali kedua orang di hadapannya sedikit menciut
"Dia cuma sekretaris Nino, masa dia ga punya perasaan takut sama kepala keluarga Erlangga. Orang ini kayak ga punya rasa takut sama sekali, seolah hidup dia bukan milik dia sendiri"
"Maaf kami ke sini mau minta penjelasan dari Nino tentang..."
"Perempuan itu kan"
"Ya, saya Jonathan kakaknya dan ini..."
"Ga usah bicara hal yang ga penting, saya tau semua tentang kalian. Langsung aja kebagian intinya"
Ervan selalu memotong ucapan dari Jonathan dia seolah menunjukkan bahwa dia sudah tau semuanya, Ervan benar-benar mengeluarkan hawa yang bisa menekan mental seseorang pada saat itu
Tolong bantu like dan komentar ya kak ๐
Dukungan dari kalian sangat berarti buat aku, biar aku makin semangat untuk bikin ceritanya
Ini bab terakhir sesuai janji aku kemarin crazy up sampe akhir bulan
Tunggu ada bab simpanan lagi buat crazy up
__ADS_1
Buat kakak semua yang belum sempat baca karya aku yang lain tinggal klik aja kak profil aku ada dua cerita yang udah tamat duluan๐
Semoga cerita yang aku buat bisa menghibur dan terima kasih buat dukungannya selama ini๐๐