
Nino benar-benar tertidur dengan pulas di pundak Sekar, Sekar pun memutuskan untuk tidak menggerakkan tubuhnya agar Nino bisa lebih lama tertidur. Entah mengapa Sekar merasa sedikit iba melihat Nino yang seperti itu, seperti sosok orang yang berbeda dengan yang selama ini dia temui
Sekar melihat ke arah jam tangan yang dia gunakan waktu sudah menunjukkan agar dia menjalankan perintah sholat, dengan berat hati akhirnya Sekar pun memutuskan untuk membangunkan Nino yang masih terlelap
"Pak Nino maaf pak bangun, saya mau sholat"
"Hem.." Nino membenarkan posisi duduknya dan mengusap matanya agar dia bisa mendapatkan kesadarannya
"Astaga saya ketiduran, kamu pasti capek ya" gelagapan
"Ga kok pak, maaf saya bangunin bapak soalnya udah waktunya saya sholat"
"Iya"
Sekar sudah mulai bangkit dari duduknya tiba-tiba saja Nino memegang tangan Sekar, Sekar pun segera menoleh ke arah Nino
"Sekali lagi maaf untuk yang tadi"
"Ga apa kok pak" tersenyum dengan tulus
"Terima kasih, saya harap kejadian tadi ga bikin kamu pergi dari saya"
"Maksud bapak, saya ga ngerti pak?" dengan polosnya
"Udah sekarang kamu solat dulu"
"Kalo gitu saya tinggal sebentar ya pak" Nino melepaskan tangan Sekar, dan Sekar pun mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu
"Kamu mau ke mana?"
"Saya mau sholat di mushola kantor pak" dengan polosnya
"Apa kamu masih marah karena masalah tadi?"
"Ga pak saya rasa cuma kurang pantas kalo saya masuk ke ruang istirahat bapak sembarangan, saya tinggal dulu ya"
"Ga, kamu ga boleh pergi jauh dari saya" astaga apaan sih nih mulut, kenapa bisa keluar kata-kata kayak gitu?" ini sudah jadi perintah saya kamu harus sholat di ruang istirahat saya"
"Baik pak" Sekar yang tak mau memperpanjang masalah memilih mengikuti keinginan sang bos besar
Nino yang merasa malu dengan perkataan yang terlontar dari mulutnya memilih untuk pergi ke ruangan Ervan, Nino pun langsung mendudukkan dirinya di bangku tepat di hadapan Ervan. Ervan hanya melirik sekilas ke arah Nino lalu melanjutkan pekerjaannya
"Kayaknya udah baik-baik aja, Sekar kamu memang ajaib"
__ADS_1
Selesai melakukan sholat Sekar kembali panik karena Nino tak berada di dalam ruangannya, Sekar pun segera menghubungi Ervan dan Ervan memberitahu bahwa Nino ada di ruangannya sedang membahas pekerjaan. Dan Sekar di minta untuk tetap berada di ruangan Nino
"Van" setelah sekian lama akhirnya Nino membuka mulutnya dan Ervan pun menghentikan segala aktivitas yang sedang dia lakukan
"Ya pak"
"Saya melakukan sebuah kesalahan besar"
"Kenapa lagi sekarang?" apa ada masalah pak?"
"Tadi ga sengaja saya bentak Sekar" lirih
"Kok bisa pak?" mengerutkan keningnya
"Ya dia tadi liat saya mimpi buruk dia bangunin saya, pas saya bangun ternyata saya udah nangis. Karena malu saya ga sadar bentak dia Van"
"Dulu kamu nangis hebat depan saya ga malu"
"Apa dia bakal marah sama saya Van?"
"Ya tinggal minta maaf aja pak"
"Udah kok, tapi tadi dia sempat keluar air mata waktu saya bentak dia"
Nino benar-benar berubah menjadi seperti sosok seorang anak kecil yang sedang mengadu kepada kakaknya
"Tapi saya juga tadi.." Nino tampak ragu untuk melanjutkan ceritanya atau tidak
"Tadi kenapa pak?"
"Waktu liat dia mau pergi spontan saya langsung peluk dia Van"
"Kalo orang luar tau bapak cerita begini ke saya, pasti reputasi bapak selama ini akan hancur" tersenyum
"Kok kamu senyum Van? kira-kira dia bakal ngejauh dari saya ga ya Van?"
"Kalo gitu kenapa bapak ada di sini?"
"Ya ini kan kantor saya suka-suka saya dong ada di mana"
"Ternyata sisi anak-anak kamu masih tetap ada sampe sekarang" ya kalo bapak ada di sini gimana bapak bisa tau dia marah atau ga dengan sikap bapak tadi? yang ada dia berpikir bapak menghindar dari dia"
"Sial masa aku di usir dari kantor aku sendiri ya walaupun ini ruangan kamu, ga asik kamu Van. Saya bukan mau menghindar dari dia tapi saya malu ketemu dia"
__ADS_1
"Kamu sekarang udah dewasa jangan lari dari masalah lagi" Revan merubah gaya bicaranya agar sosok Nino kecil yang sedang keluar bisa di arahkan
"Saya ga lari dari masalah kok..!!" Menaikkan volume suaranya
"Kalo kamu begini terus dia bakal di rebut orang lain, apa kamu ga tau? kalo di kantor ini aja banyak yang incar dia, belum lagi kayaknya Rendi tertarik sama dia. Kalo kamu begini terus kamu harus siap-siap kehilangan dia"
Tanpa menunggu waktu lama Nino segera bangkit dari duduknya dan kembali ke ruangannya sendiri, Sekar yang sedang membaca buku melihat Nino kembali ke ruangannya berdiri tanda memberikan hormat
"Saya dari ruangan Ervan"
"Saya tau kok pak tadi kan saya sempat hubungi pak Ervan"ya pak" tersenyum
"Oh ya, ya udah terusin bacanya saya juga mau kerja" mulai berjalan ke bangku kebesarannya
"Baik pak"
"Sekar saya sudah yakin kalo saya suka sama kamu, tapi saya ga tau perasaan kamu ke saya gimana? saya juga ga mau jadi laki-laki yang egois memaksakan kehendak saya doang" kamu kenal Rendi?"
"Ya pak"
"Apa kamu suka sama dia?"
"Pasti dong pak karena kak Rendi orangnya baik, hari pertama saya ke kampus saya ketemu kak Alvin. Untung ada kak Rendi yang tolongin saya waktu itu"
"Oh jadi kamu suka sama dia ya" kalo menurut kamu seandainya laki-laki udah berjanji harus di tepati ga?"
"Kalo menurut saya ga perduli dia laki-laki ataupun perempuan, kalo di ijinkan oleh yang Maha Kuasa maka kita harus menepatinya" tersenyum
"Saya baik ga sama kamu Sekar?" Nino memasang wajah sedih
"Aku ga salah liat kan? kenapa pak Nino pasang wajah sedih itu lagi?"Kalo menurut saya walaupun terkadang bapak bersikap dingin tapi saya yakin bapak orang baik, saya ga tau harus gimana bertahan di kota besar ini kalo saya ga ketemu bapak" kembali tersenyum
"Kalo gitu kamu harus janji satu hal sama saya"
"Janji apa ya pak?"
"Kami harus janji apapun yang terjadi nanti ke depannya kamu harus selalu ada di samping saya, walaupun cuma sebagai pekerja"
"Maksud pak Nino apa sih? semua omongan pak Nino jadi aneh kedengarannya" baik pak"
"Kamu udah janji ya" lirih
"Ya pak" tersenyum
__ADS_1
"Seandainya Rendi beneran mau minta kamu, setidaknya saya masih bisa melihat senyuman kamu. Saya janji semua keputusan akan saya serahkan ke kamu, saya cuma mau liat kamu tersenyum bahagia seperti biasanya"
Sisa hari itu Nino habiskan dengan berdiam diri jauh lebih pendiam dari biasanya, bahkan hari itu Nino tak mempunyai keinginan untuk singgah ke rumah Sekar