
Rendi masih belum menyadari bahwa Sekar sudah mulai merasa tak nyaman di tempat itu, mereka pun kini sudah duduk di meja yang di sediakan untuk mereka di tengah keluarga kecil Rendi
Sedangkan dari kejauhan ada sepasang mata yang terus memperhatikan Sekar semenjak Sekar memakai jas Nino, orang tersebut tak lain adalah papanya Nino
"Jadi ini perempuan itu, aku akuin dia perempuan yang sangat cantik. Tapi cantik aja ga akan cukup untuk memiliki anak laki-laki saya satu-satunya. Karena yang namanya cinta bisa menghilang sedikit demi sedikit dengan berjalannya waktu, dan saya ga akan ijinkan anak saya mengalami apa yang sudah saya alami"
Sedangkan Nino sesekali mencuri pandang ke arah Sekar, hatinya pun semakin kesal setelah menyaksikan ada beberapa pria yang memandang kagum ke arah Sekar. Ervan yang menyadari hal tersebut langsung mengirimkan Rendi sebuah pesan
"Dasar bodoh"
"Maksudnya?"
"Kenapa kamu buat penampilan Sekar seperti itu? apa kamu ga bisa lihat kalo Nino kesal melihat banyak laki-laki yang memandang ke arah Sekar"
"Kalian aja berdua yang udah ketinggalan jaman, yang penting Sekar keliatan istimewa hari ini. Buktinya kak Nino sampe ga berkutik, jangan lupa rencana terakhir kita" Ervan memilih untuk mengabaikan pesan terakhir yang di kirim oleh Rendi
Ternyata saat pertemuan Ervan dan Rendi sebelumnya mereka sudah menyusun rencana, Rendi akan meminta Sekar untuk datang ke pesta itu bersama dirinya. Rendi juga akan merubah penampilan Sekar pada malam itu agar Nino berani untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Sekar
Bila masih tidak berhasil mereka akan menyusun rencana seolah Rendi akan menyatakan perasaan terhadap Sekar tepat di hadapan Nino, jika masih juga tak berhasil maka Rendi akan menyerah untuk menyatukan Sekar dan Nino
Sekar benar-benar sudah merasa tak nyaman di tempat itu karena matanya ingin selalu menetap ke arah Nino tetapi hatinya benar-benar sakit mengingat ucapan dari Nino, dia masih mencoba bertahan karena acara baru saja di mulai
Nino pun di panggil ke atas panggung untuk mengucapkan sepatah dua patah kata sambutan, setelah Nino turun dari panggung Sekar memutuskan untuk keluar dari gedung tersebut dan mencari udara segar. Sudah pasti Rendi akan mengikuti keinginan Sekar karena dia pun harus melancarkan serangan terakhir
Kini Sekar dan Rendi sudah berada di taman kecil di area gedung tersebut, sedangkan Nino yang baru saja turun dari panggung sempat melihat Sekar dan Rendi ke arah pintu keluar. Nino menunggu cukup lama tetapi mereka tetap tak kembali ke meja mereka
"Apa dia udah pulang?" berbisik
"Sepertinya belum pak"
"Tapi tadi saya liat dia keluar sampe sekarang masih belum balik juga"
"Tadi saya sempat dengar katanya mereka ada di taman depan pak"
"Mau ngapain mereka berduaan di sana? atau jangan-jangan sekarang Rendi lagi menyatakan cinta"
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu Nino segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar gedung tersebut, Ervan mengekor dari belakang sambil mengirimkan sebuah pesan kepada Rendi bahwa Nino sedang menuju ke tempat mereka
Sekar terduduk lemas di taman itu sambil menundukkan kepalanya, sinar matanya memancarkan sebuah kekecewaan. Sedangkan Rendi yang baru saja membaca pesan dari Ervan harus segera melakukan rencana terakhir yang dia punya
"Kamu kenapa?"
"Aku ga apa kok kak, kita masuk lagi yuk," tersenyum getir dan mulai bangkit dari duduknya, dengan cepat Rendi langsung menarik tangan Sekar agar kembali duduk
"Ga usah kita di sini aja"
"Tapi kak ga enak kalo kita pergi dari acara itu kelamaan"
"Sekarang ada hal penting yang harus aku omongin sama kamu"
"Ada apa ya kak?"
"Apa menurut kamu aku ini orang baik?"
"Iya pasti dong kak Rendi itu baik"
"Kalo gitu apa bisa hubungan kita jadi lebih dari sekedar teman?"
"Mulai detik ini aku mau jaga kamu sebagai seorang kakak"
"Maaf kak aku ga bisa karena aku suka sama orang lain" menjawab dengan cepat tanpa memperhatikan terlebih dahulu ucapan dari Rendi
"Jadi kamu pikir aku mau nembak kamu ya?" tersenyum
Blush.. Dalam sekejap wajah Sekar menjadi merah merona dia pun tak lagi bisa menutupi rasa malu yang kini bersarang di dalam hatinya, Rendi sudah melihat Nino dan Ervan dari kejauhan sedang berjalan dengan cepat ke arah mereka. Rendi pun segera berlutut di hadapan Sekar
"Aneh banget sih kak Rendi kayak lagi menyatakan cinta aja pake berlutut segala"
"Aku udah sampe berlutut loh di hadapan kamu, masa cuma anggap aku sebagai kakak aja kamu ga mau terima," tersenyum
"Tapi ga usah berlutut segala kak, nanti kalo ada yang liat jadi salah paham"
__ADS_1
"Ya udah sekarang kamu jawab dulu kamu mau terima aku ga Sekar?"
Posisi Nino sudah berada tepat di belakang Sekar pada saat itu
"Ya kak aku terima"
Rendi langsung berdiri dan memeluk tubuh Sekar dengan sangat lembut, sedangkan Nino langsung pergi dari tempat itu tanpa tau kejadian yang sebenernya. Dia hanya melihat Rendi yang berlutut di hadapan Sekar secara samar Nino mendengar bahwa Sekar menerima lalu Rendi memeluk Sekar
"Kak maaf kak, tapi kak Rendi kenapa pake acara peluk aku segala sih?" dengan polosnya
"Supaya akting aku lebih meyakinkan dong, walaupun dia masih begitu tapi sekarang aku tetap bisa jaga kamu sebagai seorang kakak"
"Sorry abis aku seneng banget sekarang aku punya adek yang baik, lagian kan sekarang kamu adek aku jadi ga apa dong sesekali kakak peluk adek sendiri" melepaskan pelukannya dan memberikan senyuman yang tulus
"Sebenernya aku juga suka sama kamu Sekar, tapi untuk kak Nino aku rela kok. Kak Nino si gunung es itu baru bisa berubah semenjak ada kamu"
"Ya udah kita masuk lagi yuk ke dalam sebentar, abis itu aku antar kamu pulang"
"Iya kak"
Dengan polosnya Sekar sama sekali tidak menyadari dengan apa yang sedang terjadi, tetapi ucapan Rendi bisa mengobati sedikit rasa sakit hatinya saat itu. Mereka pun kembali masuk ke dalam gedung tersebut dengan wajah Sekar yang sudah kembali tersenyum
"Apa sebahagia itu kamu jadian sama Rendi?"
Sekar dan Rendi pun kembali ke meja mereka, Rendi juga mengenalkan Sekar kepada beberapa anggota keluarga yang lain sebagai perempuan yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri
Setelah merasa cukup puas berada di tempat itu Rendi pun mengajak Sekar untuk meninggalkan pesta tersebut, dan sebelum mereka pergi Sekar memutuskan untuk menemui Nino terlebih dahulu untuk mengembalikan jas yang dia pakai. Sudah pasti Rendi pun ikut menemani Sekar agar sandiwara yang sedang dia mainkan terlihat semakin sempurna
"Kak aku sama Sekar mau cabut duluan ya"
Nino yang sedang berbincang dengan beberapa relasinya pun meninggalkan orang-orang tersebut, dan fokus terhadap Rendi yang sedang berpamitan. Walaupun dengan tatapan malas dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sekar
"Hem.."
"Maaf pak saya mau kembalikan jas bapak"
__ADS_1
"Buat kamu aja, kamu buang juga ga masalah," dengan dingin dan tanpa menoleh sama sekali
"Kenapa pak Nino jadi begini sama aku ya? apa karena baju aku?" menundukkan kepalanya