
Dan saat pagi menyapa Nino sudah memerintahkan orang-orangnya bersiap untuk kembali ke ibu kota, Ajeng dan Dimas pun di minta untuk datang ke kediaman Nino setelah mereka pulang sekolah
Walaupun Sekar masih belum bisa mengingat apapun tentang kedua adiknya tetapi ikatan batin di antara mereka tetap tak bisa di pungkiri, mereka pun saling melepas rindu karena sudah terpisah cukup lama
"Wah oleh-oleh yang kak Sekar bawa banyak banget"
Wajah Ajeng menunjukkan bahwa dirinya sangat bahagia saat itu, bukan hanya karena dia mendapatkan oleh-oleh tetapi karena dia sudah lama tak bertemu dengan Sekar
"Ya dong kak Sekar pasti inget kalian," tersenyum
"Kamu suka sama hadiah kamu ga? itu kak Nino yang khusus pilih untuk kamu," menoleh ke arah Dimas
"Aku suka kak, makasih ya kak"
Dimas selalu menunjukkan sikap yang jauh lebih dewasa, karena dia merasa laki-laki satu-satunya dia harus bisa melindungi kakak dan adiknya
"Gimana bulan madu kak Sekar? aku mau liat fotonya dong. Sebagus apa sih tempatnya? sampe kak Sekar betah banget di sana"
Sekar pun tersenyum melihat sikap Ajeng dan mulai memperlihatkan foto-foto dirinya dan Nino selama bulan madu
"Wah bagus banget kak tempatnya"
"Nanti kapan-kapan kak Sekar minta kak Nino ajak kalian juga ke sana ya," tersenyum
"Janji ya kak"
"Iya, kak Sekar janji"
Nino memandangi kedekatan mereka dari kejauhan sambil tersenyum bahagia
"Terima kasih karena hal ini yang sangat aku rindukan di dalam hidup aku, kehangatan sebuah keluarga" Nino pun mulai menghampiri mereka dan mendudukkan dirinya di antara mereka
"Kak Nino kapan-kapan Ajeng sama kak Dimas di ajak ke tempat itu ya"
"Pasti dong, kalian kan adek kak Nino juga"
"Asik.."
Nino pun akhirnya membuat keputusan untuk meminta Ajeng dan Dimas tinggal bersama mereka, sudah pasti hal tersebut membuat mereka semua bahagia
Nino pun sudah mulai kembali menjalankan rutinitas seperti yang biasa dia lakukan, dan Sekar tak pernah merasakan kesepian karena sudah ada adik-adiknya yang selalu menemani dirinya
__ADS_1
Hari demi hari pun terus berlalu dengan sangat cepat, hingga tak terasa sudah berjalan satu bulan lebih waktu berlalu semenjak mereka menikah. Pagi itu semua sudah berada di meja makan untuk sarapan dan tiba-tiba saja Sekar berlari ke dalam kamar
Semua yang berada di meja makan saling pandang dengan tatapan mata yang bingung
"Jangan-jangan..."
Nino segera menyusul Sekar ke dalam kamar dan saat itu dia melihat Sekar sedang mengeluarkan kembali semua makanan yang baru saja dia makan di dalam kamar mandi, Nino pun mulai mendekati Sekar sambil menepuk pelan punggung Sekar
"Kamu kenapa?"
"Aku juga ga tau kak, tiba-tiba aja perut aku mual banget," menatap sayu
"Sebentar ya aku hubungi dokter dulu"
Nino segera mencari keberadaan ponselnya dan menghubungi dokter pribadinya, dan segera ke dalam kamar mandi untuk mengangkat tubuh Sekar dan membaringkan tubuh Sekar secara perlahan
"Kamu tunggu sebentar ya, aku suruh orang siapin teh hangat buat kamu"
Baru saja Nino berdiri Sekar langsung menggenggam tangannya, Sekar hanya terdiam sambil menunjukkanwajahsedih. Nino pun mendudukkan tubuhnya di samping Sekar
"Kenapa?"
"Gimana kalo ternyata aku..."
"Kamu ga usah punya pikiran yang aneh-aneh ya, sekarang istirahat aja dulu aku keluar dulu sebentar"
Nino segera keluar dari dalam kamar dan menuju ke dapur sedangkan Sekar saat itu merasa sedih dan takut, dia benar-benar sedih karena Nino tak mau mendengarkan ucapannya dan takut jika dia akan di nyatakan hamil. Sedangkan dia sendiri tak tau siapakah ayah dari anak tersebut
Nino segera memerintahkan pelayanan untuk menyiapkan segelas teh hangat dan memerintahkan supir untuk mengantarkan Ajeng dan Dimas ke sekolah
Tak berapa lama dokter pribadi Nino pun sudah tiba di sana dan melakukan pemeriksaan, dan benar saja hasil tes menunjukkan bahwa Sekar sedang mengandung. Dan meminta mereka melakukan pemeriksaan lanjutan ke rumah sakit
Setelah kepergian sang dokter Nino mengganti pakaian yang telah dia gunakan, dia memutuskan untuk tetap berada di rumah dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor
"Kamu ga ke kantor kak?"
"Ga, aku mau temenin kamu aja hari ini" tersenyum
Nino pun membaringkan tubuhnya di samping Sekar sambil mengelus perutnya Sekar yang masih tampak rata
"Kak.."
__ADS_1
"Hem.." menatap ke arah Sekar
"Gimana kalo ternyata anak ini.."
Nino langsung meletakkan jarinya di bibir Sekar
"Aku ga mau dengar, ini anak kita" dengan yakin
"Jangan begini kak, kita sama-sama tau tentang kejadian itu"
"Cukup.. Aku ga mau dengar omongan kamu itu, yang pasti ini anak kita"
"Kak!! masih ada kemungkinan anak ini anak laki-laki itu!!" menaikkan volume suaranya dan mata yang mulai berkaca-kaca
Nino membuang napasnya dengan kasar dan mendudukkan tubuhnya dengan sempurna
"Aku ga mau perduli tentang apapun, yang aku tau anak itu ada di dalam rahim kamu jadi anak itu akan jadi anak aku juga" lirih dan tanpa melihat ke arah Sekar
Sekar ikut mendudukkan dirinya menatap ke arah Nino dengan perasaan marah
"Kamu bilang kamu ga perduli walaupun ini anak laki-laki itu, tapi aku perduli kak. Aku cuma mau mengandung anak kamu bukan anak laki-laki lain!!"
Nino hanya terdiam tanpa menoleh ke arah Sekar karena dia sendiri bingung cara mengungkapkan kepada Sekar, bahwa dia tak mau perduli dengan apapun dia hanya mau Sekar bisa menerima anak tersebut
"Kamu dengar omongan aku ga sih kak!! aku ga mau anak ini kak!!" memukul tubuh Nino berkali-kali dengan air mata yang mulai mengalir
"Terus aku harus apa Sekar?" menatap tajam "Aku tanya sama kamu aku harus apa?"
Sekar pun memukul-mukul perutnya sambil berteriak
"Aku ga mau anak ini kak, aku ga mau kalo ternyata dia anak laki-laki itu kak!! aku ga mau punya anak dari laki-laki lain!!"
Dengan cepat Nino memegang kedua tangan Sekar dan melepaskan tatapan tajam
"Masih ada kemungkinan dia anak aku Sekar, seandainya pun dia bukan anak aku dia akan tetap jadi anak pertama dari Nino Erlangga. Jadi kamu ga berhak menyakiti dia"
"Akh..!!" Sekar pun berteriak sekuat tenaga dan di temani air mata yang keluar dengan deras
"Kamu harus kuat kamu itu ibunya, bahkan seekor hewan buas pun ga ada yang menyakiti anak mereka sendiri. Kenapa kamu malah begini?"
"Kalo dia anak laki-laki itu gimana caranya aku bisa sayang sama dia kak? laki-laki itu udah ngerusak semuanya kak"
__ADS_1
Nino langsung menarik tubuh Sekar ke dalam pelukannya, dan Sekar pun menangis dengan hebatnya di dalam pelukan Nino