
"Saya ga perduli kamu mau kasih restu kamu ke kami apa ga, saya akan tetap menikahi Sekar" dengan yakin
Papanya Nino hanya bisa tersenyum tipis
"Seandainya saya dulu mempunyai cinta sebesar kamu, mungkin selamanya saya bisa ada di dekat kamu"
"Kak kamu ga boleh gitu sama orang tua"
Nino melepaskan pelukannya dan memegangi kedua pipi Sekar agar bisa saling bertatap mata
"Aku tau kamu mau kita dapat restu dari dia tapi kamu juga harus tau tanpa restu dia sekalipun, saya akan tetap menikahi kamu bagaimana pun caranya" dengan yakin
Sudah pasti wajah Sekar menjadi merah saat itu, dan air mata Sekar mengalir semakin deras karena rasa haru yang dia rasakan
"Kamu kenapa? apa yang dia bilang ke kamu? apapun yang tadi dia bilang kamu ga usah dengerin ya, sampai kapanpun cuma kamu perempuan aku satu-satunya" menghapus air mata Sekar
"Termasuk ga boleh panggil papa?"
"Iya apapun yang dia bilang tadi kamu ga usah...."
Nino menggantung ucapannya karena dia baru saja sadar dengan ucapan Sekar dan Sekar pun tersenyum
"Tunggu, maksud kamu tadi dia.."
Sekar hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Terus kenapa tadi kamu nangis?" mengerutkan keningnya
"Apa aku ga boleh nangis karena bahagia kak?"
Nino langsung menarik tubuh Sekar masuk ke dalam pelukannya, dia pun memeluk tubuh Sekar dengan sangat erat
FLASH BACK
Nino melajukan mobilnya dengan sangat cepat ke tempat yang sudah di beritahukan oleh pengawal yang berada di sisi Sekar, Nino benar-benar takut bila papanya mempunyai niat terselubung karena pertemuan terjadi tanpa sepengetahuan dirinya
"Saya mau tanya sesuatu ke kamu"
"Silahkan pak" tersenyum ramah
__ADS_1
"Apa kamu tulus mencintai anak saya? dan kamu janji ga akan lakukan kesalahan yang sama seperti yang saya buat di masa lalu saya"
"Saya mungkin ga tau tentang masa lalu bapak atau kesalahan yang sudah bapak perbuat, tapi yang saya tau saya mencintai anak bapak. Walaupun saya ga ingat apa aja yang kami lalui sebelumnya, tapi saya yakin dengan hati saya pak"
"Ada satu hal lagi yang saya mau tanyakan ke kamu, walaupun ini ga ada hubungannya dengan hubungan kalian. Apa kamu sengaja minta saya restui hubungan kalian?"
Sekar hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya
"Saya harap kamu jawab saya dengan jujur"
"Saya minta maaf sebelumnya kalau perbuatan saya menyinggung perasaan bapak, saya cuma berusaha memperbaiki hubungan bapak dan kak Nino" masih dengan kepala yang tertunduk
"Kamu beruntung Nino mendapatkan perempuan sebaik dia"
"Apa kamu bisa janji ga akan pernah tinggalin Nino apapun yang terjadi nanti di masa depan?"
Sekar mulai berani untuk mengangkat kepalanya dan menatap ke arah papanya Nino
"Saya janji pak, hanya Tuhan yang bisa membuat saya pergi dari kak Nino untuk selamanya"
"Saya berharap kamu bisa membuat dia bahagia selamanya, anak itu sudah terlalu banyak merasakan sakit hati dari dia masih kecil karena kesalahan yang saya perbuat"
"Kamu bisa simpan ini dari sekarang" meletakkan sebuah kotak di atas meja
"Dulu mamanya Nino terima ini dari mama saya, sampai sekarang masih saya simpan untuk perempuan yang akan menjadi istrinya Nino"
"Apa artinya bapak merestui hubungan saya sama kak Nino?" mulai berkaca-kaca
"Maksud kamu apa?"
"Maaf pak kalau saya salah"
"Maksud kamu apa masih panggil saya bapak? mulai sekarang kamu harus belajar panggil saya papa juga sama kayak Nino. Mulai sekarang saya titip Nino sama kamu"
"Makasih ya pak, maksudnya pah"
Sekar tak dapat lagi menahan rasa haru yang sedang dia rasakan pada saat itu hingga air matanya pun mengalir dengan sendirinya , dan tiba-tiba saja Nino masuk ke dalam ruangan tersebut
FLASH OFF
__ADS_1
Kini mereka sudah duduk dengan santai bertiga dan bisa di pastikan Nino akan memilih untuk mendudukkan dirinya di samping Sekar
"Kalo kamu mau kasih restu kamu, kenapa kamu harus buat janji sama Sekar di belakang saya?" menatap curiga
"Karena papa harus pastiin sesuatu dulu sama dia"
"Apa?"
Tuan besar itu membuang nafasnya dengan kasar
"Saya harus pastiin perasaan dia ke kamu lebih besar dari perasaan saya ke mama kamu dulu, saya ga mau dia melakukan kesalahan yang sama dengan saya"
"Kesalahan yang harus saya tanggung hingga saya setua ini, karena saya ga bisa memeluk darah daging saya sendiri. Bahkan saya terkadang harus berbicara formal dengan anak saya sendiri"
"Dia ga mungkin lakuin itu" dengan yakin, sedangkan Sekar hanya menatap ke dua orang itu dengan tatapan bingung karena tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan
"Kalau gitu papa duluan ya, pasti Sekar lebih pilih pulang sama kamu dari pada papa yang antar dia"
"Hem..."
Papanya Nino sudah mulai berdiri dan Sekar langsung menyenggol tangan Nino, sedangkan Nino hanya mengerutkan keningnya tanda di tak mengerti keinginan Sekar
"Kalo gitu hati-hati di jalan ya pah" mencium tangan papanya Sekar lalu berbisik sesuatu kepada Nino
"Kalo kak Nino ga mau hormat sama orang tua kak Nino, berarti mulai sekarang aku juga ga perlu cium tangan kak Nino lagi"
"Kok jadi gini sih? kok jadi dia lebih belain orang itu dari pada aku calon suami dia sendiri"
Dengan berat hati akhirnya Nino mengikuti keinginan Sekar, dia pun langsung berdiri dan mencium tangan papanya lagi setelah sekian lama. Mata tuan besar itu langsung berkaca-kaca, karena terbawa perasaan tuan besar itu langsung memeluk tubuh Nino dengan erat sambil mentesakan air matanya
"Makasih ya Nino" dengan suara yang bergetar
Nino hanya bisa diam membeku mendapatkan perlakuan seperti itu, ada perasaan yang dia sendiri tak mengerti di dalam hatinya
"Papa sampai lupa sudah berapa lama papa ga peluk kamu Nino, dan kamu harus tau sampai kapanpun kamu itu anak kesayangan papa"
Sekar hanya bisa tersenyum bahagia melihat momen bahagia tersebut
"Syukur deh, semoga ke depannya nanti hubungan mereka akan lebih baik lagi"
__ADS_1
Nino sudah berhasil mewujudkan syarat pertama dari Sekar dan Nino sedang merencanakan untuk mewujudkan syarat ke dua dari Sekar, Nino sempat berfikir bahwa syarat ke dua akan lebih mudah dari pada syarat pertama dari Sekar. Dan ternyata Nino kini bingung sendiri harus memakai cara yang bagaimana? karena Nino benar-benar ingin mewujudkan syarat kedua Sekar dengan sempurna
Ervan sudah memberikan beberapa referensi kepada Nino, dari makan malam yang romantis hingga melamar Sekar di luar negeri. Entah mengapa Nino merasa itu semua hal yang biasa saja, Nino benar-benar ingin sesuatu yang sangat spesial untuk perempuan yang spesial bagi dirinya tersebut