Kisah Cinta Sang Gadis Desa

Kisah Cinta Sang Gadis Desa
Masa Lalu Nino 2


__ADS_3

Papanya benar-benar merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan dengan Nino pada saat itu, dan sang wanita penggoda sudah pasti merasakan apa yang sedang di rasakan oleh pria yang kini telah menjadi suaminya tersebut. Dengan seribu cara dia membujuk suaminya tersebut agar mau pulang ke kediaman mereka


Papanya Nino pergi meninggalkan rumah mewah tersebut dengan perasaan bersalah yang teramat dalam, dia sudah berusaha mengutuk pintu kamar Nino dan hasilnya pun hanyalah sia-sia. Jangan kan membuka pintu kamarnya bahkan menjawab panggilan dari papanya pun Nino tak mau melakukannya


Ervan yang mengetahui segala kejadian di rumah mewah itu bisa merasakan apa yang kini di sedang di rasakan oleh Nino, karena perasaannya tak tenang Ervan memutuskan untuk berjaga tak jauh dari kamar Nino. Dan setelah melewati tengah malam Nino keluar dari dalam kamarnya dan menuju ke lantai atas tempat para pekerja menjemur pakaian


Dengan perlahan Ervan terus mengikuti Nino entah firasat dari mana Ervan yakin Nino akan melakukan hal yang di luar dugaan, karena Ervan yakin Nino hanyalah seorang anak kecil yang polos yang baru saja kehilangan orang yang sangat penting dalam hidupnya. Dan hari ini sang papa menambahkan luka di dalam hatinya


Nino kini berada di lantai paling atas rumah mewah tersebut dan dia sudah berada di ujung lantai tersebut, Nino mulai menatap ke arah bawah "Maafin Nino ya mah Nino ga bisa pegang janji Nino, Nino cuma mau nyusul mamah" lirih, Nino mulai naik ke pembatas lantai tersebut dan menutup ke dua bola matanya lalu merentangkan kedua tangannya seolah dia ingin melepaskan segala beban yang ada di pundaknya saat itu


Ervan berlari dengan sangat kencang dan menarik tangan Nino dengan kuat hingga Nino pun terjatuh dengan posisi terduduk, melihat usaha yang dia lakukan di gagalkan oleh Ervan emosi Nino terbakar


"Dasar anak supir kurang ajar, berani banget kamu..!!" Ervan hanya terdiam dan tersenyum meledek, melihat hal tersebut Nino bangkit dan menghampiri Ervan lalu menampar pipi Ervan dengan sekuat tenaga yang dia punya. Ervan hanya memegang pipinya yang terasa cukup ngilu


"Kamu ga punya hak ikut campur urusan aku..!!"


"Dasar laki-laki lemah" sinis


"Apa hak kamu ngomong itu ke aku?!!"


Ervan berjalan menjauh dan menyenderkan dirinya ke dinding sambil melipat kedua tangannya ke depan dada


"Loncat aja sekarang saya ga akan larang lagi" Nino hanya membeku melihat tingkah Ervan yang seperti itu, karena selama ini Ervan tak pernah menunjukkan sikap seperti itu di hadapannya


"Tapi satu hal yang harus kamu inget, apa kalo kamu lakuin itu mama kamu akan bahagia di sana?"

__ADS_1


Ucapan dari Ervan membuat Nino seketika merasa bersalah dan menundukkan kepalanya, dan akhirnya air mata Nino kembali terjatuh ketika mengingat kembali semua kenangan manis dengan mamanya dan senyuman khas mamanya


Ervan yang hanya berselisih beberapa tahun dari Nino tetapi pada saat itu Ervan hanya melihat Nino sebagai seorang anak seorang kecil yang sedang rapuh, Ervan mulai berjalan dan mendekati Nino hal yang belum pernah Ervan lakukan sebelumnya kini dia lakukan ke Nino, Ervan memegang ujung kepala Nino dengan lembut


"Kamu boleh nangis sepuasnya, tapi habis ini kamu harus bangkit dan menjalankan sisa hidup kamu dengan baik. Jangan lakukan hal bodoh yang akan membuat nyonya jadi kecewa sama kamu" dengan lembut, Nino jatuh terduduk karena sentuhan lembut dari Ervan sama seperti mamanya dan Nino pun bisa menumpahkan segala air mata yang selama ini dia tahan


"Saya janji mulai detik ini saya akan jaga kamu sepenuh hati, saya akan jadikan kamu nomor satu di hidup saya. Saya akan jaga kamu seumur hidup saya"


Nino menangis dengan hebat cukup lama di. hadapan Ervan, sedangkan Ervan hanya duduk di samping Nino tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya segala beban yang ada di hati Nino saat itu seperti sudah berkurang dan dia pun merasa dapat bernapas dengan lega


"Udah lebih enak? ayo masuk udah malam" Nino hanya menjawab dengan anggukan kepalanya dan bangkit dari duduknya


"Makasih ya"


"Apa malam ini kamu bisa tidur di kamar aku?" Ervan memutar tubuhnya, dan menatap Nino dengan senyuman meledek


"Apa boleh saya tidur di kamar kamu? saya kan cuma anak supir"


"Maaf masalah tadi, maaf juga saya udah pukul kamu. Tadi saya cuma..."


"Udah ayo masuk udah malem dingin ini, tapi saya tidurnya ngorok ga masalah kan?"


Dan ikatan hati antara ke dua pria itu pun terjalin semakin dekat semakin hari, setelah kepergian mamanya Nino mendapatkan perhatian khusus baik dari keluarga besar Erlangga atau pun keluarga sang mama. Nino memutuskan untuk tidak tinggal dengan siapapun dia ingin tetap tinggal di rumah yang penuh kenangan dia dan mamanya


Nino tetap meminta pihak keluarga besar mamanya melanjutkan apa yang telah mamanya lakukan dengan menanggung semua biaya pendidikan Ervan, bahkan setelah lulus SMA Ervan. mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri dan mengambil S2 dan keluarga besar dari mamanya Nino masih terus membiayai kebutuhan Ervan hingga Ervan lulus, dan kembali lalu mulai membantu Nino menjalankan perusahaan yang di wariskan ke pada dirinya

__ADS_1


Ervan memutuskan untuk kuliah negeri dan meninggalkan keluarga serata Nino untuk menjadi orang yang bisa berguna bagi Nino di kemudian hari, sehingga dia bisa terus melindungi Nino ke depannya


Nino mendapatkan warisan baik dari pihak mamanya ataupun keluarga Erlangga, kakeknya dari keluarga Erlangga memberikan Nino warisan karena Nino adalah cucu laki-laki pertama dari keluarga Erlangga. Dan kakeknya sangat menyayangi Nino dan kakeknya menyesali apa yang anaknya telah perbuat


Di bawah tangan dinginnya Nino dan kepintaran dari Ervan mereka kini menjadi dua momok yang sangat di pandang di lingkungan para pengusaha


FLASH OFF


Nino yang sudah bisa mengatur napasnya dan detak jantungnya pun keluar dari ruang istirahatnya dan melihat Sekar yang sedang serius membaca buku, Nino memutuskan untuk duduk tepat di samping Sekar


"Ekh pak.. Mau saya buatkan teh yang baru?"


"Ga perlu kok, apa saya boleh pinjam pundak kamu?"


"Apa pak Nino mau nangis lagi?" boleh pak" dengan polosnya Sekar memutar tubuhnya dan memberikan pundaknya


Nino hanya tersenyum melihat itu, Nino memutar kembali tubuh Sekar dan menatap mata Sekar dengan dalam "Saya pinjam pundak kamu bukan punggung kamu" dengan lembut dan senyuman


"Akh.. Sumpah ganteng banget" merona


Nino menempelkan tubuh Sekar ke sofa dan Nino menaruh kepalanya di pundak Sekar


"Aduh pak Nino mau ngapain sih? ini jantung kenapa sih? masa begini aja jadi deg-degan"


Karena perasaan yang nyaman Nino pun tertidur dengan pulas di pundak Sekar

__ADS_1


__ADS_2