
"Saya tau saya jelasin juga kamu ga akan percaya, tapi saya bisa jamin kalo ini bukan perbuatan saya" dengan penuh keyakinan
Ternyata beberapa pengawal yang di kirimkan oleh papanya Nino bukan untuk mencelakai Sekar tetapi untuk melindungi Sekar, itulah alasannya Sekar bisa cepat berada di rumah sakit setelah kejadian naas itu terjadi. Nino yang sedang terbakar emosi tak mau mendengarkan penjelasan dari papanya, Nino tanpa sadar mencengkram kerah baju papanya
"Gimana saya bisa percaya sama orang kayak kamu? orang yang udah bikin mama saya sedih sampe akhir hidup dia, orang yang bikin saya ga percaya dengan yang namanya cinta. Orang yang bikin masa kecil saya seperti ada di neraka"
Nino mengucapkan semua kata-kata yang selama ini hanya terpendam di dalam hatinya untuk pertama kalinya kepada papanya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan tangan yang bergetar
"Pak lepas pak, sekarang yang terpenting adalah keselamatan Sekar"
Ervan yang baru saja tiba melihat pemandangan itu dan langsung berusaha melerai, seandainya kejadian itu berada di waktu dan tempat yang berbeda mungkin dia tak akan melarang. Tetapi saat ini Sekar jauh lebih penting dari pada apapun
Begitu mendengar nama Sekar Nino hanya bisa mengikuti upacan Ervan, secara perlahan dia mulai melepaskan cengkraman tangannya
"Saya akan buktikan kalo kejadian ini ga ada kaitannya sama saya"
Nino terduduk lemas sambil melepaskan tatapan membunuhnya kepada orang tersebut
"Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Saya memang habis memanggil dia untuk ajak dia bicara baik-baik, dan kejadian ini pun terjadi"
Nino pun langsung bangkit dari duduknya dan sudah hendak menyerang papanya, tetapi Ervan langsung memegangi tubuh Nino dengan erat
"Kamu mau di usir dari sini karena membuat keributan?" berbisik dengan nada yang berbeda dari biasanya
"Sekar Van"
"Saya tau, saya janji akan lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dia"
Nino menangis di dalam pelukan Ervan, setelah sekian lama Nino yang selalu membuat image dirinya seperti sebuah gunung es akhirnya kalah. Nino menunjukkan kembali sisi seperti seorang anak kecil yang sedang ketakutan, sisi lain dari Nino yang sudah lama tidak dia lihat
Tut..Tut..Tut..
"Ya"
"Seperti dugaan bapak, kejadian ini bukan murni sebuah kecelakaan pak"
"Apa yang kalian udah dapat?"
"Saya akan kirimkan ke email bapak, beberapa kejanggalan yang sudah saya temui pak"
__ADS_1
"Saya mau tau secepatnya, siapa dalang di belakang ini semua?"
"Baik pak" Ervan memutuskan sambungan teleponnya
"Kurang ajar, siapa yang berani melakukan ini semua? kamu salah memilih orang untuk di ajak bermain. Siapapun kamu saya ga akan pernah lepaskan kamu, karena kamu mengganggu orang terpenting dalam hidup saya"
Pintu tempat Sekar sedang di tangani pun terbuka, dan ada beberapa suster dan dokter keluar dari dalam ruangan tersebut, semua yang ada di situ langsung menghampiri dokter tersebut
"Gimana keadaan Sekar dok?"
"Pasien sedang dalam keadaan kritis karena mengalami pendarahan hebat di bagian kepala, kami harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien"
"Lakukan semua yang terbaik untuk menyelamatkan dia dok, berapa pun biaya yang di perlukan akan saya bayar"
"Kami akan berusaha semampu kami pak, apa anda anggota keluarga pasien? kami membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan tindakan"
"Saya tunangannya dok" dengan yakin
Kini Sekar sudah berada di ruang operasi dan semua yang lain sudah berada di luar ruang operasi termasuk papanya Nino, bahkan kini Rendi pun sudah berada di sana
Semua yang ada di sana hanya bisa saling diam dan berdoa di dalam hati mereka masing-masing untuk keselamatan Sekar, dan sudah pasti saat itu Nino lah yang merasa paling sedih terlihat jelas dari wajahnya
"Tuhan tolong jangan buat aku jatuh di lubang yang sama, jangan buat aku merasakan sakit itu lagi. Aku yakin akan kuasa Mu, aku memohon kepada Mu selamatkan Sekar"
"Bagaimana keadaan Sekar dok?"
"Operasinya berhasil dan kini pasien sudah melewati masa kritis, kami harus menunggu pasien tersadar terlebih dahulu untuk melihat perkembangan selanjutnya"
"Terima kasih Tuhan" berkaca-kaca
"Kalau begitu saya permisi dulu"
"Makasih dok"
Sekar kini terbaring di ruang rawat dengan wajah cantiknya yang terlihat pucat, Nino berada di sampingnya sambil terus menggenggam tangan Sekar dengan lembut
Hampir seluruh tubuh Sekar ada bekas lebam karena benturan dari kecelakaan tersebut, Nino tak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir tanpa menunggu perintah darinya. Sedangkan papanya dan Rendi langsung berpamitan setelah melihat keadaan Sekar, dan Ervan pergi entah ke mana
Sedangkan di tempat lain sudah duduk papanya Nino dan seorang gadis muda yang sangat cantik, gadis tersebut bernama Viona dia adalah gadis yang akan di jodohkan dengan Nino
"Apa kamu yang lakuin itu?" menatap tajam
__ADS_1
"Aku ga ngerti maksud om" dengan wajah polos
"Vio om udah peringatin kamu dari jauh hari jangan bertindak gegabah, kamu memang calon menantu yang om pilih untuk Nino. Tapi bukan berarti kamu bisa berbuat semaunya, om harap kamu memang ga terlibat dalam kasus kecelakaan itu"
"Aku memang ga tau apa-apa om"
"Karena kalo kamu terlibat walaupun om ga akan melakukan apapun ke kamu, tapi om yakin orang yang bernama Ervan ga akan melepaskan kamu dengan mudah"
"Om tenang aja, aku memang ga salah kok om"
"Kalau gitu om pergi dulu, oh ya ada kabar baik karena perempuan itu berhasil selamat. Tapi om benar-benar berharap dalang di balik ini semua ga akan melakukan kesalahan yang sama, atau om juga akan turun tangan" penuh penekanan
Papanya Nino pergi begitu saja meninggalkan Viona, wajah gadis cantik itu tampak menahan amarah mendengar semua perkataan dari papanya Nino
"Kurang ajar, kenapa perempuan itu berhasil selamat? sia-sia saya udah bayar mahal orang itu. Orang yang bernama Ervan itu bisa melakukan apa kalo dia ga punya bukti apapun? dan untuk kamu perempuan yang ga tau diri, saya akan buat kamu menghilang untuk selamanya karena Nino cuma boleh menjadi milik saya"
Viona gadis yang sangat cantik bak artis papan atas tersebut sedang larut dalam pikirannya, dia sedang memikirkan cara terbaru untuk menyelesaikan semua masalah. Karena Viona yakin dia tak meninggalkan jejak apapun asalkan sang supir di lenyapkan untuk selamanya dan tiba-tiba saja
"Selamat siang" tersenyum
"Siapa sih orang ini? ga sopan banget"
Viona hanya memberikan wajah tak suka kepada orang yang berdiri di hadapannya tersebut sedangkan orang itu tetap memberikan senyuman di bibirnya, tetapi bukan sebuah senyuman yang ramah senyuman yang terasa sedikit aneh bagi Viona. Dan ternyata orang tersebut adalah Ervan
Selepas kepergian papanya Nino dari rumah sakit Ervan langsung mengutus seseorang untuk mengikuti dari belakang, dan tak selang berapa lama Ervan pun tiba di tempat itu
"Siapa kamu?"
"Ervan" tersenyum
"Sial ini yang namanya Ervan, sumpah saya ga suka liat senyuman dia. Tenang Viona kamu ga melakukan apapun"
"Ada perlu apa sama saya?"
"Kamu perempuan yang mau di jodohkan sama pak Nino kan?"
"Ya"
"Perkenalkan nama saya Ervan, saya sekretaris pribadi pak Nino" menjulurkan tangannya
Viona hanya menatap dengan tatapan sedikit meremehkan tanpa mau berjabat tangan dengan Ervan
__ADS_1
"Ternyata yang namanya Ervan cuma sekretaris pribadinya Nino, saya kira siapa? tapi untuk ukuran seorang sekretaris dia ini terlalu sombong"
Dalam sekejap senyuman aneh di bibir Ervan menghilang begitu saja, Ervan menunjukkan wajah dingin yang akan langsung membuat nyali seorang Viona sedikit menciut