
Papanya Nino pergi ke rumah sakit untuk mencegah anaknya melakukan sesuatu yang berlebihan, bagaimana pun juga Viona adalah anak dari sahabatnya. Dan dia pernah memilih Viona untuk menjadi pendamping hidup untuk Nino
Saat papanya Nino tiba di sana dia langsung masuk ke dalam ruang rawat Sekar, dan ternyata saat itu Sekar baru saja akan menyantap menu sarapan yang telah di sediakan
"Nino di mana?"
"Kak Nino baru aja pergi sama Ervan"
"Berarti aku terlambat" wajah papanya Nino mulai panik
"Maaf pak siapa ya?"
"Kamu kenapa tanya saya siapa?" mengerutkan keningnya
"Maaf pak tapi karena kecelakaan kemarin sekarang saya ga bisa ingat apapun"
"Lengkap, Nino pasti ga akan tinggal diam. Satu-satunya cara cuma perempuan ini, semoga aja dia mau bantu"
"Apa bapak ada pesan untuk kak Nino? nanti kalo kak Nino datang aku sampein" dengan polosnya
"Harapan terakhirnya cuma di anak ini, semoga aja anak ini mau bantu"
"Saya papanya Nino, apa kamu bisa bantu saya?"
"Bantu apa ya pak? kalo saya bisa pasti saya bantu"
"Tolong hubungi Nino saat ini juga minta datang ke sini, bilang sama dia jangan lakukan hal itu"
"Maksudnya gimana ya pak? saya kurang paham"
"Saya akan jelasin semuanya ke kamu, atas nama Viona saya akan minta maaf ke kalian berdua. Tapi tolong jangan sakiti anak itu, dan saya yakin saat ini cuma kamu yang bisa hentikan dia
Degh... Jantung Sekar merasakan kembali rasa takut yang pernah dia rasakan terhadap Nino, dan papanya Nino mulai menceritakan semua kejadian yang telah terjadi
"Jadi ini maksud omongan kak Nino sama Ervan kemarin ya"
"Saya mohon sama kamu, dia cuma anak yang masih labil. Dia juga anak sahabat saya, jadi saya ga mungkin ga perduli sama anak itu"
"Tapi pak apa kak Nino mau dengerin omongan saya?"
"Saya yakin saat ini cuma kamu yang bisa kendaliin Nino"
__ADS_1
Sekar meraih ponsel yang sebelumnya sudah di berikan oleh Nino agar dia bisa berkomunikasi dengan adik-adiknya, dengan tangan yang sedikit bergetar karena rasa takut yang menghampiri dirinya dia mulai menghubungi Nino
Sedangkan di tempat yang berbeda Nino dan Ervan baru saja tiba di sebuah gudang, Ervan menggunakan gudang tersebut untuk menyekap Viona dan sang dokter gadungan. Nino berjalan paling depan dengan wajah yang di penuhi amarah
Ervan langsung menyediakan sebuah bangku di hadapan ke dua orang tersebut, Viona masih berani untuk menatap wajah Nino walaupun hatinya sudah sangat ketakutan. Sedangkan sang dokter gadungan sama sekali tak berani mengangkat wajahnya
"Kamu tau kesalahan kamu?" dingin
"Apa salah aku?"
Nino melepaskan sebuah senyuman dingin yang seakan dapat membunuh orang di sekitarnya
"Kamu udah ganggu orang terpenting di hidup saya"
"Tapi kamu itu calon suami aku, jadi apa salahnya aku kasih pelajaran ke perempuan yang ganggu hubungan kita..!!" Viona seakan lupa dengan keadaan yang tengah terjadi begitu Nino membahas tentang Sekar
"Dasar perempuan gila, kalo lo mau mati dengan cara yang menyakitkan jangan ajak gw juga, gw bisa mati dengan cepat aja udah bersyukur. Kenapa lo masih siram bensin ke api? kalo tangan gw ga terikat gw pasti udah robek mulut besar lo itu" sang dokter gadungan menatap Viona dengan penuh kebencian
"Apa kamu pikir kamu pantas buat saya?" tersenyum mengejek
"Apa hebatnya perempuan itu? dia cuma perempuan biasa dan miskin..!!"
"Kamu kasih tau saya kamu mau mati dengan cara apa? saya akan kabulkan sesuai permintaan kamu dengan rasa sakit yang berkali-kali lipat dari yang kamu minta. Sebelum itu semua, saya akan buat kamu merasa hidup kamu jauh lebih hina dari pada sampah" Nino memberikan ekspresi yang sangat menakutkan, hingga membuat tubuh Viona bergetar dengan hebat
"Dan untuk permainan yang pertama saya hanya akan melihat, tapi saya janji ke kamu saya akan membunuh kamu dengan tangan saya sendiri"
"Ga.. Kamu ga boleh lakuin itu ke saya"
Viona sudah paham maksud omongan Nino, kini tubuhnya bergetar semakin hebat dan air matanya pun mulai menetes saat melihat sudah ada banyak pria mengelilingi dirinya. Sedangkan sang dokter gadungan yang sudah memiliki nama di dunia kejahatan bahkan tak berani untuk membayangkan kejadian yang akan menimpa Viona
Viona berteriak terus menerus memanggil nama Nino dan memohon ampunan, Nino sama sekali tak mau mendengarkan ucapan dari Viona. Para pria tersebut sudah mulai membuka ikatan Viona, dan Viona semakin menggila berteriak dan meronta dengan sisa kekuatan yang di punya. Hingga tiba-tiba ponsel Nino pun berdering dan ternyata itu dari Sekar
"Hentikan dan tutup mulut perempuan itu"
Mendengar sang bos besar sudah memberikan perintah mereka langsung menghentikan seluruh aksinya dan mengikuti perintah Nino
"Halo"
"Kak Nino di mana?"
Nino dapat mendengar suara Sekar saat itu sedikit bergetar
__ADS_1
"Kamu kenapa? apa ada yang sakit?"
"Apa kak Nino bisa ke sini sekarang? aku lapar"
"Aduh kenapa alasan lapar sih? ga mungkin kak Nino percaya. Tapi udah terlanjur ngomong di coba aja dulu deh"
Entah apa yang ada di dalam pikiran Sekar saat itu hingga dia mengucapkan hal tersebut, dia merasa otaknya saat itu tak dapat di gunakan dengan baik. Dia hanya melihat ada menu sarapan di hadapannya sehingga dia mengucapkan hal tersebut
"Apa sarapan belum di antar?"
"Udah, tapi aku mau di suapin sama kak Nino"
Nino menyadari bahwa itu hanyalah sebuah alasan yang Sekar gunakan walaupun dia belum tau tujuan utama Sekar, karena hal yang tidak mungkin bila Sekar ingin makan di suapi oleh dirinya. Sedangkan Sekar masih sedikit menjaga jarak dengan dirinya
"Kamu sebenernya kenapa? bilang sama aku"
"Aku..."
"Sekar tolong aku lagi ada urusan penting sekarang, nanti abis ini aku langsung balik ke rumah sakit"
"Aku mau kak Nino sekarang juga hentikan semuanya, sekarang juga balik ke sini"
"Maksud kamu apa?" dingin
"Kayaknya kak Nino marah deh, tapi aku ga bisa diam aja"
"Kak Nino sekarang pilih aku atau lanjutin itu semua?"
"Tapi aku ga bisa maafin perempuan ini..!! Dia bikin kamu lupa sama aku sekar..!!"
"Kalo kak Nino masih pilih lanjutin itu semua, sekarang juga aku akan pergi kak"
"Kenapa gampang banget mulut kamu ngomong itu?" lirih
"Maaf kak tapi aku harus hentikan perbuatan kak Nino, kenapa hati aku ikut sakit ya ngomong begitu?" meneteskan air matanya
"Ok kamu menang, aku ke sana sekarang"
"Aku tunggu ya kak Nino di sini" Nino memutuskan sambungan teleponnya tanpa menjawab terlebih dahulu
Nino memberikan perintah kepada Ervan untuk menyerahkan kedua orang tersebut ke kantor polisi, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya dia ingin sekali menghabisi Viona dengan tangannya sendiri. Tetapi sudah pasti ancaman dari Sekar membuat nyali sang bos besar tersebut menciut
__ADS_1