
Ervan mengetahui semua kabar terbaru tentang istrinya karena dia mengirimkan banyak sekali pengawal untuk menjaga istrinya dari kejauhan, bahkan tentang kaki Citra pun Ervan sudah mengetahui hal tersebut. Hal itu yang membuat Ervan semakin tak berani menemui Citra sebelum dia berhasil membalas rasa sakit Citra
Citra berada di sebuah rumah mewah keluarganya yang berada di luar kota, dan sore itu dia menghabiskan waktu di taman duduk di atas kursi rodanya sambil mengingat kenangan dirinya dan Ervan
"Aku harap kamu akan menemukan kebahagiaan kak, aku harap kamu akan temukan seseorang yang lebih baik dari aku" berkaca-kaca
Citra mengeluarkan ponselnya dan melihat foto Ervan yang berada di sana, ini adalah pertama kalinya dia harus terpisah sekian lama dari sosok Ervan
"Kamu lagi apa sekarang kak? apa kamu baik-baik aja?"
Rasa rindu Citra terhadap sosok seorang Ervan membuat dirinya meneteskan air matanya
"Dia ga baik-baik aja, karena orang terpenting di dalam hidup dia pergi dari dia"
"Ini suara kak Ervan, ga dia ga mungkin ada di sini. Pasti aku terlalu kangen sama kak Ervan sampai aku bisa dengar suara kak Ervan dengan jelas"
"Sampai kapan kamu mau pergi dari aku?"
Citra langsung menoleh ke arah suara tersebut dan benar saja Ervan sudah berdiri tepat di belakang dirinya
"Ga, kak Ervan ga boleh lihat keadaan aku sekarang. Dia berhak dapat perempuan yang lebih baik dari aku, aku ga mau di kasihani lagi kayak dulu"
Citra langsung menggerakkan kursi roda untuk pergi menjauh dari Ervan dan kembali ke dalam rumah, tetapi dengan cepat Ervan sudah berada tepat di hadapan Citra. Ervan pun mulai berjongkok di hadapan Citra
"Kamu boleh hukum aku dengan cara apapun sayang, tapi tolong jangan pernah pergi dari sisi aku selamanya. Bukannya kita sudah janji hanya Tuhan yang bisa memisahkan kita?"
"Pergi dari sini, aku mohon kak aku ga bisa pertahankan rumah tangga kita kak"
Citra berusaha mendorong tubuh Ervan dan sudah pasti hasilnya adalah sia-sia
"Aku udah bilang hanya Tuhan yang bisa memisahkan kita, kalau kamu tetap minta aku pergi dari sini. Pertemuan kita selanjutnya hanya ada di saat nanti kamu datang di acara pemakaman aku sebentar lagi" penuh keyakinan
Citra langsung menarik tangannya
"Apa maksud kak Ervan? ga mungkin dia akan lakukan hal yang sia-sia. Pasti dia ucapkan itu supaya kami kembali, tapi aku ga bisa kalau harus menjadi beban dia selamanya"
Ervan mendekatkan wajahnya dan mencium kening Citra dengan lembut
__ADS_1
"Aku titip anak-anak kita ya, aku ga akan bisa lanjutin hidup aku tanpa ada kamu di sisi aku" berbisik
Ervan langsung melangkahkan kakinya pergi menjauh dari Citra
"Ga mungkin kak Ervan lakukan itu, tapi gimana kalau kak Ervan benar-benar berbuat nekat? kak Ervan selama ini selalu memegang ucapannya"
Saat Citra tersadar ternyata sosok Ervan sudah menghilang dari pandangan matanya
"Kak.. Kamu di mana kak?"
Citra berusaha berteriak sekuat tenaga sambil terus melihat ke kiri dan kanan berusaha mencari keberadaan Ervan
"Kak Ervan bodoh!!"
Citra yang panik pun lupa bahwa kini salah satu kakinya sudah tak berada di tempatnya lagi, Citra berusaha bangkit dan berakhir dengan terjatuh di atas hamparan rumput hijau taman rumah mewah tersebut. Citra meluapkan segala kesedihannya dengan memukul tanah sambil menangis dengan hebat
"Jangan lakukan hal bodoh kak, kenapa kakak ga bisa ngerti perasaan aku kak? aku lakuin ini untuk kakak. Aku mau hidup kakak bahagia, aku ga mau hanya menjadi beban bagi kakak selamanya"
"Kalau kamu mau lihat aku bahagia, tolong jangan pernah pergi dari sisi aku selamanya"
Citra pun menoleh ke arah suara itu berasal dan ternyata Ervan sudah berdiri tak jauh dari Citra, Citra hanya bisa terdiam sambil mengalirkan air matanya. Ervan pun mulai mendekati Citra dan memeluk tubuh istrinya dengan erat
Citra memukul tubuh Ervan sekuat yang dia bisa dan Ervan diam sambil terus memeluk tubuh istrinya
"Bodoh" dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan
"Ya aku memang bodoh, aku terlalu bodoh hingga harus selama ini baru menyadari seberapa penting kamu bagi aku"
Citra pun mulai berhenti memukul tubuh Ervan dan hanya ada ketenangan di dalam lubuk hatinya mereka berdua, Ervan mencium kening Citra dengan sangat lembut
"Kita pulang ya" menatap penuh harap, Citra hanya terus meneteskan air matanya sambil menganggukkan kepalanya
Hari hari damai terus berlalu di kehidupan mereka hingga tiba saat di mana Sekar akan melahirkan buah hati mereka, bayi mungil tersebut di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi dirinya. Dan Ricardo pun berdiri tepat di samping box bayi tersebut
"Ingat dia perempuan jadi kamu ga boleh ajari dia hal tidak baik, saya ga mau dia menjadi perempuan yang galak"
Ricardo hanya tersenyum tipis sambil terus menatap bayi mungil tersebut
__ADS_1
"Sayang!! apa maksud kamu ngomong gitu sama adik aku?"
"Aku ga ada maksud apapun kok sayang"
Nino tersenyum menghadap ke arah Sekar yang masih berbaring di atas tempat tidur, sedangkan Sekar sudah menatap tajam ke arah Nino. Tingkah laku mereka berhasil membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut tertawa lepas
"Kamu lihat sendiri kan? cuma sebentar dia ikut kamu sekarang udah berubah menjadi galak begitu padahal dulu dia itu perempuan yang lembut. Jadi aku ga mau anak perempuan aku jadi galak kayak gitu" berbisik
Ricardo hanya membalas dengan tatapan malas, tiba-tiba saja Nino mengangkat bayi mungil tersebut dengan sangat hati-hati dan menyodorkan bayi mungil tersebut ke arah Ricardo
"Kamu ga mau gendong ponakan pertama kamu?" tersenyum
"Aku ga bisa gendong anak kecil" memasang wajah panik
"Pasti bisa, aku aja bisa" tersenyum
Nino memindahkan bayi mungil tersebut ke tangan Ricardo, Ricardo pun hanya bisa memasang wajah tegang karena itu adalah pertama kalinya dia menggendong seorang bayi. Dan secara perlahan dia pun mulai bisa melemaskan tubuhnya dan terus menatap bayi mungil tersebut
"Terima kasih"
Ricardo menatap serius ke arah Nino yang sedang tersenyum menghadap dirinya
"Terima kasih telah menyelamatkan bayi kami" tersenyum dengan tulus
Entah mengapa ucapan dari Nino berhasil menyentuh lubuk hati Ricardo, seorang penjahat yang cukup ternama dapat merasakan kehangatan sebuah keluarga. Kehangatan yang selama ini dia rindukan
"Aku harus lakuin itu karena mereka kakak dan keponakan aku"
Sekar hanya bisa tersenyum bahagia melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya
"Terima kasih Tuhan, hamba yakin di setiap rasa sakit yang engkau berikan akan selalu ada kebahagiaan di ujung jalan tersebut. Terima kasih Tuhan kau telah kirimkan orang-orang yang baik di sekeliling hamba"
Dan hasil tes dna tentang bayi mungil perempuan itu menunjukkan bahwa bayi mungil tersebut anak kandung dari seorang Nino, hal tersebut melengkapi kebahagiaan di antara mereka semua
TAMAT
Terima kasih buat kakak semua yang sudah membaca cerita aku dan dukungan dari kakak semua selama ini, dan semoga cerita aku bisa menghibur kakak semua. Maaf kalau ceritanya ada yang kurang berkenan, aku hanya menuangkan apa yang ada di pikiran aku aja 😊😊
__ADS_1
Buat kakak semua mampir juga ke cerita aku yang lain ya...🥰
Sekali lagi aku ucapkan terima kasih..