
Malam itu Nino menjaga Sekar yang tertidur dengan lelap, Nino juga memerintahkan dua orang kepercayaannya untuk menjaga adik-adik Sekar di rumah kontrakan mereka. Dan menjelaskan bahwa hari ini Sekar ada sebuah pekerjaan yang tak dapat dia tinggalkan di kantornya
"Kalian jaga adik-adiknya dengan baik"
"Baik pak"
"Jangan lupa siapkan makan mereka dan jaga mereka dengan baik"
"Baik pak" Nino memutuskan sambungan teleponnya dan kembali menatap Sekar yang mulai gelisah di dalam tidurnya
Sekar bermimpi tentang Alvin yang ingin kembali melakukan itu semua di dalam mimpinya "Hem.. Jangan kak.. Tolong lepasin aku kak" merintih
Nino menjadi tak tega dan mulai berjalan mendekati Sekar, Nino menepuk pelan pipi Sekar dia hanya berusaha membangunkan Sekar dari mimpi buruknya
"Sekar.. Sekar bangun Sekar"
"Akh...!!" Terkejut dan plak.. Sekar memberikan sebuah hadiah kepada Nino yang berupa sebuah tamparan yang cukup keras
"Kamu.." Penuh penekanan dan melepaskan tatapan membunuhnya kepada Sekar, terlihat dengan jelas rahang Nino yang mengeras karena menahan emosinya
"Pak Nino..." Memasang wajah bersalah dan memelas
"Kamu tau kamu orang pertama yang berani menampar wajah saya"
"Saya ga sengaja pak saya kira tadi.." Langsung menutup mulutnya karena melihat Nino yang menatap dengan tajam
"Kamu kira saya laki-laki b*jingan itu?"
"Maaf pak" lirih, Nino mengangkat tangan kanannya dengan tinggi seakan ingin membalas tamparan dari Sekar. Sekar hanya bisa pasrah dan menutup ke dua bola matanya
Sekar cukup lama menutup matanya tak dia tak merasakan apapun yang terjadi kepada dirinya, secara perlahan Sekar mulai membuka matanya dan tangan Nino masih berada di atas lalu Nino menurunkan tangannya dengan lembut ke ujung kepala Sekar
"Saya mungkin ga pandai untuk berkata-kata, tapi saya bukan laki-laki b*jingan seperti dia" dengan lembut
"Ini pak Nino ya? pak Nino bisa ngomong hal kayak gini. Astaga kalo aku cerita ke orang lain pasti ga akan ada yang percaya"
"Kamu tunggu di sini dulu, saya mau minta orang siapkan makanan untuk kamu"
"Iya pak" Sekar seakan tak percaya dengan perlakuan lembut pertama kalinya dari seorang Nino Setiawan dan Nino pun keluar dari dalam kamar tersebut
"Selamat malam pak"
"Van tolong minta orang belakang siapin makanan dia udah bangun"
"Baik pak"
__ADS_1
"Oh ya udah malam sebaiknya kamu nginep di sini aja"
"Baik pak"
Tiba-tiba saja Sekar berteriak dengan kencang "Akh...!!" Nino segera berlari masuk ke dalam kamar dan Ervan yang mau menyusul langsung mendapat tatapan tajam dari Nino, Ervan memutuskan untuk pergi ke bagian belakang vila mewah tersebut
"Kamu kenapa?" panik, Sekar menatap tajam ke arah Nino tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya
"Aku kira bapak laki-laki yang beda dengan kak Alvin, ternyata bapak sama saja"
Nino semakin mendekat ke arah Sekar "Jangan mendekat pak" Nino langsung menghentikan langkahnya dan menatap Sekar dengan bingung
"Ok saya di sini, sekarang kamu bilang kamu kenapa?" khawatir
"Kemana baju saya pak?" menatap tajam
"Baju kamu robek, jadi saya ga mungkin biarin kamu tidur dengan baju itu. Dan di sini ga ada baju perempuan makanya kamu pake baju saya"
"Akh...!!" Melemparkan bantal ke arah Nino
"Lama-lama kamu mulai kurang ajar sama saya..!!" Menaikkan volume suaranya
"Saya kira bapak beda dengan kak Alvin ternyata bapak sama saja" mulai berkaca-kaca
"Kamu ngomong apa sih?" mengerutkan keningnya
"Dasar perempuan aneh, apa kamu kira saya orang mesum seperti pacar kamu itu?"
Nino membuang napasnya dengan kasar dan mengambil bantal yang tergeletak di atas lantai lalu melemparkannya ke arah kepala Sekar
"Buang semua otak kotor kamu, kamu memang pake baju saya tapi bukan saya yang gantiin baju kamu. Tapi bi Inah yang tugasnya bersihin vila ini"
"Apa bener pak?"
"Inget ya saya masih bos kamu, kalo kamu sekali lagi ga sopan sama saya. Lebih baik kamu berhenti kerja aja" penuh penekanan
"Maaf pak"
"Nyesel saya tolongin kamu" dengan dingin
Tok.. Tok..Tok..
"Permisi pak, bibi mau antar makanan"
"Masuk bi" mendudukkan dirinya di atas sofa, dan masuk lah seorang pelayan wanita yang sudah cukup tua dan ada seorang pelayan wanita yang masih agak muda anak sang bi Inah
__ADS_1
Mereka meletakkan semua makanan yang sudah di siapkan di atas meja, dan seperti biasa mereka akan membuatkan secangkir teh hangat untuk Nino. Nino yang sedang kesal pun akhirnya membakar sebatang rokok
"Kayak nya pak Nino marah sama aku, tadi pas bangun aku ga sengaja tampar pipinya sekarang aku tuduh dia yang aneh-aneh. Aduh gimana ini?"
"Mau sampe kapan di tempat tidur? turun makan"
"Iya pak" dengan suara pelan, dan secara perlahan mulai menurunkan tubuhnya dari tempat tidur. Sekar baru sekali ini melihat Nino merokok di hadapannya
"Duduk sini" menepuk posisi di sebelahnya, Sekar tak ingin membuat masalah lagi dan menuruti keinginan Nino. Sekar melihat beberapa puntung rokok di dalam asbak
"Kenapa lihat-lihat?"
"Bapak merokok?"
"Kenapa?"
"Ga apa kok pak, cuma itu ga bagus untuk kesehatan bapak" Sekar mulai memakan semangkuk bubur yang tersedia
"Saya hanya merokok saat saya marah atau lari dari suatu masalah, dan hari ini saya benar-benar marah saat melihat keadaan kamu tadi" mematikan rokok yang ada di tangannya
"Sekarang jam berapa ya pak?" Nino menunjuk ke arah dinding dan di sana terpampang dengan jelas bahwa saat itu adalah jam satu malam
"Astaga jam satu malam, aku harus cepat pulang kasian Ajeng sama Dimas pasti mereka belum makan malam" mempercepat makannya
"Makan pelan-pelan saya udah suruh orang untuk jaga adek kamu" Sekar memandangi Nino dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"Kenapa? apa ada yang bikin kamu ga nyaman? apa perlu saya panggil dokter lagi?" cemas
"Berarti pak Nino yang udah selamatkan aku dari kak Alvin, dia jaga aku bahkan udah panggil dokter buat aku. Kenapa pak Nino bisa sebaik ini sama perempuan biasa kayak aku?" terharu, dan bodohnya Sekar tanpa sadar langsung memeluk tubuh yang ada di hadapannya itu. Sontak saja Nino langsung membulatkan kedua bola matanya karena terkejut
"Makasih ya pak"
"Kamu orang saya jadi ga boleh ada yang main-main dengan kamu sembarangan" memalingkan wajahnya yang mulai memerah
"Terima kasih pak karena sekarang aku merasa ada seseorang yang menjaga aku, aku benar-benar merasa aman"
"Sekar kamu itu perempuan jadi kamu ga boleh peluk badan laki-laki kayak gini"
"Akh.. Maaf pak saya.." Melepaskan pelukannya
"Udah kamu makan aja habis itu langsung istirahat jangan pikirin apapun, saya keluar dulu" dengan cepat Nino bangkit dari duduknya dan segera keluar dari kamar itu, Nino tak ingin Sekar mengetahui bahwa wajahnya kini semakin memerah
Nino kembali ke dalam kamarnya dan memegang dadanya yang kini berdetak dengan sangat cepat "Ya ampun perasaan apa ini? kenapa jantung aku berdetak dengan sangat cepat? aku harus ingat hari ini sebagai hari bersejarah, hari ini aku banyak dapat hadiah dari dia dari tamparan berakhir ke sebuah pelukan"
"Akh.. Apa yang aku lakuin tadi? aduh malu banget rasanya. Kenapa aku bisa tiba-tiba peluk pak Nino? hari ini aku banyak banget ngelakuin kesalahan sama pak Nino, apa aku bakal dapat masalah nantinya ya?"
__ADS_1
Mereka berdua berada di atap yang sama tetapi yang pasti mereka berdua sedang larut dalam pikirannya masing-masing