
"Sekolah ini milik pak Nino jadi kamu ga perlu memikirkan masalah apapun tentang biaya sekolah adik-adik kamu di sini"
"Tapi pak saya lebih baik mendaftarkan adik saya di sekolah biasa aja"
"Kenapa lagi?"
"Gimana perasaan adik-adik saya ngeliat itu?" menunjuk sebuah mobil yang baru saja tiba, sebuah mobil mewah yang baru saja parkir mengantarkan seorang murid
"Van" dengan malas
"Semuanya sudah di atur Sekar, mulai nanti akan ada sebuah mobil dan supir untuk mengurus semua urusan kamu dan adik-adik kamu"
"Tapi pak..."
"Apalagi sih?" membuang napasnya dengan kasar
"Aduh gimana caranya aku bilang? kalo ini sekolahan mewah pak, oke semua biaya bapak tanggung, ada transportasi yang memadai tapi untuk yang lainnya. Berapa penghasilan orang seperti saya ini pak?" menundukkan kepalanya
"Mungkin maksudnya Sekar dia memikirkan tentang kebutuhan keseharian adiknya nanti di sini pak, sedangkan dia belum mendapatkan nominal yang pasti untuk penghasilan dia perbulan" Ervan mencoba menengahi agar perdebatan itu segera selesai
"Terima kasih pak Ervan sudah menyelamatkan hidup kami" tersenyum
Nino hanya diam dan mengangkat dua jarinya
"Okh.. Dua juta ya pak" dengan polosnya dan terlihat Sekar langsung menundukkan kepalanya
"Ga mungkin lah aku suruh Ajeng sama Dimas sekolah di sini dengan gaji segitu, belum lagi kami harus bayar kontrakan rumah tiap bulannya"
"Maksud pak Nino bukan dua juta tapi dua puluh juta"
Sekar yang mendengar ucapan Ervan langsung tertawa terbahak-bahak sedangkan Nino langsung memandang ke arah Sekar dengan tatapan yang aneh, seolah-olah sekali ini Nino tak dapat membaca jalan pikiran Sekar sedangkan Ervan lagi-lagi hanya bisa melirik melalui kaca spion
"Ya kalo bercanda jangan berlebihan pak Ervan, memang saya kerja apa?" kembali tertawa
"Kenapa bercanda? kamu orang saya wajar kamu dapat segitu setelah di potong ganti rugi yang harus kamu bayar"
"Dua puluh juta pak perbulan, kalo beneran saya dapat segitu saya ga perlu lagi tinggal di rumah kontrakan kecil itu lah setelah gajian pertama nanti" kembali tertawa
"Kenapa kamu bisa tau saya sudah menyiapkan itu juga, hanya tinggal mengisi beberapa barang aja. Ga dia ga mungkin tau kejutan terakhir yang udah saya siapkan"
"Bagus juga itu, secepatnya saya ga mau lagi liat kamu pulang ke rumah kontrakan kamu yang ga bisa di masukin mobil itu" dengan santai
"Tunggu pak maksud bapak ini beneran?" menghentikan tawanya
__ADS_1
"Apa?" melihat sekilas
"Gaji saya segitu"
"Selama satu tahun kamu akan dapat gaji segitu, setelah hutang kamu lunas nanti hitungannya beda lagi"
"Gila gaji orang yang tugasnya kasih makan buaya aja belum tentu segitu, aku kerja begini doang bisa dapat segitu. Berarti berapa gaji pak Ervan per bulan ya?" menatap serius ke arah Ervan, Ervan yang menyadari hal tersebut membuang pandangannya ke arah lain agar tak menjadi masalah bagi dirinya sendiri
"Ngapain kamu liatin dia begitu?" sinis, Sekar pun cengengesan
"Kenapa?" mulai menaikkan volume suaranya tanda tidak suka
"Tolong Sekar pintar sedikit di hadapan orang ini, jangan membuat masalah baru bagi saya" Ervan tetap tak mau menoleh ke arah Sekar
"Aku cuma kagum sama pak Ervan aja" cengengesan
"Apa yang buat kamu kagum sama dia?"
"Gaji pak Ervan pasti jauh lebih besar dong dari aku kan jadinya keren banget" dengan polosnya menatap antusias ke arah Nino
"Lebih keren saya dong" Sekar hanya bisa mengerutkan keningnya
"Kan saya yang gaji kalian" dengan bangga, Sekar hanya bisa menjawab dengan senyuman canggung
"Ingat mulai besok adik-adik kamu sudah mulai sekolah di sini"
"Baik pak" dengan malas
"Seandainya aja kami bisa tabung semua uang itu ga butuh waktu lama aku bisa beliin apapun yang Ajeng dan Dimas mau, tapi aku ga mungkin lawan perintah dari sang bos besar atau aku bisa kehilangan semua kesempatan yang aku dapat sekarang"
"Sumpah kalo bisa teriak aku akan teriak sekuat tenaga di telinga orang ini biar dia tau kalo pilihan yang ada di depan aku ini benar-benar pilihan yang sulit, di satu sisi aku mendapatkan kesempatan yang baik tapi di sisi lain aku sedih menghamburkan semua uang itu"
"Jalan Van"
"Baik pak" Ervan kembali melajukan mobilnya dan kini menuju ke sebuah mall yang sangat mewah di kota tersebut, Ervan memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus mall tersebut
"Silahkan pak" membuka pintu mobil, Nino turun dengan santainya sedangkan Sekar hanya bisa diam dan mengikuti
Mereka pun mulai masuk ke dalam mall mewah tersebut, dan Sekar mulai celingak-celinguk melihat keadaan sekeliling mereka. Sekar baru menyadari bahwa mall mewah tersebut sepi akan pengunjung, Sekar mendekati Ervan dan mulai berbicara secara pelan tetapi ternyata masih terdengar oleh Nino yang berjalan di paling depan
"Aneh ya pak mall bagus begini tapi sepi"
"Karena pak Nino menutup sementara mall ini"
__ADS_1
"Memangnya pak Nino bisa lakukan itu?"
"Kenapa ga bisa? mall ini punya saya. Saya ga suka keramaian saat sedang berbelanja" dengan sombongnya
"Astaga sebenarnya pak Nino ini sekaya apa sih? tadi sekolah itu punya dia, sekarang mall ini juga punya dia. Apa masih ada yang dia ga punya di dunia ini?"
Nino menghentikan langkahnya di sebuah butik pakaian yang sangat ternama, dan mulai masuk ke dalam sedangkan dua orang yang berjalan di belakangnya hanya bisa mengikuti dia
"Pilih pakaian yang kamu mau untuk di pake kerja dan ke kampus"
"Tapi pak..." Saya bayar pake apa? gajian pertama saya juga masih lama pak"
"Van"
"Pak Nino ga suka saat kita karyawan yang berada di sampingnya tidak menggunakan pakaian yang rapi, jadi pak Nino meminta kamu memilih pakaian yang kamu mau. Dan kamu ga perlu pikirin masalah pembayarannya"
"Tapi pak apa nanti gaji saya akan di potong lagi?" sedikit berbisik
"Semuanya akan di tanggung oleh perusahaan, saya sarankan kamu memilih banyak baju dress agar terlihat lebih rapi saat kita berada bersama pak Nino di luar kantor"
"Baik pak" dengan malas
"Oh ya saya lupa bilang pak Nino ga suka melihat kita pakai pakaian yang sama secara terus menerus, jadi saya sarankan kamu mengambil banyak baju sekalian"
"Kok aneh gini ya? kenapa di kasih tapi jadi beban di hati"
"Udah cepat dikit, jangan buang waktu saya"
Ervan langsung memerintahkan para pelayan di tempat itu untuk mengambilkan pakaian terbaik di tempat itu, Sekar mulai masuk ke ruang ganti dengan pakaian yang akan dia coba
Sekar keluar dari ruang ganti menggunakan dress pertama yang di pilihkan, sebuah dress berwarna biru muda selutut berhiaskan renda putih yang sangat anggun. Nino langsung terpana saat melihat Sekar menggunakan pakaian tersebut
"Anu pak.. Maaf pak tapi"
"Kamu cantik pakai itu, mulai sekarang kamu harus pakai pakaian seperti ini terus" tanpa sadar Nino mengucapkan kata-kata tersebut
"Saya mau bilang harganya bikin sakit kepala saya pak"
"Tapi pak harganya.." Sekar memberanikan diri untuk mengatakannya tetapi langsung terpotong oleh ucapan Nino
"Van urus pakaian dia mulai sekarang, baju itu ukurannya pas sama dia" tanpa menghiraukan perkataan Sekar sama sekali
"Udah kamu tunggu di sini" menepuk bangku kosong di sebelahnya, Sekar hanya bisa pasrah dengan itu semua
__ADS_1