
Tak selang berapa lama kepergian Rendi Nino menghempaskan segala barang yang ada di atas mejanya, Nino memakai ke dua tangannya untuk menutupi wajahnya
"Gimana kalo dia minta aku lepasin Sekar? aku akuin awalnya aku cuma melihat Sekar sepintas karena mirip mama dan dia orang pertama yang membuat aku menjadi orang normal, dan berada di antara keluarga Sekar membuat aku merasakan kehangatan sebuah keluarga. Perasaan yang sudah sangat lama hilang dari kehidupan aku, tapi kalo seandainya Rendi aku melepaskan Sekar aku harus gimana? karena sekarang aku sadar aku nyaman berada di dekat Sekar"
Tok.. Tok..Tok.. Nino segera menyeka matanya yang mulai berkaca-kaca
"Masuk"
"Permisi pak" Ervan masuk ke dalam ruang kerja Nino
"Udah aku duga pasti ruangan pak Nino akan seperti ini, ini yang paling aku takutkan" Ervan menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya ke arah meja Nino lalu mulai merapikan barang-barang di atas meja Nino yang berserakan
"Apa anda baik-baik saja pak?"
"Saya tadi sempat merasakan ingin sedikit egois Van, rasanya saya mau biarin Rendi salah paham tentang Sekar"
Rendi melirik ke arah bosnya walaupun tangannya tetap dia gunakan membereskan barang-barang yang berserakan "Tapi saya yakin anda tidak akan melakukan hal tersebut pak, karena saya yakin jika ada sedang menjaga sesuatu anda tidak ingin apa yang ada jaga merasakan sakit. Seperti anda menjaga saya dulu, itu yang membuat saya akan selalu setia kepada anda pak"
"Saya ga mungkin lakukan itu Van"
Nino Erlangga seorang pengusaha muda yang sangat sukses segala bidang usaha yang dia kendalikan di bawah tangan dinginnya selalu sukses, tetapi di balik itu semua ada sesuatu yang tak bisa di pungkiri hingga Nino kini berumur hampir kepala tiga Nino tak pernah terdengar atau pun diam-diam menjalani suatu hubungan dengan seorang wanita. Hingga banyak berita miring yang mengabarkan bahwa dia tidak menyukai wanita
Nino tak pernah mengizinkan seorang wanita berada di dekatnya bukan hanya karena tanpa alasan, Nino selalu merasakan perasaan aneh bila berada di dekat seorang wanita apalagi bila wanita tersebut terlihat cantik dan sangat modis dan berbagai wangi-wangian yang sangat menggoda. Nino merasakan perasaan yang bisa di bilang jijik bila berhadapan dengan wanita seperti itu
Masa kecil Nino di hiasi dengan kebahagiaan yang tak pernah ada habisnya, dia memiliki mama yang selain cantik juga baik hati di setiap kesehariannya selalu menemani dirinya. Nino adalah cucu pertama dari keluarga Erlangga dan menjadi anak semata wayang dari keluarga kecilnya
Tapi saat menjelang umurnya belasan banyak kejadian pahit hinggap di hidupnya bermula dari sang ibu hingga meninggal dunia dan beberapa kejadian selanjutnya, semua rentetan kejadian pahit menumbuhkan benih dendam terhadap papanya dan muak terhadap wanita cantik. Kian lama perasaan Nino semakin tidak menyukai para wanita cantik, dan dia semakin merasakan jijik kepada para wanita yang rela melakukan apapun asalkan bisa berdiri di sampingnya
__ADS_1
Perasaan di dalam hatinya mulai berubah saat pertama dia kali dia bertemu dengan Sekar, seorang wanita yang untuk pertama kalinya berani membantah ucapan dari bibirnya. Seorang wanita yang bisa membuat dirinya nyaman karena senyuman Sekar sangat mirip dengan mamanya, dan seorang wanita yang bisa membuat dirinya tak lagi merasakan jijik saat mereka bersentuhan
Ervan menatap sendu ke arah Nino "Saya yakin kamu yang sekarang sudah bukan anak kecil itu lagi, saya hanya berharap semoga kamu kali ini akan bisa menyelesaikan ini semua dengan baik. Saya ga ingin melihat Nino kecil yang seperti dulu lagi"
Sedangkan Rendi adalah anak dari seorang supir yang bekerja kepada keluarga Erlangga, kedekatan mereka di mulai saat Nino kecil berada di titik paling terdalam dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, Ervan yang mengetahui hal tersebut berlari sekuat tenaga dan menyelamatkan dirinya saat itu hendak menjatuhkan dirinya dari lantai atas rumah mereka
"Saatnya anda bangkit pak" Nino menatap sendu ke arah Ervan
"Apa yang anda inginkan? Anda harus berani untuk raih jangan cuma menatap dari kejauhan. Maaf pak bila saya sudah lancang"
"Tapi anak itu kayaknya mau tagih janji aku Van, dan kayaknya dia mau minta Sekar" lirih
"Saatnya anda berani untuk menentukan pilihan yang anda mau pak"
"Tapi kan saya sudah janji untuk berikan apapun yang dia mau" menyenderkan tubuhnya ke bangku dan menutup ke dua bola matanya
"Tapi kan Van..."
"Cukup pak, maaf bila saya sudah lancang saya hanya mau mengingatkan bapak kebahagiaan diri kita hanya kita yang bisa menentukan. Dan saya tidak ingin melihat hancurnya Nino kecil terulang kembali" menatap tajam, dan untuk pertama kalinya Ervan menunjukkan sikap seperti itu kepada Nino. Ucapan dan tatapan mata dari Ervan membuat Nino hanya bisa terdiam seribu bahasa
"Saya akan minta Sekar membuatkan minuman yang baru untuk bapak, kalo gitu saya permisi dulu pak" Nino hanya bisa membalas dengan sedikit anggukan kepalanya, dan Ervan pun keluar dari ruangan tersebut. Ervan segera kembali ke ruang kerjanya dan menghubungi Sekar
"Ya pak"
"Buatin minuman yang baru untuk pak Nino"
"Baik pak"
__ADS_1
"Sekar bisa saya minta tolong ke kamu? saya yakin cuma kamu yang bisa lakukan itu"
"Apa perasaan aku doang ya? kayaknya suara pak Ervan agak aneh, kedengaran kayak lagi sedih" apa yang bisa saya bantu pak?"
"Tolong tetap berada di samping Nino dan tolong hibur dia"
"Maaf pak maksudnya apa ya pak? saya kurang paham"
"Kamu cukup inget kata-kata saya itu" lirih
"Baik pak" Ervan memutuskan sambungan teleponnya
"Aku beneran ga paham sama omongan pak Ervan, kalo dia bilang tetap di samping pak Nino itu kan memang udah tugas aku. Kalo dia bilang hibur pak Nino apa coba? lah pak Nino punya semuanya yang orang ga punya, aku memangnya badut yang tugas menghibur orang apa?"
Sekar segera membuatkan segelas teh manis sesuai dengan yang selalu dia siapkan, Sekar tak mau ambil pusing dan segera menuju ke ruang kerja Nino
Tok.. Tok.. Tok..
Tak ada jawaban sama sekali dari dalam seperti yang sering terjadi, Sekar kembali mencoba mengetuk pintu tetap saja membuahkan hasil yang sama. Sekar pun memutuskan untuk langsung membuka pintu tersebut
"Maaf pak saya mau mengantarkan minuman" Sekar melihat ke arah bangku kebesaran Nino tetapi dia tak berada di sana, Sekar meletakkan gelas yang dia bawa ke meja kerja Nino dan menyapu bersih seluruh ruangan tersebut tetapi tetap tak menemukan di mana keberadaan Nino. Tanpa berpikir panjang Sekar segera ke ruangan Ervan dan mengetuk pintu
"Masuk" Sekar masuk dengan wajah cemas
"Nino kenapa?" langsung bangkit dari duduknya terlihat dengan jelas bahwa Ervan saat itu panik dan sudah hendak melangkahkan kakinya
"Apaan sih pak Ervan kok aneh begini?" maaf pak saya ga liat pak Nino di ruang kerjanya, apa Nino lagi keluar kantor?" dengan polosnya
__ADS_1