Kisah Cinta Sang Gadis Desa

Kisah Cinta Sang Gadis Desa
Senyuman


__ADS_3

"Kamu bisa lakukan apapun yang kamu mau saat saya ga butuhkan apapun"


"Apa saya boleh belajar di sini pak?"


"Saya tadi udah bilang, kamu boleh lakukan apapun selama saya ga butuh kamu" dengan tegas


"Baik pak" dengan perasaan yang dia sendiri tak tau Sekar memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa, dia memutuskan membaca buku yang telah dia dapatkan dari kampusnya. Karena hanya itu yang ada di dalam pikirannya untuk mengusir waktu


Sedangkan Nino sang penggila kerja kembali sibuk dengan segala urusan kerjanya, Sekar mulai membuka lembar demi lembar buku yang sedang dia pegang dan dia pun mulai merasa aneh dengan tugas yang dia punya


"Aneh banget sih, apa iya ada kerjaan kayak gini? masa cuma di suruh duduk diam di dalam ruang kerjanya dan di gaji mahal. Mana fasilitas yang di kasih terlalu berlebihan, atau jangan-jangan pak Nino beneran suka sama aku ya" Sekar tersenyum sendiri dan tanpa dia sadari wajahnya pun ikut merona


Nino ternyata sedang memperhatikan Sekar yang bersikap seperti itu "Apa dia lagi mikirin Rendi makanya dia bertingkah begitu? apa aku harus ikuti saran Ervan memindahkan Sekar dari kampus itu. ya? apa lagi laki-laki itu juga kuliah di sana"


"Apa kamu suka kampus kamu?"


"Suka pak" tersenyum dengan hangat


"Akh.. Bisa gila sendiri aku mikirin perempuan ini"


"Kenapa? apa ada orang yang kamu kenal di situ?" Sekar langsung menundukkan kepalanya


"Iya pak" lirih dan menunjukkan ekspresi sedih


"Siapa?"


"Kak Alvin pak"


"Apa kamu suka kuliah di situ karena ada dia?" dingin dan memasang wajah kurang suka, mendengar pertanyaan itu Sekar mulai menatap ke arah Nino


"Kenapa lagi nih?" bukan pak"


"Jadi dia suka di sana karena ketemu Rendi ya? tapi aku juga ga bisa mengatur terlalu jauh pilihan Sekar"


"Udah jangan berisik kamu ganggu saya kerja" melanjutkan pekerjaannya


"Dasar aneh dia yang tanya sekarang dia yang bilang aku berisik" Sekar pun tak mau ambil pusing dan kembali membaca buku yang tadi dia baca,. Dan bodohnya tanpa Sekar sadari rasa kantuk mulai menghampiri dirinya, dan tanpa dia sadari dia pun tertidur di atas sofa dengan buku yang masih berada di atas pahanya

__ADS_1


Nino mengirimkan pesan singkat kepada Ervan untuk mencari tau apa yang terjadi dengan Sekar di kampusnya, karena Nino yakin bila Sekar sudah bertemu dengan Alvin. Bagi seorang Nino itu bukanlah hal yang sulit karena Nino juga menjadi salah satu donatur terbesar di kampus tersebut


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat Nino melihat gelas minuman yang dia miliki telah kosong, dia pun melihat ke arah Sekar yang ternyata masih tertidur dengan pulas


"Sejak kapan dia tidur?" Nino mulai melangkahkan kakinya ke arah Sekar dan mengambil buku di atas pahanya lalu meletakkan buku tersebut ke atas meja


Nino mulai menatap wajah Sekar dengan seksama dan yang terjadi jantung Nino pun kembali berdetak dengan sangat cepat "Perasaan ini datang lagi, rasanya aku pengen bawa dia ke rumah selamanya supaya ga ada satu pun orang yang bisa melihat dia lagi" Nino mendekatkan tangannya ke wajah Sekar ingin sekali dia mengusap pipinya


"Akh.. Saya ketiduran ya pak.. Maaf pak saya.." Gelagapan, Nino hanya bisa tersenyum tipis melihatnya


"Saya udah bilang kan kamu boleh lakukan apapun di sini" meletakkan tangannya di ujung kepala Sekar


"Tolong pak jangan buat saya salah paham dengan semua sikap bapak yang seperti ini, saya takut jantung saya lari dari tempatnya pak" merona


"Ini udah setengah empat kamu ga sholat"


"Astaga kalo gitu saya permisi dulu pak"


"Kamu bisa sholat di ruang istirahat saya, udah di siapin di sana"


"Apa bapak mau..." Sekar langsung menutup rapat mulutnya karena dia teringat peringatan dari Ervan sebelumnya


"Sebenernya apa yang udah terjadi di dalam kehidupan orang yang sempurna ini?" kalo gitu saya permisi dulu pak"


"Hmm" Nino kembali ke bangku kebesarannya, sedangkan Sekar masuk ke dalam ruang istirahat Nino dan benar saja sudah ada perangkat sholat di atas tempat tidurnya


Sekar pun mulai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang umat, selesai mendirikan sholat Sekar tak lupa selalu mendoakan semoga orang tuanya di terima di sisinya. Tapi kali ini ada yang berbeda dari doa yang selalu dia panjatkan, dia mendoakan agar Nino bisa mendapatkan kebahagiaan baik di dalam hidupnya maupun di dalam hatinya


Entah mengapa Sekar dapat merasakan bahwa jauh di dalam lubuk hatinya Nino merasakan kepedihan dan kesepian, entah mengapa Sekar seperti merasa Nino selalu menunjukkan sikap dingin hanya. untuk menutupi segala yang ada di dalam lubuk hatinya terdalam


Setelah merapikan kembali Sekar keluar dari ruang istirahat Nino dan melihat Nino masih termenung di bangku kebesarannya


"Apa karena tadi aku mau ajak pak Nino sholat ya? pak Nino sekarang keliatan kayak lagi memikirkan sesuatu"


Sekar memberanikan diri berjalan dan mendekat ke arah Nino sedangkan Nino masih termenung dan tak sadar bila Sekar sudah berada di dekatnya, Sekar melihat wajah Nino yang sedang muram dan Sekar pun melihat bila mata Nino sedang berkaca-kaca


"Apa mau saya buatkan alasan teh hangat pak?" Nino yang tersadar segera menyeka air matanya yang hampir terjatuh, dan menganggukkan kepalanya

__ADS_1


"Kalo gitu saya permisi dulu pak" Sekar segera meninggalkan ruangan Nino dan menuju ke ruang pantry


"Sebenernya pak Nino kenapa ya? kenapa dia keliatan sedih banget? aku jadi merasa bersalah" Sekar segera menyiapkan teh hangat dan kembali ke ruangan Nino


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk"


Sekar masuk ke ruangan tersebut dan. meletakkan teh yang telah dia buat di meja kerja Nino


"Apa ada lagi yang bapak butuhkan?"


"Apa saya bisa liat kamu tersenyum sekarang?"


"Apaan sih kok ga jelas gini permintaannya"


"Tolong" lirih


Sekar pun tak tau apa yang di dalam pikirannya Nino saat itu dia hanya tak tega melihat ekspresi wajah Nino yang terlihat jelas sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat, Sekar pun melepaskan senyuman terbaik yang dia miliki pada saat itu


"Terima kasih, senyuman kamu benar-benar mirip sekali dengan dia"


"Dia..." lirih "Apa selama ini pak Nino baik sama aku karena aku mirip perempuan yang dia kenal? apa itu pacar pak Nino? kenapa hati aku sakit ya?" menundukkan kepalanya


"Apa yang ada di pikiran kamu?"


"Maaf pak saya melamun, ga ada pak" Nino tersenyum tipis melihat ekspresi Sekar saat itu


"Senyuman kamu mirip mama saya"


"Mama ya pak" lirih, Sekar seperti baru mendapatkan kembali kesadarannya dan langsung menatap ke arah Nino


"Maksud bapak senyuman saya mirip mamanya bapak" sumringah


"Kamu kira?"


"Ga ada pak, saya ga memikirkan apapun" cengengesan "Saya mau baca buku saya lagi pak, kalo bapak butuh sesuatu bapak bisa langsung ke. saya" tersenyum hangat

__ADS_1


"Hanya itu yang saya butuhkan dari kamu, karena melihat senyuman kamu bisa membuat hati saya sedikit tenang dan melupakan semua kenangan pahit itu. Sekarang belum saatnya saya cerita ke kamu, tapi suatu nanti saya akan cerita semuanya ke kamu saat saya yakin saya sudah ada di hati kamu"


"Dan yang terpenting saya yakin bahwa saya menyukai kamu bukan sekedar terpana karena senyuman kamu mirip mama"


__ADS_2