
Selepas kepergian Nino dari tempat itu semua tetua yang berada di sana bertanya kepada papanya Nino, mereka ingin mengetahui siapakah orang yang berbuat itu? tetapi papanya Nino mengatakan bahwa dia juga tidak tau siapa orang di maksud oleh Nino
Sedangkan Rendi langsung menarik Rosa untuk sedikit menjauh dari mereka semua, karena dia menyadari gelagat aneh dari adiknya saat Nino hadir di sana
"Apa kamu orangnya?" menatap tajam
"Apaan sih kak? aku ga ngerti maksud kakak"
"Dari tadi pas kak Nino datang dia cuma mandang ke arah kamu, dan kamu juga keliatan ketakutan dari tadi"
"Mana aku tau" menundukkan kepalanya
"Sebaiknya kamu jangan ulangin lagi perbuatan kamu, kak Rendi tau banget kak Nino itu orangnya gimana? seandainya itu bukan kamu pasti Ervan sudah membalas kamu"
"Tapi kak aku kan cuma..."
"Kak Rendi ga mau dengar alasan dari kamu, intinya jangan pernah ganggu Sekar karena dia orang terpenting dalam hidup kak Nino. Kalo kamu berani ganggu Sekar lagi kak Rendi ga jamin Ervan akan tetap diam" dengan tegas
"Apaan sih? kenapa kak Rendi harus takut sama Ervan? dia kan cuma anak supir yang sekarang jadi asisten kak Nino doang"
"Kamu mungkin ga tau, tapi Ervan jauh lebih menakutkan dari pada kak Nino. Kalo kamu ga percaya kamu bisa tanya sama papa"
Rosa pun hanya bisa membungkam mulutnya sambil memasang wajah cemberut
"Ingat jangan di ulang lagi, kalo kamu masih mau keluarga kita baik-baik aja"
Rendi pun langsung pergi meninggalkan Rosa dan berpamitan dengan yang lainnya untuk pulang duluan, setelah di tengah jalan Rendi menghentikan mobilnya dan langsung menghubungi Nino. Nino pun tersenyum saat melihat nama orang yang menghubungi diriny
"Cepat juga di sadarnya"
"Halo"
"Aku minta maaf ya kak"
"Buat apa?"
"Buat kesalahan yang Rosa perbuat, aku juga udah bilangin ke dia supaya ga ganggu Sekar lagi"
"Bagus deh kalo kamu tau"
"Anggap aja ini permintaan aku yang belum kak Nino kabulkan"
"Hem..."
"Makasih ya kak"
Nino pun langsung memutuskan sambungan teleponnya
"Sampai kapan pun mungkin saya akan pernah lunas untuk membayar hutang saya ke kamu, apalagi kamu orang yang udah berjasa menyatukan saya dengan Sekar" tersenyum sambil menggengam erat ponselnya
"Rendi ya pak?"
__ADS_1
"Iya, dia minta saya untuk maafin Rosa"
"Lalu bagaimana kalau Rosa kembali berulah pak?"
"Selama masih di batas wajar biarkan aja Van, Rendi sudah berjasa menyatukan saya dengan Sekar"
"Baik pak"
Setelah makan malam seluruh anggota keluarga Erlangga pun mulai membubarkan diri, dan mereka semua berjanji di dalam hati mereka masing-masing tak akan pernah mencari masalah dengan Sekar. Karena papanya Nino menceritakan tentang kekejaman Ervan saat menangani orang yang mengganggu Nino
Sedangkan Nino yang baru saja tiba di kediamannya dan sudah di sambut oleh sang kepala pelayan
"Sekar di mana?"
"Di dalam kamarnya pak"
"Apa semua sudah makan malam?"
"Non Ajeng dan den Dimas sudah makan malam pak, tapi ibu Sekar belum"
Nino langsung menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah sang kepala pelayan
"Kenapa?"
"Katanya ibu Sekar mau makan malam bersama pak Nino, tadi saya sudah mencoba membujuk ibu Sekar tapi dia tetap menolak pak"
"Kirain karena masalah tadi dia jadi ga mau makan"
"Baik pak"
Nino langsung bergegas menemui istrinya tercinta, sedangkan sang kepala pelayan langsung menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Nino pun langsung membuka pintu kamar mereka
"Sayang aku pulang"
Nino melihat Sekar sedang duduk di atas sofa sambil tersenyum menyambut kehadiran dirinya
"Maaf ya sayang aku pulang terlambat" mendudukkan dirinya di samping Sekar
"Ga apa kok sayang, apa kamu capek?"
"Ga kok tapi aku mandi dulu sebentar ya, nanti kita makan malam bareng. Kamu belum makan malam kan?"
Sekar hanya tersenyum sambil mengangguk kecil, Nino pun segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Saat dia keluar dari dalam kamar mandi makan malam pun sudah tersusun dengan rapi di atas meja
"Lain kali kalo aku pulang terlambat kamu makan aja bareng Ajeng sama Dimas ya"
"Ga mau" memajukan bibirnya
"Kasian anak kita sayang, nanti dia lapar" mengelus perut Sekar
"Ga kok, ini juga permintaan anak kita dia yang mau makan bareng papanya" tersenyum
__ADS_1
Nino pun tersenyum bahagia dan mencium ujung kepala Sekar
"Kamu tau ga sayang, kenapa hari ini aku maunya makan malam bareng kamu?"
"Kenapa?"
"Karena anak kita pengen di suapin sama kamu" tersenyum dengan sangat manis
"Sumpah kamu imut banget sih, rasanya ga tahan liat kamu yang seimut ini"
"Ya udah kamu mau makan apa? biar aku suapin"
"Aku pake apa aja asal kamu suapin, tapi kita makan bareng ya"
"Ya nanti aku makan habis kamu"
Nino mulai memasukkan nasi ke dalam piring mereka
"Ga mau sayang, aku maunya kita makan satu piring berdua"
Dan sudah pasti Nino akan berusaha untuk menuruti semua keinginan Sekar, setelah makan Nino memerintahkan para pelayan untuk merapikan sisa makan malam mereka, kini mereka pun sudah berbaring di atas ranjang dan sudah pasti tangan Nino akan memeluk tubuh Sekar
"Kamu tau ga sayang? hari ini aku ga ada nonton film korea sama sekali" tersenyum
"Aduh kenapa perasaan aku jadi ga enak, jadi apa yang dia kerjain tadi? semoga aja bukan hal yang aneh lagi"
"Terus kamu hari ini melakukan apa?"
"Aku bisa melakukan apa sih sayang di sini? semua pasti larang aku buat melakukan sesuatu, ya aku cuma nonton aja"
"Apa yang kamu tonton?"
"Tadi aku nonton bayi-bayi yang lucu sayang"
"Syukur deh ternyata Sekar ga nonton hal yang aneh-aneh lagi, karena dia suka aneh sekarang di pikir semua yang ada di film sama dengan kehidupan di dunia nyata kayak tadi"
Nino pun dapat tersenyum dengan lega mendengar hal tersebut
"Kan sebentar lagi juga akan ada bayi lucu di rumah ini sayang" mengelus perut Sekar dengan lembut
"Aku berharap bayi kita nanti kayak salah satu dari mereka ya sayang" dengan polosnya
"Bayi kita pasti lebih lucu dari mereka kok, kan papanya ganteng dan mamanya juga cantik"
"Iya sayang, aku ga sabar lihat bayi kita nanti. Pasti lucu kayak bayi-bayi tadi, tunggu sebentar ya aku mau kasih liat kamu. Tadi aku sempat foto bayi yang lucu banget sayang"
Sekar memindahkan tangan Nino dan langsung meraih ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto kepada Nino dengan senyuman bahagia
"Aku harap bayi kita nanti kayak gini sayang, lucu banget kan"
Hati Nino bak tertimpa sebuah batu yang sangat besar, ingin rasanya dia berteriak dengan kuat agar Sekar dapat sadar bahwa bayi mereka tak mungkin seperti bayi yang ada di foto tersebut
__ADS_1