
Nino dan Ervan sudah berada tepat di hadapan pemimpin keluarga Erlangga yang tak lain adalah papanya Nino
"Apa kalian yakin?" memasang wajah cemas
"Ya pak, orang tersebut menyebutkan nama itu"
"Apa benar dia adik aku sendiri?"
"Ya" menundukkan kepalanya
"Tapi kenapa dia lakuin itu ke aku? aku ga pernah sekali pun mengganggu kalian semenjak kepergian mama!!"
"Maaf ini semua salah papa" lirih
Ervan yang sedang sedikit terbakar emosi menyela percakapan Nino dan papanya
"Maaf saya ga mau tau tentang masalah keluarga kalian, saya cuma mau membalas perbuat anak itu" dengan tegas
Nino dan papanya langsung terdiam dan melihat ke arah Ervan yang sudah mengeluarkan aura dingin yang dapat membunuh orang di sekitarnya
"Maaf Van bukan saya berniat melindungi anak itu, tapi saya benar-benar ga tau tentang anak itu"
"Van istri saya juga ada di tangan anak itu, jadi saya ga mungkin diam aja. Sekarang kita harus berpikir jernih supaya cepat menemukan anak itu"
Ervan pun memejamkan matanya menahan segala amarah yang membakar hatinya, ingin sekali rasanya dia menghabisi siapa saja yang ada di dekatnya untuk melampiaskan amarahnya
"Saya pasti balas rasa sakit kamu Van, karena saya sudah anggap kamu seperti saudara saya sendiri"
Ervan memandang ke arah Nino dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"Saya tau pasti sekarang masa yang sulit untuk kamu Van, tapi kamu harus kuat karena kamu adalah pelindung saya"
"Sekarang tolong ceritain semua tentang anak itu yang bapak ketahui, walaupun bapak ga melihat saya setidaknya bapak harus tau kalo menantu bapak ada di tangan anak itu"
Papanya Nino pun mulai menceritakan masa lalunya, anak tersebut lahir setelah pernikahan dia dan istri keduanya berumur dua tahun. Lambat laun papanya Nino mulai mengetahui sifat asli istrinya, bahkan dia mendengar dengan telinganya sendiri secara tidak sengaja tentang kejadian pada malam dia memukul Nino dari mulut istrinya sendiri
__ADS_1
Pernikahan mereka sering di isi dengan pertengkaran karena masalah tersebut dan hal sepele lainya, anak tersebut benar-benar tidak mendapatkan perhatian penuh dari papanya Nino. Hingga anak tersebut menjelang umur enam tahun papanya Nino memutuskan untuk bercerai
Sang istri pergi dengan membawa anak mereka, sedangkan papanya Nino hanya diam karena anak itu pun menginginkan hal tersebut. Tak ingin melakukan kesalahan yang sama papanya Nino mencari keberadaan anak tersebut, tetapi anak tersebut menghilang tanpa jejak
Hanya terdengar kabar bahwa mantan istrinya meninggal dunia dan sempat mengalami gangguan jiwa, akhirnya dia melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Yaitu menelantarkan darah dagingnya sendiri
"Dari sekarang saya minta izin kepada kalian untuk membalas anak itu dengan cara saya, tolong jangan halangi apapun yang akan saya lakukan"
Papanya Nino langsung memasang wajah khawatir bagaimana pun juga anak itu adalah darah dagingnya sendiri, dia tau dengan pasti Ervan terkenal sebagai tangan iblis di antara para pengusaha. Sedangkan Nino hanya bisa terdiam karena mengerti perasaan Ervan pada saat itu
"Saya mohon Van, anak itu cuma salah jalan"
Ervan melepaskan senyuman yang sangat menakutkan
"Dengan dia melakukan hal ini dia sudah siap bertemu dengan saya yang dulu, saya hanya meminta izin dan saya tidak perduli kalian akan setuju atau tidak"
Nino dan papanya hanya bisa terdiam dengan tekanan yang Ervan berikan
Nino dan Ervan pergi dari tempat itu dan mereka pun langsung kembali ke kantor untuk menunggu kabar dari orang-orang yang telah mereka sebar, Nino sudah berusaha membujuk Ervan agar menemani istrinya di rumah sakit. Tetapi Ervan telah berjanji di dalam hatinya bahwa dia tidak akan menemui istrinya sebelum dia berhasil menemukan orang tersebut
"Kenapa?"
"Kamu kenapa ada di sini?"
"Saya lagi melihat keadaan kamu, apa kamu mimpi buruk?"
"Bau alkohol, apa orang ini lagi mabuk? sebaiknya aku ga pancing amarah dia saat ini"
"Ya saya mimpi tentang penculikan saya kemarin, dan saya khawatir tentang keadaan kak Citra"
"Ga perlu khawatir perempuan itu sudah baik-baik aja, walaupun belum sadarkan diri hingga saat ini"
"Berarti dia cari tau tentang keadaan kak Citra, apa benar dugaan aku kalo orang ini bukan orang jahat"
"Apa aku boleh keluar dari sini?"
__ADS_1
Ricardo menatap tajam ke arah Sekar
"Maksud aku keluar dari kamar ini untuk cari angin" dengan cepat
"Saya ga ikat kaki kamu, ga ada yang larang kamu keluar dari kamar ini"
"Berarti aku bisa cari kesempatan untuk keluar dari tempat ini" tersenyum
"Tapi jangan berharap bisa keluar dari tempat ini, kecuali kamu punya helikopter untuk membawa kamu keluar dari pulau ini"
"Dia bilang pulau? aku ga salah dengar kan?"
"Ayo aku ajak kamu ke atas biar kamu bisa tau kita ada di mana"
Ricardo mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar tersebut dan Sekar pun mengikuti dari belakang untuk memastikan dugaan nya, sesampainya di atas balkon tempat itu Sekar hanya bisa pasrah karena dia ternyata berada di sebuah pulau kecil yang berada di tengah-tengah lautan
"Ga mungkin kan aku berenang untuk kabur dari sini? coba nanti siang aku liat lagi apa ada kemungkinan aku keluar dari sini?"
"Sebenarnya kenapa kamu lakuin ini ke aku?"
"Untuk membalas papanya Nino"
Entah mengapa Sekar merasa ada kesedihan terselip di dalam kata-kata tersebut
"Kamu sebenarnya siapa?"
Tiba-tiba saja aura yang sedih yang di keluarkan oleh Ricardo menghilang dan terlihat kemarahan di wajahnya, pria tersebut yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol langsung menatap tajam ke arah Sekar dan mencekik leher Sekar
"Kenapa? kamu mau menghina saya karena saya hanya anak yang ga pernah di akui tidak seperti suami kamu itu!!"
"Lepasin saya.. Tolong lepasin saya" dengan suara yang tertahan dan mencoba memukul tangan Ricardo
Ricardo yang sedang gelap mata terus menguatkan cengkraman tangannya di leher Sekar dan secara perlahan pun Sekar mulai kehilangan kesadarannya, melihat Sekar yang mulai menutup matanya dan terjatuh lemas membuat kesadaran Ricardo kembali dengan sendirinya. Dengan cepat dia pun segera melepaskan tangannya dan mencoba menepuk pelan pipi Sekar
"Hei.. Bangun.. Maaf.. Aku..."
__ADS_1
Sekar tetap tak terbangun apapun yang Ricardo lakukan, dengan cepat dia pun segera mengangkat tubuh Sekar kembali ke dalam kamar