
Ervan segera menemui Nino dan melaporkan bahwa dari rekaman cctv Sekar tidak terlihat keluar dari dalam kamar, Nino pun berteriak memanggil nama Sekar sekuat tenaga lalu terduduk lemas di lantai di lantai sambil mengeluarkan air mata
Sekar yang mendengar kegaduhan dari luar pun keluar dari dalam kamar dan terkejut melihat Nino sudah terduduk di lantai
"Kamu kenapa kak?" khawatir
Nino pun langsung bangkit dan menatap Sekar dengan mata yang sudah sudah merah, dia langsung menghampiri Sekar dan memeluk tubuhnya dengan erat. Nino terlihat seperti seorang anak kecil yang baru saja menemukan barang berharga miliknya
"Aku pikir kamu pergi tinggalin aku," dengan suara yang pelan
"Aku janji aku ga akan pernah tinggalin kamu kak"
Nino mulai melepaskan pelukannya dan membawa Sekar kembali ke dalam kamar, Ervan pun langsung meminta pelayan menyiapkan sarapan untuk Sekar dan Nino. Ervan berencana untuk mengantarkan sendiri sarapan mereka
Tok..Tok..Tok..
"Masuk"
Ervan masuk ke dalam kamar tersebut dengan menu sarapan untuk mereka berdua, Ervan melihat Nino yang tak membiarkan Sekar bergerak sama sekali dengan terus menggenggam tangan Sekar. Ervan merasakan tatapan mata Nino seperti kosong
"Maaf pak saya mau antar sarapan untuk bapak dan ibu Sekar," meletakkan menu sarapan di atas meja
"Hem..."
"Tapi apa ga sebaiknya bapak mandi dulu sebelum sarapan?"
"Ga saya ga mau mandi, nanti kalo saya mandi pasti Sekar hilang lagi"
"Saya yakin ibu Sekar akan ga nyaman kalo keadaan bapak seperti ini"
Ervan menatap Sekar seolah mengatakan kepada dirinya agar meminta Nino membersihkan diri, sedangkan Nino menundukkan kepalanya
"Apa kamu ga akan pergi kalo aku mandi?"
"Aku janji kak, aku tungguin kak Nino di sini"
Dengan berat hati Nino pun melepaskan tangan Sekar dan mulai masuk ke dalam kamar mandi, setelah Nino masuk ke dalam kamar mandi Ervan langsung memulai pembicaraan
"Sebelumnya saya mau memohon maaf atas kelalaian saya menjaga ibu Sekar kemarin"
"Saya ga mau bahas itu semua yang udah terjadi ga akan bisa kita ubah, sekarang saya mau bahas tentang kak Nino"
"Ya bu, saya juga ke sini mau membahas tentang pak Nino. Saya merasa ada yang aneh dengan pak Nino"
"Dari semalam dia bersikap gitu"
"Apa semalam ada kejadian yang saya tidak ketahui bu?"
"Semalam saya minta kak Nino lepasin saya dan biarkan saya pergi"
__ADS_1
Ervan tampak terdiam sejenak lalu membuang napasnya dengan kasar
"Saya mengerti sekarang bu, secepatnya saya akan mencarikan dokter untuk pak Nino"
"Maksud kamu?"
"Saya rasa pak Nino mengalami depresi, dari awal pak Nino sudah merasa dirinya gagal menjaga ibu dan hal yang paling dia takutkan adalah ibu pergi tinggalin dia. Jadi saat ibu mengatakan itu saya yakin itu menjadi pukulan yang berat bagi pak Nino"
"Ya Tuhan aku pikir aku orang yang terpukul saat ini, ternyata kak Nino jauh lebih terpukul. Dan semalam aku menambahkan rasa sakit dia"
"Tolong cari dokter yang terbaik untuk kak Nino"
"Saya pasti akan lakukan yang terbaik untuk pak Nino"
"Apa saya bisa minta tolong sesuatu ke kamu?" menatap serius ke arah Ervan
"Ibu ada perlu apa?"
"Saya minta kamu kabarin ke semua orang, kalo saya sedang bulan madu dengan kak Nino"
"Saya tau kamu perempuan yang hebat, tapi saya ga menyangka kamu sahebat ini"
"Baik bu saya mengerti"
"Terima kasih"
"Kak Nino itu sekarang sudah menjadi suami saya, jadi tanpa kamu minta saya akan lakukan itu," dengan yakin
"Terima kasih bu" Sekar hanya membalas dengan senyuman
Ervan pun meninggalkan kamar Nino dengan perasaan tenang karena wanita pilihan Nino adalah wanita yang tepat
Nino yang sudah menyelesaikan segala urusannya di dalam kamar mandi segera bergegas keluar, baru saja membuka pintu dia sudah berteriak memanggil nama Sekar
"Aku di sini kok kak," tersenyum
Nino langsung menghampiri Sekar dan mencium ujung kepala Sekar
"Terima kasih ya kamu masih ada di sini"
"Maafin aku ya kak, semalam hati kak Nino pasti sakit dengar ucapan aku"
"Sini kak duduk di sebelah aku," menepuk tempat yang kosong di sebelahnya
Nino bak seorang anak kecil yang menurut dengan semua ucapan Sekar
"Kita sarapan dulu ya"
"Apa boleh aku suapin kamu?"
__ADS_1
"Terus gimana kak Nino makannya?" menatap serius
"Aku bisa makan sehabis kamu makan"
"Sumpah kak kamu kayak anak kecil," tersenyum tipis
"Aku ga mau jadi istri durhaka, masa aku kenyang tapi kak Nino lapar. Kita makan bareng ya, suami istri harus makan bareng kak"
Sekar dapat melihat wajah Nino saat itu melukiskan tanda kekecewaan, Sekar langsung memegang kedua pipi Nino dam menatap mata Nino lebih dalam
"Aku tau kak Nino cinta sama aku, aku juga sama kak. Tapi pernikahan bukan cuma tentang berkorban tapi juga harus saling melengkapi"
"Maaf," menundukkan kepalanya
Sekar menarik wajah Nino dan mencium bibir Nino dengan lembut, saat Sekar melepaskan ciumannya dia melihat Nino yang sedang terkejut dengan mata yang membulat dengan sempurna
"Kenapa begitu mukanya? kamu kan suami aku, masa aku ga boleh cium bibir suami aku sendiri sih?"
"Boleh.. Kamu boleh cium aku kok," panik
"Ya udah kita makan bareng ya"
Tanpa memberikan protes Nino langsung menyambar piring miliknya dan mulai memakan sarapan yang telah di sediakan
"Ternyata perasaan kamu buat aku besar banget ya kak, aku cuma bisa bilang terima kasih karena kak Nino mencintai aku dengan tulus"
Seharian penuh Nino tak mengizinkan Sekar untuk keluar dari kamar, dan tak sedetik pun Nino melepaskan pandangannya dari Sekar. Sedangkan di ruang kerja Nino Ervan sedang menerima sebuah panggilan telpon
"Ya"
"Orang yang bernama Damar adalah kenalan dari Viona pak, sebelum kejadian Damar sempat mengunjungi Viona di penjara pak"
"Perempuan itu lagi, apa dia masih belum kapok juga?" mengepalkan tangannya
"Ada info apa lagi?"
"Damar anak seorang pengusaha di kota yang sama dengan Viona pak, mereka sudah berteman sejak lama"
"Jadi masih ada kemungkinan perempuan itu terlibat"
"Ok, saya sendiri yang akan temui perempuan itu. Saya mau kalian cari Damar sampai ketemu"
"Baik pak" Ervan langsung memutuskan sambungan teleponnya
Para dokter terbaik sudah di datangkan ke kediamannya Nino, awalnya Nino bersikeras tidak mau menemui mereka. Tetapi Sekar kembali membujuk Nino dan akhirnya Nino mau menemui mereka dengan syarat Sekar juga berada di sana
Setelah melakukan berbagai tes para dokter menyimpulkan bahwa Nino mengalami depresi, dan mengakibatkan dirinya merasa takut kehilangan yang berlebihan
Pihak dokter sudah menyiapkan obat dan jadwal terapi untuk Nino, pihak dokter juga telah mengatur beberapa menu makanan yang baik untuk Nino konsumsi. Serta menganjurkan Nino agar keluar dan melakukan olahraga ringan, dan yang terpenting adalah Nino harus bisa mendapatkan kepercayaan bahwa itu semua hanya ada di dalam pikirannya
__ADS_1