Kisah Cinta Sang Gadis Desa

Kisah Cinta Sang Gadis Desa
Cemburu Terhadap Ervan


__ADS_3

FLASH BACK


Malam itu setelah makan malam Nino mengajak Ervan ke ruang kerjanya dengan alasan sebuah pekerjaan, nino pun menatap tajam ke arah Ervan


"Ada apa ya pak?"


"Aku cuma mau bilang seimut apapun Sekar di mata kamu malam ini, kamu di larang suka sama dia" dengan tegas


"Apa mulai sekarang saya harus membenci ibu Sekar pak?" memasang wajah datar


"Ish.. Siapa yang bilang begitu? maksud saya kamu ga boleh suka sama dia, layaknya seorang pria yang menyukai seorang wanita" menatap tajam


"Apa kamu lagi cemburu sama saya?" tersenyum sinis


"Ya lah giliran ke saya senyum kamu ga enak di liat kayak gitu, giliran sama istri saya dari tadi kamu senyum beneran"


Ervan langsung mendudukkan dirinya di hadapan Nino


"Saya juga ga tau kenapa saya bisa melakukan hal itu? saya seperti orang bodoh yang mengikuti semua keinginan konyol istri kamu itu"


Nino pun sempat terdiam dan menatap ke arah Ervan dengan serius, dan akhirnya dia pun tersenyum


"Hebat kan dia Van?"


"Harus saya akui kamu dapat istri yang hebat Nino"


"Akhirnya bisa juga aku dengar kamu kagum sama orang lain, tapi tetap aja kamu ga boleh rebut dia dari saya"


Ervan memandang malas ke arah Nino sambil tersenyum sinis


"Saya hanya sebatas kagum bukan seperti yang kamu bilang tadi, seorang pria yang menyukai seorang wanita" dengan nada suara mengejek


"Tetap aja kamu harus janji sama saya tentang itu" menatap dengan serius


"Apa kamu ga percaya sama istri kamu sendiri?"


"Bukan ga percaya, cuma semenjak dia hamil dia selalu minta hal yang aneh-aneh sama saya. Baru tadi malam dia mau anak kami seperti anak orang bule, saya ga mau tiba-tiba nanti dia bilang kalo dia suka sama kamu"

__ADS_1


Ervan pun terdiam cukup lama sambil melepaskan senyuman sinis


"Tapi kamu bahagia kan mendapatkan dia?"


"Bukan cuma sebatas perasaan bahagia Van tapi saya merasa beruntung, saya bahkan rela menukarkan nyawa saya untuk kebahagian dia" dengan penuh keyakinan


"Sama seperti saya Nino, saya juga rela menukarkan nyawa saya untuk keselamatan dan kebahagiaan kalian. Jadi dari mana datangnya pikiran aneh kamu tadi?"


Dalam sekejap segala pikiran aneh Nino pun lenyap dari dalam pikirannya, dan tak lama kemudian mereka pun keluar dari ruang kerja Nino


Dan saat sudah pukul sepuluh malam Ervan pun berpamitan untuk pulang, Sekar tiba-tiba saja mengantarkan Ervan hingga ke depan pintu seperti kebiasaan yang selalu dia lakukan terhadap Nino. Dan karena Sekar melakukan hal tersebut, Nino pun mengikuti langkah kaki Sekar dari belakang


Dan tiba-tiba saja perasaan cemburu Nino kembali hadir di dalam hatinya, karena untuk pertama kalinya Nino melihat Sekar mencium tangan Ervan


Nino yang sedang terbakar cemburu hanya terdiam dan menahan perasaan jengkel di dalam hatinya, sedangkan Ervan sempat sedikit terkejut mendapat serangan mendadak dari Sekar. Dan dia pun memilih untuk segera pergi dari tempat itu karena melihat wajah Nino yang sudah tidak bersahabat


Sekar juga meminta Ervan membawa keluarga kecilnya pada saat akhir pekan, dengan alasan agar mereka semua menjadi semakin akrab di kemudian hari


FLASH OFF


Di sepanjang perjalanan pulang senyuman tipis selalu menghiasi bibir Ervan, hal itu terjadi karena dia mengingat kembali semua sikap Sekar kepada dirinya


Malam itu karena masih sedikit jengkel dengan perhatian yang Sekar berikan kepada Ervan, Nino yang sudah berada di atas kasur melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya


Nino membaringkan tubuhnya dengan cara membelakangi tubuh Sekar, Sekar sudah beberapa kali meminta Nino untuk memeluk dirinya. Tetapi Nino mengabaikan permintaan Sekar dengan beralasan sudah lelah, dia pun tetap berbaring dengan posisi yang sama


Tiba-tiba saja Sekar merasa marah akan sikap Nino yang seperti itu, dia pun langsung bangkit dari tempat tidur dengan cara yang kasar. Hal itu dia lakukan agar Nino mengetahui bahwa dia sudah tidak berada di samping Nino


Sekar pun mulai memakai sendalnya dan melangkahkan kakinya ke arah pintu, tentu saja Nino langsung di buat panik dan mendudukkan dirinya dengan sempurna


"Kamu mau ke mana sayang?"


"Malam ini aku mau tidur di kamar Ajeng aja" menatap tajam ke arah Nino


Nino bagaikan mendapatkan sebuah tamparan yang sangat keras, dalam sekejap wajah Nino pun sudah berubah menjadi pucat


"Tapi kenapa kamu mau tidur di sana sayang?"

__ADS_1


"Buat apa aku tidur di sini kalo kamu kayak gitu? mending aku tidur sama Ajeng aja" dengan nada yang ketus dan wajah yang marah


Nino pun langsung bangkit dan menghampiri Sekar


"Jangan tidur di sana dong sayang, masa aku tidur sendirian di sini"


"Buat apa tidur bareng kamu? kalo aku ngerasa kayak lagi tidur sendirian. Kalo di kamar Ajeng enak aku bisa minta dia peluk aku"


"Aku juga mau kok peluk kamu"


Sekar hanya terdiam dan menatap tajam ke arah Nino


"Lagian apa kamu ga malu kalo nanti Ajeng tanya kenapa kamu tidur di kamar dia?"


"Ngapain harus malu? aku tinggal bilang suami aku udah bosen sama aku, makanya dia cuekin aku"


"Siapa yang bilang begitu? ya ga mungkin lah sayang aku bosan sama istri aku yang paling cantik ini, yang ada aku tuh semakin sayang sama kamu" tersenyum


Nino selalu melepaskan senyuman terbaik dan kata-kata yang lembut untuk membujuk Sekar


"Buktinya tadi boro-boro aku di peluk sama kamu kayak biasanya, yang ada aku mau peluk kamu aja ga boleh"


"Ya udah maaf, aku minta maaf ya. Aku cuma..."


"Cuma apa?" menatap tajam


"Aku cuma ngerasa agak marah aja, kamu tiba-tiba bersikap kayak tadi sama Ervan. Mana kamu lakuin itu semua di depan mata aku"


"Kalo aku lakuin hal itu dengan laki-laki lain boleh kamu marah, tapi ini bukan orang lain. Aku lakuin itu semua sama kak Ervan dan semuanya di depan mata kamu, masa kamu masih marah juga"


"Ya aku yang salah aku minta maaf ya, udah yuk jangan berantem lagi udah malam. Kasian juga anak kita kalo dengar mama dan papanya berantem"


Nino mengelus lembut perut Sekar agar Sekar tak lagi marah, sedangkan Sekar hanya terdiam


"Ya sayang aku yang salah aku minta maaf ya, aku janji aku ga akan lakuin hal itu lagi"


Nino pun mengarahkan Sekar agar kembali ke tempat tidur, dan sudah pasti Sekar akan mengikuti keinginan Nino. Seperti biasanya Nino akan memberikan salah satu tangannya untuk menjadi bantal bagi Sekar sambil memeluk tubuhnya

__ADS_1


Kelakuan aneh Sekar sekecil apapun dapat membangkitkan rasa cemburu Nino, tetapi Nino tak akan berani untuk melawan keinginan Sekar karena ancaman dari Sekar jauh lebih menakutkan bagi Nino


__ADS_2