
Sedangkan papanya Nino sudah berada di ruang kerjanya dan sedang menerima telepon dari sahabatnya yang tak lain adalah papanya Viona
"Maaf aku cuma bisa bantu sampe sini"
"Kenapa Nino sampe jeblosin Vio ke penjara? bukannya kita mau jodohin mereka. Vio sampe rela pergi ke sana supaya bisa deket sama dia"
"Tapi Vio sudah melakukan tindakan kriminal yang membahayakan nyawa orang lain"
"Ga mungkin Vio melakukan itu semua tanpa alasan, lagi pula kenapa ga kita omongin dulu semuanya baik-baik?"
"Sekali lagi aku minta maaf, Nino lakuin itu karena Vio membahayakan nyawa kekasihnya"
"Maksud kamu Nino berpaling dari Vio,dia kan udah tau kalo kita mau jodohin mereka. Belum nikah aja kelakuannya udah begitu, Vio itu cantik dan hebat di segala bidang banyak laki-laki di luar sana yang mengharapkan Vio hadi istrinya. Kenapa Nino ga bersyukur dapat Vio?"
"Tolong jangan sudutkan Nino terus, mau bagaimana pun juga Nino itu anak saya"
"Coba kamu pikir apa kurangnya Vio? saya yakin perempuannya Nino ada di samping Nino saat ini cuma perempuan biasa. Berarti Nino yang bodoh jadi laki-laki" terdengar nada mengejek
"Saya ngerti perasaan kamu tapi dari jauh hari saya sudah peringatkan Vio untuk ga lakukan hal yang ceroboh, lagi pula perjodohan ini dari awal belum di terima sama Nino. Jangan kamu buat seolah anak saya laki-laki bajingan"
Walaupun Nino dan papanya memiliki dinding pemisah di antara hubungan mereka berdua, tetap saja orang tua mana yang akan terima bila anaknya terus di pojokan
"Tetap aja buah jatuh ga akan jauh dari pohonnya" sinis
"Terserah kamu mau berpikir bagaimana? yang pasti saya sudah berusaha menyelamatkan Vio. Dan karena menurut kamu anak saya bukan orang baik, kita ga perlu bahas lagi masalah perjodohan mereka"
Hanya terdengar suara berdecih dari seberang sana
"Oh ya saya lupa bilang ke kamu, orang yang berhasil membujuk Nino untuk lepasin Vio bukan saya, tapi perempuan biasa yang sudah di pilih Nino untuk dampingi hidup dia" langsung memutuskan sambungan teleponnya
"Harusnya kamu bersyukur setelah anak itu tau semuanya dia milih untuk halangi tindakan Nino, anak itu udah selamatkan nyawa anak kamu. Walaupun hubungan kami selama ini kurang baik tapi aku selalu tau perkembangan tentang Nino, dan aku tau Nino hanya seorang pebisnis Ervan yang akan selalu menyelesaikan bagian yang kotor. Tapi karena ulah anak kamu sekali ini mau beresin sendiri"
Orang di seberang sana tampak geram dengan ucapan sang tuan besar Pratama, dia pun langsung melempar ponselnya ke sembarang arah dengan sekuat tenaga
Tok..Tok..Tok..
__ADS_1
"Masuk"
"Pah"
"Gimana keadaan mama kamu?"
"Mama kayaknya terpukul pah, aku udah suruh Dhina yang temenin mama di rumah. Sekarang kita mau gimana pah?"
"Papa udah pesan tiket malam ini papa akan berangkat ke sana, papa harus secepatnya ketemu adik kamu. Papa yakin sekarang dia lagi sedih"
"Kalo gitu aku ikut pah, aku juga mau liat keadaan Vio"
"Ya udah kamu prepare Jo, abis ini papa juga pulang"
"Ya pah" langsung meninggalkan ruangan tersebut
Jonathan atau biasa di sapa Jo adalah kakak laki-laki dari Viona, keluarga tersebut hanya memiliki dua orang anak Jonathan dan Viona. Jonathan di didik dengan sangat ketat dari kecil untuk menjadi sang penerus, sedangkan sudah pasti Viona akan menjadi sang putri manja di keluarga tersebut
Jo pergi ke kediaman orang tuanya untuk menjemput istrinya dan dia pun langsung kembali ke kediamannya untuk menyiapkan segala keperluan melakukan perjalanan, dan tak selang berapa lama Jo pergi papanya pun tiba di rumah mewah tersebut
"Mah.."
Istrinya mulai bangkit dan mendudukkan dirinya sambil menatap sendu ke arah suaminya dan air mata pun terus menghiasi matanya
"Vio gimana pah?"
Tuan Ricard langsung memeluk tubuh istrinya seolah dia mencoba memberikan kekuatan terhadap istrinya yang sedang merasa terpukul
"Kamu tenang dulu ya, nanti malam papa sama Jo langsung berangkat ke sana"
"Mama ga Vio di penjara pah" dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan
"Papa pasti akan lakukan yang terbaik mah untuk Vio"
"Mama ikut pah, mama juga mau liat keadaan Vio"
__ADS_1
"Sebaiknya mama di sini aja, tunggu kabar dari papa aja"
"Tapi pah.."
"Coba mama liat keadaan mama sekarang, kalo mama di sana nanti yang ada Vio semakin sedih. Mama tenang aja papa pasti akan berusaha bebasin Vio dari sana, papa juga ga akan diam aja dengan perlakuan Nino ini"
Sang istri menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya dan menangis hebat di dalam pelukannya
"Saya ga perduli walaupun kamu anak dari sahabat lama saya, saya akan buat kamu menangis seperti istri saya saat ini. Saya akan buat kamu merasakan yang namanya sakit hati"
Kini Jonathan dan papanya pun segera bergegas bertemu di bandara, mereka melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk bisa menemui Viona sang putri di keluarga mereka
Sedangkan di tempat yang berbeda terlihat Ervan sedang berpikir, karena dia baru saja mendapatkan laporan bahwa keluaran dari Viona datang ke kota itu. Ervan pun akhirnya memerintahkan untuk memperketat penjagaan bagi Nino dan Sekar, dia hanya tak mau ada kejadian yang kedua kali
Bila dulu Ervan hanya perduli tentang Nino kini jalan pikirannya sudah berubah total, karena dia juga harus memikirkan tentang Sekar. Dia tak mau melihat Nino terpuruk seperti waktu Sekar mengalami kecelakaan, dia tak mau Nino terluka atau mengotori tangannya
"Saya ga boleh sampe kecolongan lagi seperti kemarin, saya yakin pasti mereka akan melakukan sesuatu untuk membalas ini semua. Walaupun mereka pasti tau bahwa anaknya memang bersalah"
Saat tiba di kota itu Jonathan dan papanya langsung pergi mencari penginapan dan menaruh seluruh barang bawaan mereka, mereka pun beristirahat sejenak dan membersihkan diri. Lalu mereka segera menuju ke tempat di mana putri kesayangan keluarga mereka di tahan
Mereka bertiga sudah duduk saling berhadapan sang papa memilih untuk pindah ke sebelah Viona, sedangkan Viona langsung meneteskan air mata saat melihat kedatangan keluarganya
"Gimana kabar kamu sayang?" memeluk tubuh Viona
"Pah Vio ga mau di sini, papa harus keluarin Vio dari sini pah"
"Papa pasti cari cara buat keluarin kamu dari sini sayang, kamu tenang dulu ya"
"Vio takut pah"
"Kamu ga usah takut papa ada di sini sampai urusan kamu selesai"
Viona menggelengkan kepalanya seolah dia mengatakan bahwa bukan berada di dalam penjara yang dia takutin saat ini
"Terus kamu takut kenapa sayang?" menatap serius
__ADS_1
Viona pun hanya bisa menangis dengan hebat di dalam pelukan sang papa, tuan Ricard membiarkan Viona melepaskan semua beban yang ada di dalam hatinya terlebih dahulu sebelum dia melanjutkan pertanyaannya