Kisah Cinta Sang Gadis Desa

Kisah Cinta Sang Gadis Desa
Ungkapan Hati


__ADS_3

Ervan langsung membukakan pintu belakang mobil yang di mana Nino sudah mulai tenang dan air matanya masih tersisa menghiasi pelupuk matanya


"Silahkan"


Dengan perasaan yang bercampur aduk Sekar pun memutuskan untuk masuk ke dalam mobil tersebut dan Ervan menutup pintu mobil tersebut, Sekar melihat keadaan Nino yang seperti sedang terpukul menjadi semakin bingung. Awalnya ada perasaan takut yang teramat besar kini berubah menjadi perasaan iba melihat Nino


"Pak Nino kenapa jadi begini? tadi di pesta baik-baik aja. Kayaknya pak Nino juga abis nangis"


Dengan tangan yang agak gemetar Sekar mencolek bahu Nino "Pak.. Pak Nino"


Nino pun mencoba membuka ke dua bola matanya dengan kepala yang sudah semakin berputar dia mencoba memfokuskan pandangannya kepada orang yang kini ada di hadapannya


"Aduh aku pasti mabuk berat nih, kenapa aku bisa liat Sekar di sini?"


"Ini memang Sekar pak" dengan suara yang bergetar


Nino mencoba memejamkan matanya dan kembali membuka matanya, dia mencoba mendapatkan sedikit kesadarannya dan saat dia kembali melihat Sekar dia pun tersenyum


"Kamu cantik Sekar kalo pake baju begini, jadi aku ga perlu khawatir lagi"


"Khawatir kenapa ya pak?" dengan polosnya


"Iya khawatir mata laki-laki bajingan pada ngeliat ke arah kamu"


Blush.. Wajah Sekar dalam sekejap menjadi merona karena ucapan ringan seperti itu


"Bapak ada perlu sama saya?"


"Iya"


"Ada apa ya pak?"


"Ada banyak yang harus saya bilang ke kamu" tetapi tiba-tiba saja Nino menarik tubuh Sekar jatuh ke dalam pelukannya

__ADS_1


"Pak ini.." Sekar pun gelagapan berada di dalam pelukan Nino, entah sudah semerah apa pipi Sekar pada saat itu


"Saya mohon kamu diam dulu, kamu cukup dengerin omongan saya"


Tubuh Sekar pun menjadi kaku di dalam pelukan hangat tersebut


"Saya mau minta maaf karena ucapan saya tadi pasti bikin kamu sakit hati, saya takut kamu jadi marah sama saya, tadi itu saya cuma marah karena kamu kasih liat tubuh kamu ke sembarang orang"


"Aku mana punya hak untuk marah pak"


"Saya juga marah karena tadi kamu menerima tawaran Rendi" lirih


"Tapi pak apa salahnya kalo saya.." Nino langsung memotong ucapan Sekar dengan semakin mengeratkan pelukannya


"Saya kan udah bilang kamu cukup diam dan dengerin omongan saya" Sekar pun kembali menutup mulutnya dan diam membeku


"Saya marah karena kamu datang ke pesta itu sama Rendi, padahal saya udah siapin semua keperluan kamu untuk datang ke sana. Saya juga berharap tadinya kamu akan datang ke acara itu sama saya"


"Tapi kan bapak ga ada bilang apapun ke saya, bahkan bapak yang memberikan ijin saya pergi ke sana sama kak Rendi"


"Aku ga salah denger kan? pak Nino bilang dia suka sama aku?" Sekar pun mulai terbawa suasana dan membenamkan wajahnya ke dada bidang Nino


"Saya suka sama kamu Sekar tulus dari dasar hati saya, bukan cuma sebatas senyuman kamu mirip mama" lirih, Sekar bisa merasakan suara Nino yang mulai bergetar


"Saya mohon ke kamu jangan pernah dekat dengan laki-laki manapun, karena hati saya benar-benar sakit" Sekar semakin yakin bahwa Nino mulai meneteskan air matanya, karena dia bisa merasakan suara Nino yang semakin bergetar dan ada butiran air yang membasahi pundaknya


"Saya punya sebuah janji sama Rendi, sebagai seorang laki-laki saya harus tepati janji saya. Tapi saya rasa saya ga akan bisa tepati janji saya yang satu ini, saya ga bisa kalo harus melepaskan kamu seperti permintaan Rendi" menjatuhkan wajahnya di pundak Sekar


"Aku harus apa sekarang? bapak ga tau gimana perasaan aku saat ini tau semuanya dari mulut bapak. Apa boleh aku sedikit melakukan dosa? aku ga bisa diam aja dengan keadaan pak Nino sekarang"`


Sekar melepaskan tubuhnya dari pelukan Nino dan benar seperti dugaan Sekar Nino sudah mulai meneteskan air matanya, Sekar menghapus air mata Nino secara perlahan. Nino yang merasa malu pun memalingkan wajahnya, dengan lembut Sekar meraup ke dua pipi Nino agar Nino mau menatap dirinya


"Bapak suka sama saya?" Nino mengangguk

__ADS_1


"Apa bapak ga mau saya dekat dengan laki-laki manapun?" Nino kembali mengangguk


"Apa bapak mau cuma sebatas jadi pacar saya atau mau menjadi calon imam saya di masa depan?"


"Saya pasti bisa berusaha jadi pacar terbaik untuk kamu, saya juga mau jadi imam kamu dan memilikikamu seutuhnya. Tapi saya yakin saya ga akan bisa jadi imam yang terbaik untuk kamu" Nino tampak menjawab dengan sedikit ragu


"Sekarang lebih baik bapak pulang dulu dan istirahat, kalo bapak sudah merasa lebih baik kita bisa bahas lagi masalah ini"


"Tapi Sekar gimana hubungan kamu sama Rendi?"


Sekar tersenyum dengan sangat tulus "Aku terima kak Rendi bukan sebagai pacar pak, kak Rendi menawarkan aku terima dia sebagai seorang kakak"


Nino seperti mendapatkan sebuah hembusan angin segar bahkan sebagian mabuk yang sedang melanda seperti lenyap begitu saja. Nino yang masih dalam keadaan terkejut mendapatkan serangan ke dua dari Sekar, Sekar menempelkan bibirnya di kening Nino dengan sangat lembut


"Maaf pak saya hanya bisa berbuat sejauh ini sebagai seorang calon pacar ataupun nantinya saat sebagai pacar, saya hanya akan melakukan sesuatu yang lebih dengan orang yang sudah menjadi imam saya"


Sebuah ciuman di kening saja sudah membuat Nino tak dapat berkata apa-apa lagi, seakan nyawanya melayang terbang tinggi mencapai angkasa. Perasaan bahagia menyelimuti hatinya pada saat itu, perasaan penuh sensasi yang sama sekali belum pernah dia rasakan selama ini


"Kalo gitu saya masuk dulu ya pak, bapak juga sebaiknya pulang dan istirahat dengan baik"


Baru saja Sekar hendak membuka pintu mobil Nino dengan cepat menahan tangan Sekar membuat Sekar kembali menoleh ke arah Nino, dan Nino membalas ciuman di keningnya dengan cara yang sama


"Saya mungkin mabuk saat ini, tapi saya akan ingat semua perkataan kamu saat ini. Dan untuk ini kamu harus bertanggung jawab, walaupun cuma di situ tapi itu ciuman pertama saya" tersenyum sambil menunjuk ke arah keningnya


"Astaga kenapa bisa ada orang sesempurna ini?"


"Apa mulai sekarang kita bisa di bilang pacaran?" menatap serius


"Kita bahas semuanya besok ya pak, saat keadaan bapak sudah lebih baik" tersenyum dengan tulus


"Terima kasih Sekar sekarang saya merasakan lagi arti sebuah kehidupan" tersenyum, dan Sekar pun segera turun dari dalam mobil


Melihat Sekar yang sudah turun dari dalam mobil Ervan mulai berjalan menghampiri Sekar dan membungkukkan sedikit kepalanya tanda memberi hormat lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Sekar masih berdiri di tempat yang sama hingga mobil Nino benar-benar menghilang

__ADS_1


"Terima kasih pak, sekarang saya sudah tidak memiliki keraguan lagi di dalam hati saya. Mungkin karena mabuk besok bapak akan lupa semuanya, tapi ungkapan hati bapak saat ini sangat berarti bagi saya"


__ADS_2