Kisah Cinta Sang Gadis Desa

Kisah Cinta Sang Gadis Desa
Rencana Menggugurkan Kandungan


__ADS_3

Malam itu Nino memutuskan untuk tidur di ruang kerjanya, dia hanya masuk ke dalam kamar saat akan mengambil pakaian kerja dan keluar dari dalam kamar. Tanpa sarapan terlebih dahulu Nino langsung berangkat ke kantor untuk bekerja


Saat itu selain ada perasaan sedikit kecewa, Nino hanya bingung bagaimana cara menghadapi Sekar? dia yakin bila berada di dekat Sekar maka Sekar akan membahas kembali masalah kehamilan itu


Setelah kepergian Nino dan adik-adiknya, Sekar langsung bersiap untuk pergi dan memesan taksi online. Tanpa ada satu orang pun pengawal yang mengikuti dirinya


Sudah pasti semua yang berada di sana berusaha untuk menghalangi kepergian Sekar, tetapi tetap saja Sekar adalah nyonya besar di rumah itu. Dengan mudah Sekar bisa mengendalikan situasi dan akhirnya para pengawal pun memutuskan melaporkan hal tersebut kepada Ervan


"Bodoh!! cari tau sekarang juga dia pergi ke mana?"


Ervan pun langsung memutuskan sambungan teleponnya


"Apa dia mau berbuat nekat? aku ga bisa biarin ini. Setelah semuanya jelas aku harus kasih tau ini ke Nino"


Ervan yang sudah menerima kabar dari anak buahnya Sekar berada di mana, dia pun langsung ke ruangan Nino dan masuk dengan tergesa-gesa


"Kamu kenapa Van? masalah apa yang bisa bikin seorang Ervan sepanik ini?" tersenyum meledek


"Sekar pergi dari rumah tanpa bawa pengawal atau pun supir"


Nino langsung bangkit dari duduknya dengan wajah yang penuh amarah terlihat dengan jelas dari rahangnya yang mengeras


"Lacak posisi dia sekarang juga!!"


"Dia ada di sebuah klinik"


"Klinik apa maksud kamu?"


"Klinik kandungan"


"Mau apa dia di sana?" menatap tajam


"Dia melakukan jadwal untuk aborsi"


"Kamu benar-benar keterlaluan Sekar..!!" mengepalkan tangannya


Tanpa banyak bicara Nino langsung bergegas keluar dari ruang kerjanya, dan sudah pasti Ervan mengikuti dari belakang. Ervan pun segera mengendarai mobilnya dengan sangat cepat


"Apa kamu yakin dia mau melakukan itu Van?"


"Ya pak, ibu Sekar membuat janji jam sepuluh"


"Sial, cepat dikit Van kita bisa terlambat datang ke sana"


"Baik pak"

__ADS_1


Setibanya di sana Nino langsung menyeruduk ke dalam ruang praktek dan beberapa penjaga di sana langsung menghalangi dirinya


"Kalo kalian ga mau bermasalah dengan saya lebih baik kalian menyingkir sekarang juga, yang di dalam itu istri saya!!"


Pukulan Nino langsung mendarat di wajah salah satu penjaga dan membuat penjaga itu langsung tersungkur di lantai, sedangkan para pengawal langsung mengamankan para penjaga yang lainnya


Dengan di penuhi rasa amarah dan kekecewaan Nino melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut, dokter di sana pun langsung terkejut dengan kehadiran Nino yang terlihat sangat marah


"Mana istri saya?"


"Di sana pak sedang istirahat" bergetar hebat


Nino menghadiahkan dokter tersebut sebuah pukulan yang cukup keras, dengan langkah yang bergetar dia mendekati tempat yang tertutup oleh gorden


Nino membuka gorden tersebut dan langsung terduduk lemas di atas lantai dengan air mata yang menetes, Nino tak berani melihat wajah wanita yang sedang berbaring lemah di sana setelah menjalankan aborsi


"Kamu kenapa begini sih Sekar? saya mencintai kamu dengan tulus karena kamu perempuan yang baik. Jangan buat saya menilai kamu sama dengan papa"


"Saya sudah bilang siapapun ayah biologis anak itu saya akan tetap menjadikan dia anak pertama saya, kenapa kamu sebagai seorang ibu tega melakukan ini semua? sekarang saya ga tau apa saya masih bisa mencintai kamu dengan tulus setelah ini? karena kamu sudah membunuh anak saya Sekar"


Nino mencurahkan segala perasaan yang berada di dalam hatinya terhadap Sekar dengan suara yang bergetar hebat, dan tiba-tiba saja sepasang tangan memeluk tubuh Nino dari belakang


"Maafin aku ya kak aku cuma mikirin perasaan aku aja, aku ga pernah pikirin perasaan kak Nino"


"Lepas Sekar aku ga butuh pelukan dari kamu"


"Kalo kamu ga mau aku peluk, apa kamu di peluk sama perempuan yang lagi tiduran itu?"


Nino mulai mengangkat wajahnya secara perlahan mencoba mencari kebenaran dari ucapan Sekar, dan dia pun di buat sangat terkejut karena wanita yang ada di hadapannya sedang memandangi dia sambil tersenyum


"Kamu siapa?"


"Yang harusnya tanya begitu saya, kamu siapa tiba-tiba nangis begini di depan saya?" tersenyum meledek


Nino memutar wajahnya dan ternyata benar saja wanita yang sedang memeluk tubuhnya adalah Sekar, Nino langsung melepaskan pelukan Sekar dan menatap dia dengan tajam


"Apa yang kamu lakuin di sini?"


"Maaf ya kak tadinya aku berniat menggugurkan anak ini"


"Aku benar-benar kecewa sama kamu Sekar"


Mendengar ucapan dari Sekar saat itu, Nino yang masih terbakar emosi langsung bangkit dan melangkahkan kakinya ke arah pintu


"Kamu mau ke mana kak?"

__ADS_1


"Sekarang aku ga akan larang kamu lagi, lakukan semua yang kamu mau Sekar" tanpa menoleh sama sekali


"Apa kamu udah ga mau istri dan anak kita?"


Nino pun memutar tubuhnya dan melepaskan tatapan membunuhnya


"Cukup!! apa belum puas kamu sakiti perasaan aku? apa buat kamu semua ini cuma lelucon aja? sekarang terserah kamu mau apa aku ga perduli lagi"


"Kayaknya aku memang udah keterlaluan, kak Nino aja bersedia terima anak ini sampe bisa semarah ini. Kenapa aku yang ibu kandungnya malah ga mau terima kedatangan dia?"


"Gimana nih sayang? papa kamu udah ga mau perduli sama kita. Apa sekarang kita harus pergi tinggalin papa kamu?" tersenyum sambil mengelus perutnya


"Kamu tenang aja ya sayang, walaupun papa kamu udah ga mau sama kamu masih ada mama di sini. Nanti mama cariin kamu papa baru yang bisa terima kita berdua"


Nino masih membeku di tempat dia berdiri saat itu, kata-kata dari bibir Sekar belum bisa dia cerna dengan baik pada saat itu


Melihat hal tersebut akhirnya Ervan membisikkan keadaan yang sebenarnya kepada Nino


Dhuar.... Serasa jantung Nino akan meledak mendengar ucapan dari Ervan, dalam sekejap Nino pun langsung mendapatkan kembali kesadarannya. Nino langsung menatap tajam ke arah Ervan seolah sedang memaki Ervan karena tak segera memberitahu dirinya, sedangkan Ervan hanya memasang wajah datar


Dalam sekejap ekspresi wajah Nino pun berubah, dengan senyum yang canggung dia mulai berjalan mendekat ke arah Sekar


"Siapa yang bilang aku ga mau istri sama anak aku?"


"Kamu yang bilang tadi kak, kamu bilang terserah aku mau apa kamu udah ga mau perduli lagi" melangkahkan kakinya sambil mengelus perutnya


"Akh.. Ini semua gara-gara Ervan"


Nino langsung berlari kecil dan menarik tubuh Sekar ke dalam pelukannya, Nino pun memeluk tubuh Sekar dengan sangat erat


"Enggak, aku ga akan biarin kamu cari papa baru buat anak kita"


"Lepasin kak"


"Enggak"


"Apa kamu mau bunuh aku sama anak kita? aku ga bisa napas"


Nino yang panik pun langsung melepaskan pelukannya


"Maaf.. Maaf.. Aku cuma.."


Sekar pun tersenyum bahagia dan memeluk tubuh Nino


"Makasih ya kak, makasih karena membuat aku jadi perempuan paling bahagia di dunia ini"

__ADS_1


__ADS_2