
Kini Nino dan Sekar duduk di salah satu saung yang berada di tengah taman di rumah mewah tersebut, hamparan berbagai bunga menghiasi taman tersebut dan ada sebuah kolam ikan di pojokan taman yang di hiasi oleh gemericik air terjun buatan
Nino memperhatikan Sekar yang tampak takjub melihat sekeliling taman tersebut, mata Sekar tampak berbinar-binar melihat hamparan taman indah tersebut
"Kamu suka?"
"Iya pak aku suka kalo di taman bunga gini, aku ga sangka bapak juga suka taman bunga"
"Aku ga suka taman bunga"
Sekar mengerutkan keningnya karena dia bingung dia dapat melihat dengan jelas bahwa taman tersebut terjaga dengan baik
"Kenapa?"
"Kalo bapak ga suka, kenapa bisa ada taman sebesar ini di rumah bapak?"
"Karena mama saya suka taman bunga," dingin dan menunjukkan ekspresi sedih
"Wajah pak Nino kayak gini lagi. Aku pengen banget pak Nino bisa bagi cerita hidup dia ke aku, aku yakin ada cerita sedih di hidup pak Nino yang terlihat sempurna dari luar. Karena ada saat tertentu pak Nino menunjukkan wajah sedih seperti tadi"
"Kayaknya bapak sayang banget sama mama bapak ya?" tersenyum
"Iya"
"Apa senyuman aku benar-benar mirip mamanya pak Nino?"
"Iya"
"Apa mungkin pak Nino selalu baik sama aku cuma karena senyum aku mirip sama mamanya? kenapa aku ngerasa sedikit kecewa ya? kamu mikir apa sih Sekar? kamu harus sadar orang yang ada di dekat kamu ini ga mungkin bisa suka sama kamu"
"Kata pak Ervan bapak tinggal sendirian di sini," Nino hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya
"Orang tua bapak tinggal di mana?"
"Apa saya belum cerita ke kamu?"
Sekar hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya dan Nino mulai menatap sendu ke arah Sekar
__ADS_1
"Mama saya sudah meninggal, sedangkan papa saya pergi tinggalin kami saat saya masih kecil," tersenyum getir
"Maaf pak saya benar-benar ga tau," menunjukkan wajah bersalah
"Ga apa kok udah lama juga semua kejadian itu udah lama banget"
Sekar pun mulai mengeluarkan jurus andalan yang dia punya, dia berbicara ini dan itu untuk mencairkan suasana yang ada sedangkan Nino terus menanggapi ucapan Sekar sambil terus tersenyum menatap Sekar
"Kamu ga tau aja Sekar, kamu itu seperti penerang dia dalam hidup saya. Kamu hadir saat saya hanya bisa melanjutkan hidup saya tanpa ada sebuah tujuan yang pasti, sekarang saya seperti merasa hidup kembali"
Mereka mulai menghentikan percakapan mereka saat kepala pelayan menghampiri mereka untuk memberitahukan bahwa makan siang sudah siap, Nino pun mengajak Sekar masuk ke dalam rumah dan makan siang bareng
Setelah selesai makan siang Sekar pun berpamitan untuk pulang setelah melaksanakan sholat, Sekar pun kembali ke kediamannya tanpa tau bahwa Nino melepaskan kepergian dirinya dengan berat hati. Tetapi Nino tetap tak menahan Sekar berada di rumahnya untuk menghargai keinginan Sekar
Sedangkan di kampus Rendi sudah meminta beberapa temannya untuk membawa Alvin ke sebuah gudang, Alvin di bawa ke gudang tersebut dengan sedikit paksaan dari mereka. Sesampainya di dalam gudang teman-teman Rendi mendorong tubuh Alvin ke arah seseorang yang sedang duduk di bangku dan menutup pintu gudang tersebut
"Siapa lu?"
Orang tersebut tubuhnya agar Alvin dapat melihat wajahnya sambil tersenyum tipis
"Mau ngapain sih orang ini? pake acara bawa gw ke sini dengan cara ga sopan"
Mau ngapain lu bawa gw ke sini?"
"Ada yang mau gw tanyain ke lu, dan gw harap lu bisa jawab gw dengan jujur"
"Lu mau tanya apa?"
"Lu cowoknya adek gw kan?"
"Iya," dengan sombongnya
"Jadi apa hubungan lu sama Sekar?"
"Sial ternyata dia inget sama gw? gw kira dia ga enggeh waktu kejadian kemarin. Dan setau gw selama ini kan dia ga pernah perduli waktu gw pacaran sama Rosa"
"Apa hubungannya sama lu?"
__ADS_1
Plak.. Seseorang memukul kepala Alvin dari belakang dengan cukup kuat
"Kalo di tanya sama orang lain itu jawab yang bener"
"Gw selama ini ga pernah mau campuri urusan lu sama adek gw tapi sekarang urusannya beda, jadi sebaiknya lu jawab yang bener sebelum kesabaran gw abis," penuh penekanan
"Sebenernya apa mau kalian?" menatap wajah orang yang berada di dalam gudang tersebut satu persatu
"Ok gw langsung aja, sekarang lu kasih tau gw apa hubungan lu sama Sekar? dan apa yang pernah lu lakuin sama dia?" melepaskan tatapan membunuhnya
"Kenapa dia mau tau tentang Sekar? jangan bilang kalo dia juga mau deketin Sekar"
"Lu mau pilih diam? jangan salahin gw kalo lu akan keluar dari tempat ini dengan keadaan yang berbeda," tersenyum jahat
"Gw ga ada hubungan apapun sama Sekar, gw cuma kenal dia waktu di kampung. Dia itu perempuan yang selalu kejar gw waktu di kampung"
Bugh... Sebuah bogem mentah yang sangat keras mendarat mulus di wajah Alvin, hingga menyebabkan darah segar langsung mengalir dari sudut bibir Alvin
"Apa-apaan sih lu..!!" Menatap tajam ke arah Rendi
"Lu kira gw anak kecil yang gampang lu bohongi, gw inget banget waktu pertama gw ketemu Sekar waktu itu lu yang lagi tarik dia paksa. Jadi sekarang lu cerita atau lu bisa pegang omongan gw yang tadi"
Setelah mencoba bertahan akhirnya Alvin pun menyerah karena lebam sudah menutupi hampir seluruh wajahnya, bahkan masih banyak lagi di bagian tubuh lain yang tertutupi oleh pakaian yang dia gunakan
"Gw udah cerita semua ke lu, jadi tolong jangan pukul gw lagi"
"Laki-laki kurang ajar berani banget dia begitu ke Sekar pantes aja Sekar ketakutan begitu kemarin, tapi dengan adanya kejadian ini gw semakin yakin kak Nino ada hati sama Sekar. Gw harus cepat bertindak" Rendi mencengkram kerah baju Alvin dengan tatapan membunuhnya
"Gw masih berbaik hati sama lu gw kasih lu sebuah peringatan, jangan pernah coba deketin Sekar lagi. Bahkan di dalam ingatan lu sekali pun jangan pernah coba pikirin tentang Sekar, atau lu akan merasakan yang lebih menyakitkan dari ini" penuh penekanan
Rendi dan teman-temannya pergi begitu saja dari gudang tersebut meninggalkan Alvin sendirian yang masih menikmati rasa sakit buah karya Rendi dan teman-temannya
Rendi menghubungi Ervan dan mengajak untuk bertemu Rendi pun menceritakan apa yang baru saja dia ketahui, dia ingin memastikan terlebih dahulu sebelum mengambil sikap selanjutnya. Dengan malas Ervan pun akhirnya bercerita tentang semua kejadian yang ada dari sudut pandang nya
Hari demi hari terus berlalu dengan sangat cepat, kini Sekar melalui hari-hari dalam kehidupannya dengan damai. Karena saat di kampus Alvin akan selalu menghidar dari Sekar dan ada Rendi yang selalu mendampingi Sekar, Semakin lama Sekar pun merasa semakin dekat dengan Rendi karena Rendi selalu sopan terhadap Sekar
Di saat hubungan Rendi dan Sekar semakin dekat tetapi berbeda dengan Nino karena dinding tinggi yang sempat runtuh kini seakan berdiri kokoh kembali, Nino seperti menjaga jarak dengan Sekar bahkan Nino semakin bersikap dingin dengan Sekar
__ADS_1
Hampir di setiap akhir pekan Rendi akan datang ke kediaman Sekar, dia pun selalu mengajak Sekar serta adik-adiknya untuk berpergian ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi. Dan satu hal yang pasti Rendi selalu memamerkan itu semua kepada Nino tanpa sepengetahuan Sekar
Setiap Rendi memamerkan kebersamaan terhadap Sekar Nino akan merasa marah dan cemburu, hal tersebut yang membuat Nino menjadi menjaga jarak dengan Sekar. Walaupun bisa di pastikan Nino pun tersiksa menahan perasaan yang dia rasakan