
Ervan yang panik mendengar hal tersebut segera berlari ke ruang kerja Nino dan Sekar pun mengikuti dari belakang dengan perasaan yang bingung melihat tingkah Ervan, melihat Nino yang tak ada Ervan segera membuka toilet di ruang kerja Nino tetapi tetap tak menemukan keberadaan Nino. Ervan segera ke ruang istirahat Nino dan Nino ada di situ sedang tertidur dengan kening yang masih berkerut
Sekar dapat melihat dengan jelas bahwa wajah Ervan saat itu seperti seorang anak kecil yang berhasil menemukan mainan yang telah hilang, ada perasaan lega yang terlukis dengan jelas dari raut wajah Ervan. Ervan kembali keluar dari ruang istirahat Nino dan menatap ke arah Sekar
"Maaf pak saya ga tau kalo pak Nino ada di ruang istirahatnya" menundukkan kepalanya merasa bersalah
"Sekar tolong jaga Nino dengan baik cuma kamu yang bisa lakukan itu, kalo ada apa-apa segera hubungi saya" pergi meninggalkan Sekar begitu saja dan kembali ke ruang kerjanya
"Apa sih maksud pak Ervan? apa jangan-jangan pak Nino lagi sakit ya? sebaiknya aku bawa aja teh nya ke ruang istirahat pak Nino dan aku coba cek pak Nino apa baik-baik aja"
Sekar kembali mengambil teh hangat yang tadi sudah dia letakkan di meja kerja Nino dan membawanya ke ruang istirahat Nino lalu meletakkan di atas meja ruang istirahat Nino. Tanpa ragu sama sekali Sekar berjalan mendekati Nino dan menatap wajah Nino dengan seksama
"Sebenernya pak Nino kenapa ya? tadi waktu ada kak Rendi baik-baik aja. Tapi kalo liat muka pak Nino sekarang kenapa aku ngerasa pak Nino lagi sedih ya?" Sekar kembali mendekati Nino dan meletakkan tangannya di kening Nino dia sama sekali tak terpikirkan apapun dia hanya akan memastikan keadaan Nino
"Tapi ga panas badan pak Nino? terus kenapa pak Ervan panik kayak tadi ya? terus sekarang aku harus gimana ya? sebaiknya aku tunggu di luar aja ga enak kalo sampe pak Nino istirahat" Sekar sudah bersiap untuk keluar dari ruangan tersebut tiba-tiba saja
"Hem... Hem..." Sekar segera membalikkan tubuhnya dan kembali mendekati Nino
"Mah.."
"Pak Nino kayaknya lagi mimpi ya"
__ADS_1
"Jangan tinggalin Nino mah" lirih
"Kenapa aku jadi ikutan sedih ya? aku kira pak Nino lagi mimpi baik kayaknya pak Nino lagi mimpi buruk, kayaknya aku bangunin aja deh ga tega liatnya"
"Pak.. Pak Nino bangun pak" sambil menggoyangkan tangan Nino dengan pelan, Nino yang terbangun dari tidurnya menatap tajam ke arah Sekar
Tes.. Air mata Nino terjatuh dari matanya karena mimpi yang baru saja dia alami, Nino yang tak ingin di lihat dalam keadaan seperti itu oleh Sekar tiba-tiba saja berteriak dengan sangat kencang
"Ngapain kamu di ruang istirahat saya?!!" dan melepaskan tatapan membunuhnya
Entah mengapa saat itu Sekar merasakan sakit yang teramat di dalam hatinya melihat sikap Nino yang seperti itu tanpa dia sadari air matanya terjatuh dengan sendirinya "Maaf pak saya sudah lancang masuk ke ruang istirahat bapak, saya cuma mau mengantarkan teh hangat untuk bapak" dengan suara yang bergetar karena menahan air matanya agar tak kembali menetes
"Saya permisi dulu pak" membalikkan tubuhnya
"Tunggu, saya mau minta maaf"
"Ga perlu minta maaf pak, karena saya bukan siapa-siapa saya yang terlalu lancang ke ruangan ini, lagi pula saya sendiri ga tau ada apa dengan saya, kenapa air mata saya bisa keluar dengan sendirinya?" Sekar memutar kembali tubuhnya walaupun tak menatap langsung ke arah Nino
"Ga pak bapak ga salah, saya yang salah sudah lancang ke ruangan ini dan mengganggu istirahat bapak" masih dengan suara yang bergetar
Entah apa yang ada di dalam pikirannya Nino saat itu tiba-tiba saja dia langsung berdiri dan memeluk tubuh Sekar dengan sangat erat, yang dia tau dia hanya tak ingin Sekar pergi dari pandangannya dengan keadaan seperti itu. Sedangkan Sekar menjadi sangat terkejut karena Nino kini memeluk tubuhnya dengan sangat erat
__ADS_1
"Maaf.. Tolong maafin saya karena saya udah bentak kamu, tadi saya cuma ga mau kamu liat keadaan saya yang seperti itu" lirih
"Ya pak saya ga apa kok pak" cukup lama Nino hanya terdiam sambil terus memeluk Sekar dengan erat, air mata berhenti dengan sendirinya dan kini wajah Sekar entah sudah semerah apa karena pelukan hangat dari Nino tersebut. Bahkan dia serasa bisa mendengar detak jantungnya karena berdetak dengan sangat kencang
"Maaf pak bukannya bapak bilang ga baik kalo perempuan peluk laki-laki begini, tapi sekarang bapak lagi peluk saya"
"Tolong biarin saya peluk kamu sebentar lagi" lirih, entah mengapa Sekar merasa mendengar suara Nino yang bergetar
"Sebenernya apa yang udah di lalui di dalam kehidupan pak Nino selama ini? aku ngerasa dia terkadang seperti sebuah benteng yang sangat kokoh untuk menjaga hatinya terdalam, tapi kadang aku juga bisa melihat kalo sepertinya hatinya sangat rapuh"
Cukup lama juga Nino memeluk tubuh mungil Sekar dan Sekar hanya bisa terdiam dan terus menahan detak jantungnya yang berdetak tak karuan pada saat itu, sebelum Nino melepaskan pelukannya Sekar merasakan ada sebuah air yang menetes di pundaknya "Pak Nino lagi nangis ya? apa ini maksud omongan pak Ervan dan kecemasan pak Ervan yang berlebihan tadi? tapi kenapa pak Ervan bilang cuma aku yang bisa?"
"Kamu keluar aja dulu, saya masih mau di sini sebentar lagi"
"Baik pak kalo gitu saya permisi keluar dulu" untuk menjaga harga diri Nino Sekar memutuskan untuk tidak menatap ke arah Nino yang saat itu langsung memalingkan wajahnya setelah melepaskan pelukannya
Sekar memilih mendudukkan dirinya di atas sofa dan mulai membuka buku untuk membuang segala pikiran yang bersarang di benaknya, sedangkan Nino terduduk lemas di atas kasurnya
"Apa yang udah aku lakuin tadi? kenapa aku bentak dia kayak tadi? sebenernya aku cuma mau nutupin rasa malu terlihat lemah di depan dia, kalo setelah ini dia benci sama aku gimana? kalo seandainya dia lebih pilih Rendi apa aku bisa menjalani suatu hubungan lagi dengan perempuan lagi. Sumpah Nino kamu bodoh banget, kenapa kamu yang buat air mata dia keluar?"
"Saat aku peluk dia tadi aku semakin yakin dengan perasaan aku, ini bukan cuma perasaan yang beda dengan perempuan lain tapi aku yakin ini perasaan yang tulus ingin memiliki seseorang. Apa ini yang di namakan cinta? kamu hebat Sekar, kamu bisa membuat aku merasakan perasaan ini"
__ADS_1