
Para pengawal yang sudah tiba di meja tersebut langsung menepuk bahu pria tersebut
"Maaf pak tolong menjauh dari meja ini"
"Kalian siapa?" menatap bingung
"Kami bertugas untuk menjaga keselamatan ibu Sekar" dengan tegas
"Apa kalian pikir saya orang yang berbahaya, saya cuma mau bicara dengan Citra"
"Kesempatan emas datang, padahal aku lagi mikirin gimana caranya bikin kak Ervan cemburu?"
"Ga masalah pak, orang ini kenalan kak Citra"
Para pengawal pun langsung terdiam begitu Sekar membuka suara, tak lama kemudian orang yang menerima panggilan telpon dari Ervan pun tiba di sana
"Maaf ibu Sekar, tapi pak Ervan memberikan perintah untuk menjauhkan orang ini dari kalian"
"Oh jadi sekarang kak Ervan udah tau ada laki-laki di dekat kami, ga mungkin lah aku buang kesempatan bagus ini"
"Kak Ervan dan suami saya siapa yang pangkatnya lebih tinggi?" menatap tajam
"Pak Nino bu"
"Kalo gitu saya sebagai istri dari pak Nino memerintahkan kalian kembali ke tempat kalian, kalian boleh mulai bertindak saat melihat orang ini berbuat macam-macam" dengan tegas
"Tapi bu.."
"Kalo kamu masih bersikeras, sekarang juga saya akan menghubungi suami saya"
"Baik bu"
Dengan berat hati orang tersebut memberikan kode kepada para pengawal untuk kembali menjauh dari meja mereka
"Silahkan duduk kak" tersenyum
Citra hanya bisa terdiam sambil menatap Sekar dengan perasaan bingung
"Terima kasih ya"
"Kenalkan saya Tristan" mengulurkan tangannya ke arah Sekar
"Sekar"
__ADS_1
Setelah merasa cukup berbasa-basi dengan Sekar, Tristan mulai menatap ke arah Citra
"Kamu apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja"
"Gimana kabar anak kita?"
"Siapa? maaf tapi kamu salah kak karena dia anak aku bukan anak kita" dengan nada sinis
"Aku minta maaf ya, waktu itu aku benar-benar belum siap untuk menikah"
"Lupain aja kak semua juga udah lewat"
Tristan langsung menunjukkan ekspresi kecewa
"Aku dengar waktu itu kamu tetap melanjutkan pernikahan"
"Iya ada seorang pria yang saat itu juga bersedia menikahi aku, padahal dia tau saat itu sudah hamil dengan laki-laki yang ga bertanggung jawab" dengan ketus
"Sekali lagi aku minta maaf ya, tapi kamu setelah kejadian itu aku selalu berusaha buat cari kamu"
"Buat apa?" menatap tajam
Citra pun tersenyum dengan sinis
"Kita ga usah ungkit masalah itu lagi kak, karena sekarang aku sudah punya keluarga"
"Tapi aku dengar kamu menikah dengan orang yang kamu ga kenal, pasti ga ada perasaan apapun di antara kalian. Dan sekarang aku benar-benar sudah siap bertanggung jawab sepenuhnya"
Citra pun terlihat terdiam saat itu entah mengapa dia sedang memikirkan suaminya yang selalu bersikap dingin dan sering membuat dia kecewa, berbeda jauh dengan orang yang kini ada di hadapannya. Tristan selalu membuat dia merasa nyaman dan bahagia Saat mereka masih menjalin hubungan
"Kamu tau kak suami aku orangnya dingin dan ga pernah bersikap romantis sama sekali"
Tristan pun tersenyum dia seolah mendapatkan angin segar dari ucapan Citra
"Tapi sampai detik ini aku ga pernah ada pikiran sedikit pun untuk pergi tinggalin dia"
"Ya aku ngerti kok, gimana juga kesalahan awalnya ada di aku. Tapi kita masih bisa jadi teman kan? sesekali boleh kan aku ketemu sama anak kita?"
"Nanti aku harus izin dulu sama suami aku kak, karena dia sudah menganggap anak itu seperti anak kandung dia sendiri"
"Ya aku ngerti kok"
__ADS_1
Di tempat yang berbeda ada Ervan yang sedang merasakan perasaan yang dia sendiri tak tau perasaan apakah itu, ternyata setelah para pengawal sedikit menjauh dan kembali ke posisi mereka masing-masing untuk berjaga
Sang pemimpin langsung menghubungi Ervan untuk mengabarkan yang sedang terjadi, Ervan pun membuat keputusan untuk mengikuti keinginan Sekar dan memerintahkan para pengawal untuk terus mengawasi dengan seksama dari kejauhan. Dia juga tak lagi meminta foto dari pria tersebut tetapi melakukan video call untuk melihat langsung karena yang dia dengar pria tersebut adalah kenalan Citra
Ervan terus memperhatikan percakapan mereka sampai saat pria tersebut menyatakan ingin bertanggung jawab terhadap Citra dan anak mereka, Ervan pun langsung membuang ponselnya ke sembarang arah dengan sangat kuat. Dia merasakan sesak pada dadanya saat mendengar itu semua
"Apa dia sekarang akan benar-benar pergi?"
Ervan pun mencoba mengatur napasnya terlebih dahulu, tanpa dia sadari dia sudah terbakar oleh yang namanya rasa cemburu. Ervan pun langsung mencari ponselnya untuk menghubungi istrinya, tapi apa daya karena ponselnya sudah tak berbentuk lagi
"Kenapa saya bisa ngerasa kesal begini ya?"
Hari itu Ervan benar-benar di buat tak tenang karena tak mengetahui jawaban dari istrinya, saat pulang kantor tiba Ervan segera kembali ke kediamannya
Ervan pun segera mencari keberadaan Citra dengan cara senatural mungkin, karena sudah menjadi kebiasaan Citra akan selalu bercerita tentang semua hal yang baru saja dia lakukan. Tanpa harus menunggu Ervan bertanya terlebih dahulu
Saat itu Citra sedang berada di dalam kamar dan mencoba beberapa pakaian yang baru saja dia beli, Citra sedang menghadap ke arah cermin memperhatikan gaun yang saat itu sudah berada di tubuhnya
Ervan masuk ke dalam kamar dan melihat ke arah Citra yang masih asik dengan semua yang sedang dia lakukan
"Udah pulang kak" tersenyum
"Iya"
"Mau aku buatin teh?"
"Nanti aja, aku mau mandi dulu"
"Iya kak"
Ervan pun tetap terdiam di tempat yang sama dengan perasaan bingung, karena dia yakin ada perubahan dalam sikap istrinya tersebut
"Kenapa kak?"
"Enggak"
Ervan pun segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan membersihkan diri, di sana di pun kembali teringat bahwa istri baru saja bertemu dengan pria yang hampir menjadi suaminya. Ervan merasakan dadanya kembali terasa sesak, tanpa tau apa arti dari semua itu
Setelah makan malam Ervan memilih untuk masuk ke ruang kerjanya dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, dan pada malam itu tidak ada secangkir teh yang setia menemani dirinya. Pada hari biasanya Citra akan selalu mengantarkan secangkir teh bila Ervan sedang berada di ruang kerja, walaupun Ervan tak meminta hal tersebut
Ervan pun masih mencoba berpikir positif bahwa saat itu mungkin istrinya merasa lelah setelah menemani Sekar berbelanja, dia pun akhirnya memilih untuk menguji Citra sekali lagi dengan cara tidur di ruang kerja
Karena dari awal pernikahan mereka Citra tidak pernah tertidur sebelum Ervan kembali ke dalam kamar, dan bila dia tertidur di ruang kerja maka Citra akan meminta dia untuk pindah ke dalam kamar
__ADS_1
Sedangkan di seberang sana Sekar sedang menceritakan semua kejadian tadi siang kepada Nino, dia berencana untuk membuat Ervan tersadar akan perasaannya sendiri. Nino pun tak punya niat untuk melarang Sekar melakukan itu semua, karena Nino pun berpikir sudah saatnya Ervan untuk berubah